Tes Urine 41 WBP Lapas Probolinggo Negatif, Razia Temukan Pisau Rakitan
Ringkasan Berita:
- Sebanyak 41 WBP Lapas Probolinggo menjalani tes urine dan seluruhnya dinyatakan negatif narkoba.
- Razia gabungan menyasar tiga kamar hunian secara acak dan tidak menemukan telepon seluler.
- Petugas menemukan sejumlah barang terlarang, termasuk silet, cutter, pisau rakitan, botol kaca, kabel, dan korek.
- Lapas Probolinggo akan memperkuat pengawasan sebagai bagian dari deteksi dini gangguan keamanan dan ketertiban.
Probolinggo (beritajatim.com) – Hasil tes urine terhadap 41 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Probolinggo menunjukkan seluruhnya negatif narkoba. Namun, razia gabungan yang melibatkan petugas Lapas, TNI, dan Polres Probolinggo Kota masih menemukan sejumlah benda yang tidak diperbolehkan berada di kamar hunian.
“Kita dari pihak kepolisian bersinergi dengan Lapas dan TNI untuk memberantas peredaran narkoba di lingkungan Lapas. Bentuknya razia setiap kamar, serta tes urine untuk seluruh penghuni kamar,” kata KBO Satreskoba Polres Probolinggo Kota Ipda Farouk Rachmad.
Dalam penggeledahan tersebut, petugas menyasar tiga kamar hunian secara acak. Sejumlah barang diamankan, di antaranya botol kaca, kabel, korek, skrim, pisau cukur, serta benda tajam berupa silet, cutter dan pisau rakitan.
Farouk mengatakan pemeriksaan urine terhadap 41 WBP menunjukkan hasil negatif seluruhnya. Selain itu, petugas tidak menemukan telepon seluler selama penggeledahan kamar.
“Untuk tes urine sendiri alhamdulillah tidak ada yang positif, semuanya negatif. Kemudian untuk yang ditemukan, tidak ada HP, namun hanya silet atau pisau rakitan. Itu saja yang tadi menonjol dan ditemukan,” ujarnya.
Meski tidak menemukan narkoba maupun telepon seluler, keberadaan benda tajam menjadi perhatian petugas karena berpotensi membahayakan keamanan di lingkungan Lapas.
Farouk menyebut benda tajam yang ditemukan langsung diamankan. Namun, petugas belum mengetahui secara pasti peruntukan silet, cutter maupun pisau rakitan tersebut.
“Kami sendiri kurang paham apa kegunaan dari silet atau cutter yang kami temukan di dalam kamar warga binaan. Yang jelas itu berbahaya, jadi kita amankan,” ungkapnya.
Saat penggeledahan berlangsung, seluruh penghuni kamar terlebih dahulu dikeluarkan. Kendati demikian, tidak ada warga binaan yang mengakui kepemilikan pisau rakitan yang ditemukan petugas.
“Saat kami temukan pisau tersebut, tidak ada yang mengaku itu milik siapa. Jadi ya kami amankan saja,” tambah Farouk.
Kepala Lapas Probolinggo Bayu Muhammad mengatakan razia rutin maupun insidental merupakan bagian dari langkah deteksi dini untuk menjaga lingkungan Lapas tetap aman, tertib dan kondusif.
“Kami terus melakukan pengawasan melalui razia rutin maupun insidental untuk menjaga Lapas tetap bersih, tertib, dan kondusif. Upaya ini juga penting agar tidak ada barang yang dapat mengganggu keamanan ataupun proses pembinaan warga binaan,” ujar Bayu.
Razia tersebut dilaksanakan sebagai tindak lanjut Edaran Dirjenpas Nomor PAS 61.0T.02.02 Tahun 2026 tentang peningkatan kewaspadaan dalam rangka deteksi dini pencegahan gangguan keamanan dan ketertiban pada lembaga pemasyarakatan, lembaga pembinaan khusus anak, dan rumah tahanan negara di seluruh Indonesia.
Selain penggeledahan kamar, Lapas Probolinggo menggelar tes urine secara acak di Aula Dr. Sahardjo. Pemeriksaan dilakukan Kepala Subseksi Perawatan Reky Arif Rahman bersama jajaran pengamanan Lapas, KPLP, Administrasi Keamanan dan Ketertiban, serta personel TNI dan Polres Probolinggo Kota.
Bayu menegaskan tes urine menjadi bagian dari langkah preventif untuk memastikan lingkungan Lapas tetap bersih dari penyalahgunaan narkoba.
“Tes urine ini merupakan salah satu bentuk deteksi dini dan langkah preventif untuk memastikan tidak adanya penyalahgunaan narkoba di lingkungan Lapas. Kami akan terus melakukan pengawasan secara konsisten sebagai upaya menjaga integritas dan komitmen Lapas Probolinggo,” katanya.
Hasil pemeriksaan urine yang seluruhnya negatif menjadi catatan dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba. Sementara temuan benda tajam menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat pengawasan barang dan keamanan kamar hunian agar proses pembinaan warga binaan tetap berjalan aman dan tertib. [rap/beq]
Link informasi : Sumber