Asap Karhutla Mengandung PM2.5, Dosen UMM Ingatkan Bahaya bagi Paru-paru

0

Ringkasan Berita:

  • Dosen Fakultas Kedokteran UMM dr Zata Dini mengingatkan bahaya paparan asap kebakaran hutan dan lahan.
  • PM2.5 dalam asap dapat menembus saluran pernapasan hingga mencapai alveolus.
  • Anak-anak, ibu hamil, lansia, penderita asma dan PPOK, serta pekerja lapangan termasuk kelompok yang perlu mendapat perlindungan ekstra.
  • Masyarakat disarankan membatasi aktivitas luar ruangan dan menggunakan masker N95, KN95, atau KF94 saat terpapar asap.

Malang (beritajatim.com) – Paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak bisa dianggap sebagai gangguan udara biasa. Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dr. Zata Dini, Sp.P, mengingatkan bahwa asap karhutla mengandung partikel dan gas berbahaya yang dapat masuk hingga ke bagian dalam paru-paru, terutama ketika kualitas udara memburuk dan paparan berlangsung terus-menerus.

Menurut dr. Zata, asap karhutla merupakan campuran partikel padat dan berbagai gas beracun yang dihasilkan dari pembakaran material organik. Salah satu komponen yang paling berisiko bagi saluran pernapasan adalah particulate matter berukuran 2,5 mikrometer atau PM2.5. Karena berukuran sangat kecil, partikel tersebut dapat menembus saluran pernapasan bagian dalam hingga mencapai alveolus.

“Asap karhutla bukan sekadar debu biasa. Di dalamnya terkandung partikel halus dan gas beracun yang dapat memicu iritasi saluran pernapasan, menimbulkan reaksi peradangan, serta mengganggu kinerja fungsi paru,” ujar dokter spesialis paru di Rumah Sakit Umum (RSU) UMM tersebut, Senin (1/9/2026).

Selain PM2.5, asap karhutla juga mengandung karbon monoksida yang dapat mengurangi kemampuan hemoglobin mengikat dan mendistribusikan oksigen ke seluruh tubuh. Senyawa lain seperti nitrogen oksida, sulfur dioksida, dan ozon juga dapat memperparah penyempitan bronkus.

Paparan berbagai polutan tersebut dapat memicu sejumlah gangguan, seperti batuk berulang, produksi lendir yang meningkat, suara serak, napas berbunyi atau mengi, hingga sesak napas akut.

Dalam jangka pendek, masyarakat juga dapat mengalami iritasi mata, hidung tersumbat, tenggorokan kering, sakit kepala, pusing, mual, serta dada terasa berat. Sementara pasien yang memiliki penyakit penyerta seperti asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) lebih rentan mengalami kekambuhan secara mendadak.

Dr. Zata juga mengingatkan risiko paparan asap dalam jangka panjang. Paparan yang berlangsung selama berhari-hari disebut berisiko menurunkan kapasitas paru-paru secara permanen. Kelompok rentan seperti anak-anak, wanita hamil, lansia, penderita penyakit degeneratif, serta pekerja lapangan membutuhkan perlindungan lebih.

“Orang yang merasa tubuhnya bugar sekalipun tidak otomatis kebal dari dampak buruk polusi udara. Potensi bahaya tetap tinggi jika konsentrasi polutan pekat dan terhirup dalam jangka panjang,” katanya.

Untuk mengurangi risiko, masyarakat disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika udara dipenuhi asap pekat. Latihan fisik berat di ruang terbuka juga sebaiknya ditunda selama kualitas udara belum membaik.

Sementara untuk menjaga kualitas udara di dalam rumah, pintu dan jendela sebaiknya ditutup rapat. Masyarakat juga dapat menggunakan pembersih udara atau air purifier dengan filter HEPA.

Bagi warga yang terpaksa harus beraktivitas di luar ruangan, dr. Zata menyarankan penggunaan masker dengan tingkat filtrasi tinggi, seperti N95, KN95, atau KF94. Masker harus dipasang dengan rapat agar perlindungan terhadap partikel asap lebih optimal.

Namun, masker tersebut tidak sepenuhnya mampu menyaring gas berbahaya seperti karbon monoksida. Karena itu, penggunaan masker tetap perlu disertai upaya mengurangi durasi dan intensitas paparan asap.

“Apabila muncul tanda kegawatan seperti sesak napas berat, nyeri dada hebat, linglung, kesadaran menurun, hingga bibir tampak membiru, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat untuk penanganan medis lanjutan,” ungkapnya. [dan/beq]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.