Mitigasi Iklim Ekstrem, Bendungan Sutami Malang Masuk Daftar Revitalisasi
RINGKASAN BERITA:
- Menteri PUPR Dody Hanggodo dan PJT I menyepakati revitalisasi Bendungan Sutami Malang untuk memitigasi dampak perubahan iklim ekstrem.
- Waduk berusia lebih dari setengah abad ini menyuplai kebutuhan irigasi, air baku, hingga energi listrik bagi hampir 50 persen wilayah Jawa Timur.
- PJT I menerapkan strategi konservasi hulu, pengerukan sedimentasi, hingga Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menjaga fungsi waduk jangka panjang.
Malang(beritajatim.com) – Perubahan iklim ekstrem menjadi ancaman nyata. L
Keberlangsungan bendungan besar di Indonesia sangat vital termasuk Bendungan Sutami Malang yang menjadi yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat.
Menyikapi hal itu, Komite Nasional Indonesia untuk Bendungan Besar (KNIBB) dan INACOLD menggelar seminar ‘Strategi Penguatan Tata Kelola Bendungan Besar untuk Adaptasi dan Mitigasi Dampak Perubahan Iklim’ di Universitas Brawijaya Malang. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Dody Hanggodo bersama Dirut Perum Jasa Tirta I Fahmi Hidayat turut hadir dalam seminar ini.
Menteri PUPR Dody Hanggodo mengatakan, revitalisasi menjadi fokus utama pemerintah dalam memaksimalkan peran bendungan. Fokus lainnya, membangun bendungan baru di sejumlah titik strategis nasional.
“Untuk yang sudah berdiri, termasuk yang berusia tua ini juga kita tengok lagi. Kalau kemudian belum maksimal untuk mendukung ketahanan pangan, ketahanan energi, dan air, kita maksimalkan lagi,” kata Dody, Jumat, (6/11/2026).
Seperti Bendungan Sutami yang dibangun sejak kolonial Belanda sudah saatnya direvitalisasi. Bendungan yang kini berusia lebih dari setengah abad itu harus direvitalisasi demi menjaga keamanan fungsi jangka panjang infrastruktur vital.
Apalagi, Bendungan yang dikelola oleh PJT I itu memiliki peran krusial. Karena hampir 50 persem wilayah Jawa Timur bergantung pada suplai air dari waduk ini. Mulai dari kebutuhan irigasi, air baku, hingga pembangkit listrik tenaga air (PLTA) hingga rencana pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
“Kita lihat beberapa titik bendungan di seluruh Indonesia butuh infrastruktur bendungan yang baru. Apalagi menghadapi musim penghujan ekstrem hari ini,” ujar Dody.
Sementara itu, Direktur Utama PJT I, Fahmi Hidayat, berkomitmen menjaga kelangsungan fungsi Bendungan Sutami. Keberadaan bendungan yang sudah eksis harus dioptimalkan. Sebab, pembangunan bendungan besar pengganti menghadapi kendala ruang, dampak sosial, lingkungan, hingga biaya konstruksi yang mahal.
“Prinsip yang sekarang kami pegang, bendungan ini harus berfungsi selama-lamanya. Tidak boleh bendungan ini nanti penuh kemudian kita kesulitan, banjir lebih tidak terkendali, air baku tidak terpenuhi, dan EBT terganggu. Tidak boleh usia bendungan itu kita batasi 50 tahun 100 tahun,” kata Fahmi.
Meski ada tantangan yang harus dihadapi seperti sedimentasi akibat erosi permukaan di daerah tangkapan air bagian hulu yang terbuka. Namun, tantangan klasik ini harus dituntaskan. Caranya dengan strategi konservasi hulu, flushing di Sengguruh, serta pengerukan sedimentasi secara berkala di Sutami.
Sedangkan dalam mengantisipasi fenomena iklim ekstrem seperti El Nino, pengelola telah menyiapkan langkah antisipatif. Seperti melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bekerja sama dengan BMKG baik di awal dan akhir musim hujan untuk mengoptimalkan tangkapan air dan mengantisipasi musim kemarau panjang.
”Begitu ada potensi awan yang bisa disemai menjadi hujan, kita akan lakukan nanti di akhir musim hujan. Jadi harapannya potensi yang ada menjadi hujan bisa kita tampung semuanya, tidak menyebabkan banjir, bendungan juga aman,” ujar Fahmi.
Langkah lainnya PJT I telah memiliki Standar Siaga Banjir Terpadu. Strategi ini dibuat secara komprehensif dari hulu hingga hilir. Mulai dari inventarisasi pintu air, pengecekan kondisi tanggul hingga kesiapan material penanggulangan banjir dengan batas elevasi siaga utama di angka 272. Kesiapan PJT I akan dipaparkan dalam Seminar Nasional Bendungan Besar.
”Lewat kegiatan tahunan ini, terus kita bersama-sama terus berbagi ilmu pengetahuan terkait dengan bendungan agar terus membawa manfaat bagi keberlangsungam hidup hingga di masa depan,” kata Fahmi. (luc/ian)
Link informasi : Sumber