BPBD Kota Kediri Gelar Simulasi Mitigasi Bencana di SLB Putra Asih, Libatkan 140 Siswa Berkebutuhan Khusus
Ringkasan Berita
- BPBD Kota Kediri menggelar edukasi dan simulasi mitigasi bencana di SLB Putra Asih Kota Kediri.
- Sebanyak 140 siswa berkebutuhan khusus dari jenjang SDLB hingga SMALB mengikuti kegiatan tersebut.
- Materi yang diberikan meliputi penyelamatan diri saat gempa, jalur evakuasi, hingga pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K).
- Kegiatan ini bertujuan membangun budaya kesiapsiagaan dan mewujudkan sekolah tangguh bencana.
- BPBD Kota Kediri Gelar Simulasi Mitigasi Bencana di SLB Putra Asih, Libatkan 140 Siswa Berkebutuhan Khusus
Kediri (beritajatim.com) – Pemerintah Kota Kediri melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus memperkuat budaya kesiapsiagaan masyarakat melalui edukasi dan simulasi mitigasi bencana. Kali ini, kegiatan menyasar Yayasan Pendidikan Luar Biasa (SLB) Putra Asih Kota Kediri dengan melibatkan 140 siswa berkebutuhan khusus dari jenjang SDLB hingga SMALB.
Kegiatan yang berlangsung pada Senin (15/6/2026) tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman siswa dan tenaga pendidik mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan saat menghadapi situasi darurat akibat bencana.
Dalam sosialisasi tersebut, para peserta mendapatkan materi dasar mengenai mitigasi bencana, termasuk cara mencari titik aman saat terjadi gempa bumi dan memahami jalur evakuasi mandiri ketika kondisi darurat terjadi.
Kepala BPBD Kota Kediri, Joko Ariyanto, menegaskan bahwa penanggulangan bencana yang efektif harus dimulai sejak tahap prabencana melalui edukasi dan simulasi yang berkelanjutan.
“Esensi utama dari penanggulangan bencana justru terletak pada tahap prabencana, yaitu melalui sosialisasi, edukasi dan simulasi. Ini sebagai upaya pencegahan supaya tidak menimbulkan banyak korban jiwa, karena ketidaktahuan dan kepanikan sering kali menjadi pemicu utama timbulnya korban jiwa ketika bencana terjadi,” terangnya.
Tidak hanya siswa, para guru pendamping juga mendapatkan pelatihan terkait pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). Materi yang diberikan meliputi teknik pembalutan luka, penanganan awal patah tulang, hingga pemanfaatan alat sederhana di sekitar sebagai sarana evakuasi darurat.
Pembekalan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan tenaga pendidik dalam memberikan respons cepat ketika terjadi kondisi darurat di lingkungan sekolah.
Menurut Joko, pengetahuan yang dimiliki guru menjadi faktor penting dalam memastikan keselamatan peserta didik, terutama bagi siswa berkebutuhan khusus yang memerlukan pendampingan khusus saat proses evakuasi.
BPBD Kota Kediri berharap kegiatan ini mampu menumbuhkan budaya kesiapsiagaan yang berkelanjutan di lingkungan pendidikan.
Pengetahuan yang diperoleh peserta diharapkan tidak berhenti pada kegiatan hari ini, tetapi dapat diteruskan kepada generasi siswa berikutnya sehingga tercipta lingkungan sekolah yang aman dan siap menghadapi berbagai potensi bencana.
Selain itu, program ini menjadi bagian dari upaya mewujudkan sekolah tangguh bencana yang memiliki sistem kesiapsiagaan, jalur evakuasi, serta prosedur penanganan darurat yang jelas.
Kepala SLB-B Putra Asih Kota Kediri, Rahmah Hidayah Solikhatin, menjelaskan bahwa kolaborasi dengan BPBD dipilih karena metode pembelajaran visual dan praktik langsung lebih mudah dipahami oleh siswa berkebutuhan khusus.
“Anak-anak kami membutuhkan pembelajaran yang lebih banyak melalui visualisasi dan praktik langsung. Karena itu, kami menghadirkan BPBD agar siswa memahami apa yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi bencana,” ujarnya.
Menurut Rahmah, bekal pengetahuan kebencanaan sangat penting karena para siswa nantinya akan berinteraksi secara langsung dengan lingkungan keluarga dan masyarakat.
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini, pihak sekolah berencana melakukan simulasi mandiri untuk mengukur tingkat pemahaman siswa dan guru terhadap materi yang telah diberikan.
Selain itu, SLB Putra Asih juga meminta pendampingan BPBD Kota Kediri dalam melakukan pemetaan ulang jalur evakuasi agar seluruh area sekolah memiliki sistem keselamatan yang lebih optimal.
Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan seluruh warga sekolah memiliki kemampuan dasar mitigasi bencana sehingga dapat mengurangi risiko korban dan kerugian apabila terjadi keadaan darurat di masa mendatang. [nm/beq]
Link informasi : Sumber