Sembilan Jam di Laut, Kisah Dramatis Korban KM Virgo Transport 8 Asal Mojokerto Selamat

0

Mojokerto (beritajatim.com) — Munawi (53), warga Kabupaten Mojokerto, menjadi salah satu korban selamat dalam kecelakaan KM Virgo Transport 8 yang mengalami kecelakaan di perairan Masalembo, Laut Jawa. Munawi bersama enam orang lainnya sempat terombang-ambing di tengah laut selama sekitar sembilan jam sebelum akhirnya diselamatkan kapal nelayan asal Pati, Jawa Tengah.

KM Virgo Transport 8 diketahui mengangkut 243 orang dalam pelayaran dari Surabaya menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel). Kapal tersebut berangkat Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya pada, Sabtu (12/9/2026) sekitar pukul 10.33 WIB. Bapak dua anak ini merupakan salah satu dari empat korban asal Kabupaten Mojokerto.

Saat ditemui Beritajatim.com di rumahnya di Dusun Bungkem, Desa Kweden Kembar, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, Munawi menceritakan detik-detik kapal yang ditumpanginya tenggelam. Sebelum kejadian, ia masih menjalani aktivitas seperti biasa. Sebagai koki kapal, Munawi memasak untuk penumpang dan anak buah kapal (ABK) sekitar pukul 12.00 WIB.

“Berangkat pukul 10.00 WIB, kemudkan pukul 12.00 WIB saya masak untuk penumpang dan ABK. Dan saya kembali memasak pada pukul 16.00 WIB, sekitar pukul 20.00 WIB, untuk sopir. Setelah itu, saya bersantai bersama teman-teman, rokokan di luar kamar sebelum akhirnya saya tidur sekitar pukul 23.00 WIB,” ungkapnya ditemani istrinya, Sulin Tri Utami (50), Senin (21/9/2026).

Namun, sekitar pukul 01.00 WIB pada Minggu (13/9/2026), suasana berubah. Munawi terbangun setelah mendengar teriakan penumpang yang memberitahukan bahwa kapal tenggelam. Saat itu, di dalam kamar terdapat enam orang. Air laut kemudian mulai masuk hingga setinggi dada orang dewasa. Tidak lama kemudian, kondisi kapal semakin darurat.

“Saya langsung bilang jangan panik. Pakai rompi penolong. Sekitar 15 menit terjadi kapal blackout (padamnya seluruh pasokan listrik utama kapal). Kapal kemudian semakin miring dan dihantam ombak tiga meter, saya terpental dan terpisah dengan teman-teman satu kamar. Setengah jam kemudian baru keluar dari kapal tapi kondisi gelap,” katanya.

Dalam kondisi gelap karena kejadian berlangsung dini hari, Munawi berusaha menyelamatkan diri. Ia melihat sebuah sekoci berwarna biru mendekat ke arahnya, sementara tangannya sempat mengalami kram, tetapi ia tetap berusaha berenang hingga akhirnya berhasil mencapai sekoci tersebut. Ia bersama enam orang lainnya di dalam sekoci tersebut.

“Alhamdulillah masih bisa renang dan meraih sekoci meski tangan saya sempat kram. Kalau kejadiannya tidak malam hari, mungkin banyak yang selamat. Kami sempat terombang-ambing di tengah laut selama kurang lebih sembilan jam sebelum diselamatkan perahu nelayan asal Pati. Kami diangkat ke atas perahu nelayan tersebut,” ujarnya.

Harapan untuk selamat akhirnya datang ketika sebuah kapal nelayan asal Pati, Jawa Tengah yang melintas dan memberikan pertolongan. Ketujuh korban kemudian diangkat ke kapal nelayan tersebut. Saat itu, sudah ada sekitar 22 penumpang lainnya yang lebih dahulu berada di kapal nelayan. Para korban kemudian dievakuasi oleh TNI AL Surabaya dan dibawa menuju Banjarmasin.

“Pikiran saya hanya sholawat. Selama 9 jam ya tidak makan, hanya minum air laut tapi tenggorokan sakit karena kan rasanya asin. Itu pun kepala saya sempat terkena tumpahan solar dan ikut terminum. Beruntung bertemu dengan perahu nelayan, rompi hanya mampu bertahan sekitar dua jam setelah terus-menerus terkena air bisa tidak berfungsi,” jelasnya.

Ia mengaku baru bekerja di KM Virgo Transport 8 sekitar 2 bulan 10 hari, KM Virgo Transport 8 sendiri merupakan kapal feri penumpang dan kargo Ro-Ro (Roll-on/Roll-off) berbobot 4.277 Gross Tonnage (GT) yang baru beroperasi. KM Virgo Transport 8 melayani rute Surabaya-Banjarmasin. Dalam satu bulan, kapal tersebut bisa melakukan sekitar delapan perjalanan.

“Ini kapal cepat. Waktu tempuh perjalanan sekitar 19 jam, tujuannya hanya Surabaya – Banjarmasin. Saya bekerja sebagai koki di kapal ini. Kerja di kapal sudah 25 tahun sejak tahun 2001, awalnya di PT Dharma Lautan Utama sebagai pramu saja kemudian belajar masak hingga dipercaya sebagai koki kapal,” tuturnya.

Setelah berhasil dievakuasi, Munawi sempat menjalani perawatan di rumah sakit di Banjarmasin selama tiga hari karena tekanan darahnya tinggi dan stress akibat kejadian tersebut. Ia kemudian menjalani pemulihan di hotel selama dua hari sebelum akhirnya dipulangkan ke Mojokerto. Pada, Minggu (20/9/2026), Munawi dipulangkan dengan pendampingan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur.

“Balik Surabaya naik pesawat, memang sudah naik pesawat. Selain itu, saya juga trauma baru kali ini mengalami kejadian seperti ini. Selanjutnya, saya masih belum tahu apa masih kerja di kapal setelah kejadian ini. Empat orang dari Kabupaten Mojokerto, saya dan warga Trawas yang selamat. Orang Pacet dan Dlanggu belum ditemukan, saya tidak kenal mereka,” tegasnya.

Bagi Munawi, pengalaman terombang-ambing selama sembilan jam di tengah laut menjadi pengalaman yang tidak mudah dilupakan. Setelah lebih dari dua dekade bekerja di kapal, ia akhirnya merasakan sendiri bagaimana bertahan hidup dalam kondisi kapal tenggelam dan gelapnya laut pada dini hari. [tin/ian]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.