Nama Akhmad Muzakki Sebenarnya Tak Masuk Tiga Besar Calon Rektor UINSA

0

Surabaya (beritajatim.com) – Forum Komunikasi untuk Perubahan UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya membongkar dugaan rekayasa pemilihan rektor dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi VIII DPR RI di Jakarta, Senin (21/9/2026).

Rektor UINSA Prof Akhmad Muzakki disebut tidak masuk daftar tiga besar calon terbaik pilihan tim seleksi Kementerian Agama.

“Berdasarkan informasi, Akhmad Muzakki tidak masuk tiga besar. Namun oleh Sekjen dimasukkan, sehingga terjadi tiga calon besar,” kata Perwakilan Forum Komunikasi untuk Perubahan UINSA, Cholil.

Proses pemilihan tingkat universitas sebelumnya menyerahkan 13 nama kandidat, yang kemudian mengerucut ke tujuh nama ke Kementerian Agama.

Komisi seleksi yang berisi tujuh profesor lalu menyaring para kandidat menjadi tiga nama terbaik. Dari tiga calon terbaik itu, tidak tertera nama Akhmad Muzakki.

Sehingga, dengan dilantiknya kembali Muzakki sebagai rektor dinilai sebagai bentuk pemaksaan oleh kementerian.

“Ada upaya sistematis bagaimana Muzakki bisa dipilih Menteri Agama dengan cara dimasukkan di tiga besar. Itu pun nomor urut tiga,” tegas Cholil.

Pelantikan rektor itu pun memicu gelombang protes dari sivitas akademika UINSA. Demonstrasi, penyegelan kampus hingga pendirian posko perjuangan muncul sebagai bentuk penolakan atas kepemimpinan Muzakki.

“Terkait harapan guru besar yang membuat petisi, harapannya yang terpilih adalah yang terbaik. Itu tidak dipenuhi, justru melantik rektor (yang istilahnya) musuh bersama,” ujar Cholil.

Pada RDPU ini, Forum Komunikasi untuk Perubahan UINSA juga menyerahkan dokumen berisi sejumlah catatan dugaan pelanggaran yang dilakukan Muzakki selama menjabat rektor.

Dokumen tersebut juga berisi bukti pemanggilan dari Kejaksaan Negeri Surabaya serta Kejaksaan Negeri Tanjung Perak terkait dugaan gratifikasi di UPT Pusat Bisnis. Selain itu, juga memuat 16 poin dugaan penyalahgunaan wewenang pimpinan kampus.

“Bagi kami empat tahun sudah lebih dari cukup menahan tekanan dan intimidasi. Kami minta Komisi VIII sesegera mungkin memanggil Menteri Agama,” pungkas Cholil.

Menanggapi laporan tersebut, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Abdul Wachid, membeberkan bahwa pihaknya sebenarnya telah mendengar isu rekayasa pemilihan Rektor UINSA sejak lama melalui jaringan partai politik hingga kalangan akademisi di daerah.

“Informasi itu terus kami terima, mulai dari 13 calon, kemudian menjadi tujuh, sampai menjadi tiga calon. Termasuk informasi bahwa Pak Muzakki sebenarnya tidak masuk dalam tiga besar, tetapi kemudian namanya masuk. Kami hanya menunggu siapa yang akan datang dan menyampaikan laporan secara langsung kepada kami,” kata Wachid.

Wachid menegaskan Komisi VIII DPR RI akan bergerak cepat menindaklanjuti berkas dan laporan yang diserahkan. Rencananya, pemanggilan pihak-pihak terkait akan segera dijadwalkan setelah Rapat Paripurna DPR.

“Selasa besok setelah rapat paripurna selesai, kemungkinan sekitar pukul 14.00 atau 15.00, kami akan memanggil pihak terkait ke sini untuk menindaklanjuti persoalan ini. Hal ini juga akan saya sampaikan dalam rapat pimpinan,” tegasnya.

Langkah ini diambil untuk mencegah dampak buruk yang lebih luas terhadap operasional kampus dan masa depan mahasiswa, terlebih setelah adanya laporan penurunan peringkat UINSA yang cukup signifikan.

“Kenapa kami ingin bergerak cepat? Karena terus terang, saya ingin menyelamatkan UINSA. Kalau persoalan ini berlarut-larut, yang menjadi korban adalah mahasiswa. Saya juga mendapatkan laporan mengenai penurunan peringkat UINSA dari peringkat keempat turun ke peringkat sembilan atau sepuluh, bahkan di bawah UIN Sumatera Utara. Ini tentu harus menjadi perhatian kita bersama,” pungkas Wachid. [ipl/but]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.