Tren Baru Setelah Padel: Pickleball Mulai Mewabah di Surabaya Timur, Tawarkan Olahraga Ramah Pemula dan Minim Cedera

0

Ringkasan Berita

* Olahraga pickleball kini menjadi tren baru di Surabaya Timur mengikuti popularitas padel, menawarkan permainan yang mudah dipelajari dalam 10 menit, minim risiko cedera, dan menggunakan lapangan berukuran serupa badminton.

* Dikelola oleh Zuper Pickleball sejak akhir Juli dengan tarif sewa terjangkau serta didukung oleh manajemen Coach Suka, olahraga ini banyak diminati rentang usia 17–35 tahun dan siap berekspansi ke kawasan Rungkut melalui fasilitas olahraga terpadu pada akhir tahun.

————————————————————————–

Surabaya (beritajatim.com) — Demam olahraga raket di Indonesia kembali memasuki babak baru. Setelah popularitas padel yang sempat melonjak pesat, kini giliran pickleball yang mulai dilirik dan menjadi tren baru di tengah masyarakat, khususnya di kawasan Surabaya Timur.

Olahraga perpaduan antara tenis, badminton, dan pingpong ini menawarkan sensasi permainan yang seru namun ramah bagi semua kalangan. Memanfaatkan ukuran lapangan yang identik dengan lapangan badminton serta penggunaan raket dan bola yang ringan, pickleball dinilai memiliki risiko cedera yang sangat minim.

Kehadiran olahraga ini disambut positif oleh para pencinta olahraga di Kota Pahlawan. Johan Saputra, General Manager Zuper Pickleball, mengungkapkan bahwa pihak manajemen telah memperkenalkan pickleball di Surabaya Timur sejak akhir Juli lalu.

“Kami sudah sekitar tiga bulan berjalan, mulai akhir Juli mencoba memperkenalkan olahraga pickleball ini. Di luar negeri sebenarnya sudah hype banget, bahkan di Amerika Serikat sudah ada sejak tahun 1960-an. Di negara tetangga seperti Vietnam dan Singapura pun sudah lebih dulu populer,” ujar Johan.

Menurut Johan, daya tarik utama pickleball terletak pada kemudahannya untuk dipelajari. Sifat permainannya yang adaptif membuat orang awam sekalipun mampu menguasai dasar-dasar permainan dalam waktu singkat.

“Raket dan bolanya ringan, jadi kemungkinan cedera sangat minim. Secara respon sangat bagus, orang-orang yang baru pertama kali mencoba pickleball biasanya dalam 10 menit bermain sudah bisa. Apalagi bagi mereka yang sudah punya dasar bermain badminton atau mantan pemain padel, mereka penasaran, mencoba, dan ternyata langsung cocok,” jelas Johan. Saat ini, mayoritas pemain berada di rentang usia 17 hingga 35 tahun.

Dari sisi aksesibilitas, pickleball tergolong relatif ramah di kantong. Peralatan raket dibanderol mulai dari Rp400.000 dan bola seharga Rp20.000. Untuk tarif sewa lapangan dipatok sebesar Rp100.000 per jam, dengan promo soft opening di harga Rp75.000 per jam. Meskipun tingkat okupansi saat ini masih di bawah 50%, pemesanan dan sosialisasi terus digencarkan melalui media sosial.

Melihat potensi pasar yang menjanjikan, Zuper Pickleball tengah menyiapkan ekspansi fasilitas olahraga terpadu di kawasan Rungkut yang menggabungkan lapangan badminton, pickleball, layanan pemulihan massage, hingga arena fitness dengan target pembukaan pada Desember hingga Januari mendatang.

Kemudahan pickleball juga diakui oleh Linggawati, Admin Coach Suka, sebuah manajemen pelatih olahraga yang dibentuk khusus untuk memfasilitasi antusiasme masyarakat terhadap pickleball.

“Pickleball ini olahraga yang cukup santai karena lapangannya tidak terlalu besar dibandingkan badminton. Rata-rata peminatnya berawal dari para pemain badminton yang mencari alternatif permainan yang lebih ringan dan mudah. Hal itulah yang melatarbelakangi lahirnya Coach Suka. Karena permainannya lebih ramah fisik, semakin banyak orang yang tertarik untuk bergabung,” tutur Linggawati.

Dengan kombinasi akses kemudahan bermain, biaya yang terjangkau, serta ekspansi fasilitas yang terus berjalan, pickleball diprediksi bakal makin menguat sebagai gaya hidup sehat baru warga Surabaya.[rea]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.