Musim Kemarau, Nelayan Pacitan Panen Albakora.

0

Pacitan (beritajatim.com) – Musim kemarau membawa berkah bagi nelayan kapal slerek di Kabupaten Pacitan. Dalam beberapa pekan terakhir, hasil tangkapan ikan besar, khususnya albakora atau tuna sirip panjang, mengalami peningkatan cukup signifikan.

Hasil tangkapan nelayan bahkan disebut meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan kondisi normal. Dalam sekali perjalanan melaut, satu kapal dapat membawa pulang hingga lima ton ikan.

Kondisi tersebut terlihat di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tamperan, Kelurahan Sidoharjo. Sejumlah kapal tampak membongkar hasil tangkapan setelah berhari-hari berada di tengah laut. Salah satunya kapal sekoci yang baru kembali setelah sekitar sepuluh hari melaut.

Ikan hasil tangkapan kemudian diangkut menuju Tempat Pelelangan Ikan (TPI) untuk ditimbang sebelum dilelang kepada para pedagang.

Salah seorang anak buah kapal (ABK), Ahmad Toha, mengatakan tangkapan ikan besar dalam beberapa pekan terakhir cukup melimpah. Kondisi tersebut berbeda dibandingkan sebelumnya ketika hasil tangkapan nelayan cenderung lebih sedikit.

“Memang saat ini musim ikan besar, kalau ikan kecil malah tidak ada,”katanya Rabu (9/6/2026).

Menurutnya, kapal yang beroperasi mencari ikan besar dapat memperoleh hasil hingga sekitar lima ton dalam sekali perjalanan. Jumlah tersebut meningkat sekitar dua kali lipat dibandingkan kondisi normal.

Melimpahnya ikan albakora membuat sejumlah kapal besar memilih bertahan lebih lama di tengah laut untuk mencari ikan. Akibatnya, kolam labuh PPP Tamperan belakangan terlihat lebih lengang karena banyak kapal masih berada di laut.

Berdasarkan data UPT PPP Tamperan, Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur, musim ikan albakora atau tuna sirip panjang biasanya mulai berlangsung sejak Mei. Puncak musimnya terjadi pada Juli hingga September.

Produksi tuna yang didaratkan melalui PPP Tamperan juga menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022, produksi tuna tercatat 535 ton. Angka tersebut naik menjadi 630 ton pada 2023 dan kembali meningkat menjadi 728 ton pada 2024.

Pada 2025, produksi tuna bahkan mencapai 936 ton. Sementara itu, sepanjang 2026 hingga periode terakhir pendataan, produksi tuna yang didaratkan melalui PPP Tamperan tercatat mencapai 226 ton.

Meski demikian, melimpahnya ikan besar belum dirasakan seluruh nelayan. Nelayan kapal kecil yang mengandalkan tangkapan ikan berukuran kecil justru menghadapi kondisi berbeda.

Saat ini musim ikan kecil belum tiba sehingga hasil tangkapan nelayan dengan kapal berukuran kecil cenderung menurun. Nelayan setempat, Noto, menyebut musim ikan kecil biasanya baru berlangsung sekitar November.

Di sisi lain, nelayan juga tetap harus mewaspadai kondisi cuaca. Dalam beberapa hari terakhir, gelombang laut di perairan selatan Pacitan cenderung tidak stabil.

Angin timuran yang bertiup cukup kencang menyebabkan tinggi gelombang di perairan selatan Pacitan mencapai sekitar 2,5 hingga tiga meter. Kondisi tersebut membuat nelayan harus memperhitungkan faktor keselamatan sebelum memutuskan untuk melaut.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Pacitan, Yagus Triarso, mengimbau nelayan untuk selalu memperhatikan perkembangan cuaca dan kondisi gelombang sebelum berangkat melaut.

“Nelayan juga perlu memperhatikan kondisi cuaca sebelum melaut,” imbaunya. (tri/ted)


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.