Parade Cikar Kediri 2026 Diikuti 43 Peserta, Tradisi Lama Jadi Penggerak Ekonomi Peternakan
Ringkasan Berita
- Parade Cikar Kediri 2026 memasuki tahun kelima dengan melibatkan 43 peserta dari 10 kecamatan.
- Satu peserta dari Yogyakarta turut meramaikan parade dengan membawa seekor sapi.
- Parade menampilkan tradisi transportasi sekaligus potensi ekonomi peternakan sapi masyarakat.
- Sekitar 2.000 telur rebus dibagikan gratis sepanjang jalur parade kepada masyarakat.
Kediri (beritajatim.com) – Parade Cikar Kediri 2026 kembali digelar Pemerintah Kabupaten Kediri sebagai upaya melestarikan budaya sekaligus mengenalkan potensi ekonomi peternakan masyarakat. Memasuki tahun kelima, parade yang berlangsung Sabtu (22/8/2026) itu diikuti 43 peserta dari sekitar 10 kecamatan, termasuk satu peserta dari Yogyakarta.
Sekretaris Daerah Kabupaten Kediri Mohamad Solikin mengatakan, Parade Cikar tidak sekadar menjadi pertunjukan budaya. Kegiatan tersebut juga mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, melihat kembali peran cikar dalam aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus potensi peternakan sapi.
“Ini adalah sarana transportasi tradisional, bisa mengingatkan memori kolektif kita yang terkait dengan pemanfaatan cikar untuk kegiatan ekonomi masyarakat. Tapi kita juga mengingatkan ke generasi muda kita bahwa memelihara sapi, ternak sapi itu juga potensi ekonomi yang luar biasa,” jelasnya.
Dari Tradisi Transportasi hingga Potensi Peternakan
Menurut Solikin, peternakan sapi memiliki peluang ekonomi yang besar karena kebutuhan masyarakat terhadap daging dan susu masih tinggi. Potensi tersebut juga tidak berhenti pada produk ternak, tetapi dapat dikembangkan menjadi berbagai produk olahan.
“Kita juga mengingatkan ke generasi muda kita bahwa memelihara sapi, ternak sapi itu juga potensi ekonomi yang luar biasa. Hari ini terus terang kita kekurangan daging, susu, dan itu adalah potensi yang luar biasa. Belum olahan dari produksi eh yang bersumber dari ternak sapi,” katanya.
Karena itu, Parade Cikar diharapkan tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga membuka ruang promosi bagi sektor pertanian dan peternakan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kabupaten Kediri.
Pemkab Kediri berharap pelaksanaan parade ke depan semakin berkembang dengan melibatkan lebih banyak unsur, mulai pemerintah, masyarakat, komunitas budaya hingga peternak.
Libatkan Pelajar dan Bagikan 2.000 Telur
Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih mengatakan Parade Cikar 2026 menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Hari ini kami Pemkab Kediri melaksanakan kegiatan parade Cikar merupakan rangkaian daripada HUT Kemerdekaan RI ke-81,” katanya.
Berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya, tahun ini masyarakat umum dan pelajar mendapat ruang lebih besar untuk terlibat. Sekitar 50 siswa SDN 1 Wonosari, Kecamatan Pagu, diajak mengikuti parade bersama peserta cikar.
Sebelum mengikuti kegiatan, para pelajar mendapat edukasi mengenai pentingnya mengonsumsi produk peternakan untuk memenuhi kebutuhan gizi. Mereka juga diperkenalkan dengan berbagai produk seperti telur, telur asin, daging olahan, abon, dan susu.
“Sebetulnya permintaannya banyak, tapi mengingat pertimbangan jumlah cikarnya 43, per cikar kurang lebih hanya empat ataupun lima tambahan, sehingga baru 50 anak yang kami libatkan ditambah tadi beberapa dari masyarakat yang langsung ikut,” imbuh Tutik.
Semangat mengenalkan produk peternakan juga diwujudkan melalui pembagian sekitar 2.000 telur rebus gratis kepada masyarakat sepanjang jalur parade, mulai depan Taman Totok Kerot hingga garis finis di depan PD BPR Bank Daerah Kabupaten Kediri.
43 Cikar Lolos Pemeriksaan Kesehatan
Jumlah peserta Parade Cikar 2026 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang diikuti 40 cikar. Dari 46 peserta yang mengajukan diri, sebanyak 43 cikar dinyatakan memenuhi persyaratan setelah melalui pemeriksaan kesehatan hewan.
Pemeriksaan dilakukan petugas kesehatan hewan DKPP ke lokasi masing-masing peserta sebelum pelaksanaan parade.
“Jadi pada deadline terakhir pendaftaran H-10 sebelum kita close seluruh petugas kesehatan hewan kami cek ke lokasi masing-masing. Awal kemarin ada 46, yang tiga sepertinya tidak memenuhi syarat untuk ikut, sehingga yang ikut tinggal 43,” jelas Tutik.
Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi sapi aman karena parade berlangsung di ruang publik. Hasilnya, seluruh sapi mampu menyelesaikan perjalanan sekitar 5,5 kilometer tanpa laporan sakit maupun ambruk.
Sapi yang digunakan peserta didominasi jenis Peranakan Ongole (PO), Brahman, serta beberapa hasil persilangan. Bobot rata-ratanya berkisar 700-900 kilogram.
Meski memiliki bobot besar, Tutik menyebut sapi-sapi tersebut bukan kategori ekstrem. Hewan yang dibawa merupakan sapi yang telah terlatih untuk menarik cikar.
Kreativitas Cikar dan Produk Lokal Jadi Penilaian
Dalam Parade Cikar 2026, peserta tidak hanya dinilai berdasarkan kondisi sapi. Kreativitas cikar dan aksesori yang digunakan juga menjadi bagian dari penilaian juri.
Peserta diwajibkan menampilkan unsur muatan lokal, terutama produk pertanian dan peternakan Kabupaten Kediri. Produk tersebut bahkan dibagikan kepada masyarakat selama perjalanan.
Dengan konsep tersebut, parade sekaligus menjadi ruang promosi produk lokal dan mempertemukan unsur budaya dengan potensi ekonomi daerah.
Tutik melihat perkembangan komunitas cikar di Kabupaten Kediri cukup positif. Jumlah peserta yang terus bertambah menunjukkan minat masyarakat terhadap tradisi tersebut masih terjaga.
“Kalau kami melihat respon awal sebelum persiapan nggih, ternyata dari teman-teman masih antusias dibuktikan juga tambahan anggota. Kalau sebelumnya kan 35, kemudian 40, per hari ini 46. Bahkan teman-teman yang baru-baru, anak-anak muda yang apa ya, kebetulan orang tuanya punya sudah mulai meneruskan sepertinya,” ungkapnya.
Menurutnya, keterlibatan generasi muda menjadi modal penting bagi keberlanjutan tradisi cikar. Mereka tidak hanya meneruskan warisan budaya keluarga, tetapi juga berpotensi melanjutkan usaha peternakan yang selama ini menopang keberadaan komunitas cikar.
Juara Bertahan Minta Komunitas Terus Difasilitasi
Parade Cikar 2026 diikuti peserta dari sekitar 10 kecamatan. Wates dan Ngadiluwih menjadi wilayah dengan jumlah peserta terbanyak, masing-masing sekitar 10-11 peserta.
Salah satu peserta adalah Yudiono dari Mbah Lurah Farm, Desa Kunjang. Ia merupakan juara bertahan yang telah mengikuti kontes sejak pertama kali digelar.
Yudiono berharap pemerintah daerah terus memberikan ruang dan pendampingan bagi komunitas cikar di Kabupaten Kediri.
“Harapannya kami dari pihak kami komunitas Cikar yang ada di Kediri kita tetap mohon difasilitasi dan didampingi setiap tahun eh kalau bisa diadakan parade Cikar terus biar kita enggak ketinggalan, kita tetap semangat untuk nguri-nguri tinggalan para leluhur kita,” ujarnya.
Antusiasme terhadap tradisi tersebut bahkan datang dari luar daerah. Tahun ini, seorang peserta dari Yogyakarta turut ambil bagian dengan membawa satu ekor sapi.
Kehadiran peserta dari luar Kediri menunjukkan bahwa Parade Cikar mulai memiliki daya tarik melampaui wilayah penyelenggara. Di sisi lain, bertambahnya generasi muda yang ikut meneruskan tradisi menjadi sinyal bahwa cikar masih memiliki ruang untuk berkembang di tengah perubahan zaman.
Melalui Parade Cikar 2026, Pemkab Kediri berupaya menempatkan budaya tidak sekadar sebagai warisan masa lalu. Tradisi cikar juga diarahkan menjadi ruang edukasi, promosi produk lokal, sekaligus pengingat bahwa sektor pertanian dan peternakan memiliki potensi ekonomi yang dapat terus dikembangkan masyarakat. [nm/kun]
Link informasi : Sumber