Kisah Kiai Wahab ‘Negosiasi’ dengan Malaikat Izrail Demi Muktamar NU
Ringkasan Berita:
- KH M Hasib Wahab mengungkap kisah spiritual KH Abdul Wahab Chasbullah menjelang wafat, termasuk peristiwa ‘verlengd’ saat sang pendiri NU seolah mendapat perpanjangan usia untuk menuntaskan amanahnya.
- Menjelang Muktamar ke-25 NU tahun 1971, KH Abdul Wahab Chasbullah yang sedang kritis kembali sehat dan hadir menyampaikan laporan pertanggungjawaban sebagai Rais Aam NU sebelum akhirnya wafat.
- Keluarga KH Abdul Wahab Chasbullah mengenang sosok ulama pejuang NU yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk umat, bangsa, dan perjuangan menjaga keutuhan NKRI.
Jombang (beritajatim.com) – Di balik sejarah panjang berdirinya Nahdlatul Ulama (NU), tersimpan banyak kisah tentang perjuangan, keteguhan, dan keteladanan para pendirinya.
Salah satu kisah yang hingga kini terus dikenang adalah cerita tentang detik-detik akhir kehidupan KH Abdul Wahab Chasbullah—ulama besar, penggerak NU, dan Pahlawan Nasional yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri untuk agama, bangsa, dan masyarakat.
Kisah itu kembali menggetarkan hati para hadirin ketika KH M Hasib Wahab, putra KH Abdul Wahab Chasbullah, menceritakan perjalanan hidup sang ayah dalam acara bedah buku KH Abdul Wahab Hasbullah Pendiri NU Penggerak NKRI karya Abdul Mun’im DZ, di Auditorium Universitas KH Wahab Hasbullah (Unwaha), Sabtu malam (15/8/2026).
Di antara begitu banyak cerita tentang perjuangan Mbah Wahab—mulai dari merintis berdirinya organisasi yang kemudian menjadi salah satu kekuatan terbesar umat Islam di Indonesia hingga kiprahnya menjaga keutuhan bangsa—ada satu kisah yang paling mencuri perhatian.
Sebuah kisah tentang pertemuan spiritual antara seorang kiai besar dengan malaikat pencabut nyawa, Izrail. Kisah itu terjadi menjelang Muktamar ke-25 NU di Surabaya tahun 1971.
Saat itu, kondisi kesehatan KH Abdul Wahab Chasbullah menurun drastis. Sang kiai sepuh bahkan berada dalam keadaan kritis. Di kamar kediamannya di Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas Jombang, Mbah Wahab hanya ditemani istrinya, Nyai Rohmah.
Matanya terpejam. Kedua tangannya telah bersedekap seperti seseorang yang sedang melaksanakan salat. Suasana rumah dipenuhi ketegangan. Keluarga besar Pesantren Bahrul Ulum berdatangan, membacakan doa, seakan bersiap menghadapi kehilangan seorang guru besar.
Namun, di tengah suasana haru itu, terjadi sesuatu yang mengejutkan. Tiba-tiba Mbah Wahab mengangkat tangannya seperti memberi tanda penolakan. Matanya yang sebelumnya terpejam mendadak terbuka.
“Gak sido-gak sido, aku verlengd. (Tidak jadi, tidak jadi. Aku diperpanjang),” ujar KH Hasib Wahab menirukan ucapan ayahnya saat itu. Kata verlengd merupakan bahasa Belanda yang berarti diperpanjang.
Menurut KH Hasib, ucapan tersebut menggambarkan seolah sang ayah mendapatkan perpanjangan waktu dari Allah untuk menyelesaikan tugasnya. Setelah kejadian itu, kondisi kesehatan KH Abdul Wahab Chasbullah berangsur membaik. Ia kembali bugar dan bahkan mampu menghadiri Muktamar ke-25 NU di Surabaya.
Bagi keluarga, peristiwa itu bukan sekadar cerita biasa. Mereka meyakini ada sebuah pesan besar di baliknya: perjuangan Mbah Wahab belum selesai, masih ada amanah yang harus dituntaskan.
Sebagai Rais Aam PBNU, Mbah Wahab hadir dalam muktamar tersebut untuk menyampaikan laporan pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Ia menjalankan kewajibannya hingga akhir, sebelum akhirnya berpamitan pulang ke Tambakberas.
Muktamar NU Surabaya
Muktamar ke-25 NU berlangsung pada 20–25 Desember 1971 di Kota Surabaya. Beberapa hari setelah acara besar itu selesai, tepatnya pada 29 Desember 1971 pagi, KH Abdul Wahab Chasbullah kembali berbaring dalam posisi yang sama seperti ketika peristiwa verlengd terjadi.
Kedua tangannya bersedekap. Suasana rumah kembali dipenuhi kesedihan. Nyai Rohmah kemudian memanggil seluruh anak-anaknya untuk berkumpul di sisi sang ayah. Dengan penuh kasih, Nyai Rohmah mendekatkan dirinya ke telinga suaminya dan melantunkan azan.
Hingga azan terakhir, Mbah Wahab masih mengikuti dengan menyebut kalimat Allah. Setelah itu, kepalanya perlahan terkulai ke arah kanan. Sang pendiri NU telah kembali menghadap Sang Khalik.
“Ruh Abah telah pergi menghadap Illahi pagi itu,” tulis Nyai Hj Mundjidah Wahab dalam buku biografinya Mundjidah Wahab: Otoritas, Profesionalisme, dan Kebijakan Publik di Kabupaten Jombang karya Alfiyah Ashmad.
Nyai Mundjidah, putri Mbah Wahab yang juga pernah menjabat sebagai Bupati Jombang, menceritakan tentang peristiwa verlengd sang ayah. Beberapa hari setelah peristiwa itu, ayahnya sempat menceritakan sendiri pengalaman tersebut kepada anak-anaknya.
Saat itu, Mbah Wahab merasa ajalnya telah dekat. Namun ia masih memohon waktu karena ingin menyelesaikan satu tanggung jawab terakhir: menghadiri muktamar NU. Dan benar saja, setelah tugas itu selesai, ia kembali kepada Allah dengan tenang.
Kabar wafatnya KH Abdul Wahab Chasbullah membuat para kiai yang sebelumnya telah meninggalkan muktamar kembali menuju Tambakberas untuk memberikan penghormatan terakhir. Mereka datang bukan hanya untuk melepas seorang ulama, tetapi untuk mengantar seorang pejuang yang telah mencurahkan seluruh hidupnya bagi umat dan negeri.
Kisah verlengd Mbah Wahab akhirnya menjadi simbol tentang sebuah kehidupan yang penuh pengabdian. Ia seolah mendapatkan tambahan waktu bukan untuk kepentingan dirinya sendiri, melainkan agar satu amanah terakhir dapat diselesaikan. [suf]
Link informasi : Sumber