UAJY Gandeng 100 Jurnalis AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas
Ringkasan Berita:
- Tim multidisiplin UAJY meraih Program Hibah United Board 2026 untuk riset penguatan jurnalisme biodiversitas.
- Program tersebut menggandeng AMSI dan menargetkan 100 jurnalis untuk mengikuti penguatan kapasitas terkait isu keanekaragaman hayati.
- Jurnalis akan mendapat pembekalan dari ahli dan praktisi sebelum mengikuti pelatihan lapangan di tiga kawasan konservasi.
- UAJY juga akan membangun pusat data expertise yang dapat menjadi rujukan jurnalis untuk menemukan narasumber ahli biodiversitas.
Jakarta (beritajatim.com) – Tim riset multidisiplin Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) menggandeng Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) untuk memperkuat kapasitas jurnalis dalam mengangkat isu biodiversitas. Program tersebut menargetkan 100 jurnalis dan menjadi bagian dari penelitian yang didanai melalui Program Hibah United Board 2026.
Riset bertajuk “Strengthening Biodiversity Journalism through Academic–Media Collaboration” tersebut dipimpin Prof. Ir. Ign. Pramana Yuda, M.Si., Ph.D. dari Fakultas Teknobiologi (FTb) UAJY.
Tim peneliti juga beranggotakan tiga dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, yakni Bonaventura Satya Bharata, Ph.D., Olivia Lewi Pramesti, M.A., dan Didit Setiawan, M.A., serta dosen Program Studi Informatika Yohanes Sigit Purnomo Wuryo Putro, Ph.D.
Program penelitian akan berlangsung mulai Juli 2026 hingga Desember 2027. Selain penelitian, program hibah tersebut juga mencakup kegiatan pengajaran dan pengabdian kepada masyarakat.
Prof. Pramana mengatakan riset tersebut berangkat dari persoalan masih minimnya perhatian media terhadap isu biodiversitas dibandingkan dua persoalan lain dalam triple planetary crisis, yakni perubahan iklim dan polusi.
“Secara global kan ada triple planetary crisis, tiga krisis utama tentang climate change, biodiversity dan polusi. Dari tiga isu tersebut, yang paling kurang mendapatkan perhatian itu isu biodiversitas,” jelas Prof. Pramana.
Kondisi tersebut menjadi dasar tim UAJY untuk membangun kolaborasi antara akademisi dan media. Penelitian akan diawali dengan pemetaan pemberitaan mengenai biodiversitas, kemudian dilanjutkan dengan survei terhadap jurnalis untuk mengetahui pemahaman dan kebutuhan mereka dalam meliput isu keanekaragaman hayati.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemetaan masalah. UAJY bersama AMSI juga menyiapkan program peningkatan kapasitas bagi jurnalis agar isu biodiversitas dapat diterjemahkan menjadi pemberitaan yang lebih kuat, berbasis pengetahuan, dan relevan bagi masyarakat.
Salah satu bentuk pengabdian dalam program tersebut adalah pilot project pelatihan bagi jurnalis anggota AMSI. Sebelum turun ke lapangan, jurnalis akan mendapatkan pembekalan mengenai biodiversitas dari ahli dan praktisi.
Setelah itu, mereka akan diajak melihat persoalan biodiversitas secara langsung di tiga wilayah dengan karakter ekosistem berbeda, yakni Bukit Turgo di Yogyakarta, Gunung Ungaran di Jawa Tengah, dan kawasan hutan mangrove di Surabaya, Jawa Timur.
Program tersebut menargetkan 100 jurnalis AMSI. Mereka diharapkan tidak hanya memahami konsep biodiversitas secara teoritis, tetapi juga mampu melihat persoalan keanekaragaman hayati dari lapangan dan mengolahnya menjadi materi jurnalistik yang lebih berkualitas.
Selain pelatihan, tim UAJY menyiapkan pusat data expertise berbasis situs web yang berada di bawah naungan UAJY. Platform tersebut nantinya memuat rujukan para ahli dari berbagai bidang yang berkaitan dengan biodiversitas.
Dosen Program Studi Informatika UAJY Yohanes Sigit Purnomo mengatakan platform tersebut diharapkan membantu jurnalis menemukan narasumber yang memiliki kompetensi sesuai isu yang sedang diliput.
“Harapannya website ini dapat menjadi pusat rujukan para jurnalis ketika membutuhkan narasumber yang ahli di bidang biodiversitas,” tambah Sigit Purnomo.
Kehadiran pusat data tersebut juga menjawab salah satu kebutuhan media ketika mengangkat isu lingkungan yang memiliki kompleksitas ilmiah. Akses terhadap ahli menjadi penting agar pemberitaan tidak hanya mengandalkan informasi umum, tetapi dapat menjelaskan persoalan biodiversitas berdasarkan data dan perspektif keilmuan yang tepat.
AMSI menyambut kolaborasi tersebut karena program khusus untuk meningkatkan kapasitas jurnalis dalam isu biodiversitas dinilai masih terbatas. Organisasi media siber tersebut melihat kebutuhan peningkatan pemahaman jurnalis semakin penting seiring besarnya ancaman terhadap keanekaragaman hayati di Indonesia.
Media membutuhkan kemampuan memahami persoalan biodiversitas, akses terhadap sumber ahli, serta kemampuan menerjemahkan persoalan ilmiah yang kompleks menjadi informasi yang dapat dipahami dan relevan bagi publik.
Ketua Umum AMSI Wahyu Dhyatmika mengatakan program tersebut diharapkan berkembang melampaui pelatihan di tiga wilayah. Menurut dia, kolaborasi akademisi dan media perlu dikembangkan agar dapat menjangkau lebih banyak jurnalis dan media di berbagai daerah.
“Kami berharap program ini tidak berhenti pada pelatihan di tiga wilayah, tetapi berkembang menjadi model kolaborasi akademisi dan media yang dapat menjangkau anggota AMSI di seluruh Indonesia, sehingga semakin banyak media lokal mampu menghasilkan jurnalisme biodiversitas yang berbasis sains, dekat dengan persoalan masyarakat, dan mendorong kebijakan serta tindakan nyata untuk menjaga kekayaan hayati Indonesia,” kata Wahyu. [beq]
Link informasi : Sumber