Bendungan Lahor dan Menjamurnya Hotel Melati di Perbatasan Blitar-Malang

0

Blitar (beritajatim.com) – Di balik rindangnya pepohonan sepanjang jalur nasional perbatasan Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang, serta gemericik air dari kawasan Bendungan Lahor, tersimpan sebuah fenomena ekonomi mikro yang tergolong unik di Jawa Timur.

Ketika mayoritas wilayah kecamatan di pinggiran kota atau kabupaten meredup dan sepi selepas matahari terbenam, Kecamatan Selorejo, Blitar justru menunjukkan denyut kehidupan yang konstan selama 24 jam.

Bagi pelintas awam, lanskap Selorejo mungkin tampak seperti kawasan lintasan pedesaan biasa. Namun, pengamatan lebih mendalam menyingkap fakta mencolok yakni banyaknya penginapan sederhana hingga hotel kelas melati yang berdiri kokoh, saling berdekatan, dan bertahan hidup secara berkelanjutan selama berpuluh-puluh tahun.

Fenomena ini memicu pertanyaan mendasar dalam kajian ekonomi wilayah, bagaimana mungkin sebuah struktur wilayah tingkat kecamatan mampu memberi napas kehidupan bagi belasan bisnis hotel dan penginapan selama puluhan tahun.

Di tingkat pemerintahan kecamatan non-wisata, keberadaan satu atau dua penginapan biasanya sudah dianggap memadai. Namun, Selorejo mendobrak rasio normal tersebut. Banyaknya hotel dan penginapan di wilayah ini mencatatkan angka fantastis untuk ukuran kecamatan di koridor Mataraman.

Berdasarkan pemetaan di lapangan, konsentrasi hotel di Selorejo terbagi dalam dua klaster utama yakni Klaster Kawasan Bawah (Sekitar Bendungan Lahor). Dimana di lokasi ini setidaknya empat hotel yang beroperasi aktif dan sangat populer di mata para pelintas harian.

Yang kedua yakni klaster Kawasan Atas (Jalur Arteri Utama). Dilokasi ini ada sekitar 5-6 hotel dan penginapan yang berdiri sejak puluhan tahun.

Camat Selorejo, Agung Nugroho Sutamat, juga tak tahu detail bagaimana daerah perbatasan ini memiliki banyak hotel dan penginapan. Pria yang akrab disapa Agung itu mengungkap bahwa keberadaan hotel ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu, dan telah berganti pengelolaannya ke anak cucu.

“Di sekitar Lahor saja ada sekitar empat hotel. Kalau di jalur atas ada hotel lain seperti Selo Asri. Secara keseluruhan di wilayah Kecamatan Selorejo ada sekitar 9 hotel yang beroperasi aktif, dan saat ini ada satu lagi bangunan yang sedang dalam proses pembangunan menuju hotel ke-10,” ungkap Agung, Minggu (2/8/2026).

Foto BeritaJatim.com
Bendungan Lahor Blitar-Malang. (Foto : Winanto/beritajatim.com)

Pertumbuhan bangunan penginapan baru di tengah ketatnya persaingan mengindikasikan bahwa tingkat keterisian kamar (occupancy rate) di kawasan ini tidak hanya bertahan, tetapi masih memancarkan daya pikat ekonomi yang gurih bagi para investor lokal.

Kehadiran belasan hotel ini kerap menimbulkan teka-teki bagi masyarakat awam mengapa bisnis penginapan di sini tidak gugur tergilas krisis ekonomi atau pasang-surut musim liburan?
Jawabannya terletak pada fungsi geostrategis kawasan. Selorejo secara alami terbentuk menjadi sebuah ‘rest area organik’ bagi rantai pasok barang dan arus perdagangan antar-wilayah di Jawa Timur.

Posisi Selorejo berada tepat di garis tengah perlintasan arteri yang menghubungkan pusat industri Jawa Timur (Surabaya dan Malang) dengan kawasan selatan-barat (Blitar, Tulungagung, Kediri, hingga Trenggalek).

Mayoritas konsumen yang menggerakkan roda bisnis perhotelan di Selorejo bukanlah wisatawan murni yang mencari rekreasi, melainkan para “pejuang jalanan” seperti sopir armada distributor barang konsumsi (fast-moving consumer goods/FMCG), sales niaga, dan pengemudi truk logistik.

“Banyak kendaraan pengantar barang, seperti armada distribusi rokok atau niaga lainnya dari arah Malang atau Surabaya, yang melepas lelah di sini. Selorejo menjadi titik transit ideal sebelum mereka melanjutkan perjalanan bisnis ke Tulungagung, Kediri, atau wilayah sekitarnya,” terang Agung Nugroho.

Model bisnis akomodasi berbasis wisata murni sangat rentan terhadap siklus musiman (high season dan low season). Sebaliknya, bisnis penginapan di Selorejo memiliki imunitas tinggi karena ditopang oleh siklus logistik nasional yang berputar tanpa henti sepanjang tahun.

Perjalanan darat menembus koridor Surabaya–Malang menuju Blitar–Kediri memakan waktu dan energi fisik yang besar bagi para pengemudi dan tenaga pemasar. Titik lelah fisik (fatigue point) para pengemudi armada niaga secara alami jatuh di sekitar kawasan perbatasan Selorejo-Lahor.

Kondisi biologis pengendara ini bertemu dengan ketersediaan fasilitas menginap dengan tarif terjangkau, area parkir yang memadai, serta kemudahan akses makanan 24 jam. Ya tarif penginapan di sekitar Lahor dan Selorejo hanya berkisar antara Rp.100-200 ribu per malam.

Foto BeritaJatim.com
Hotel di sekitar Bendungan Lahor Blitar-Malang. (Foto : Winanto/beritajatim.com)

Fenomena Selorejo memberikan pelajaran penting dalam perencanaan wilayah berbasis potensi lokal (bottom-up spatial dynamics). Tanpa adanya intervensi rest area formal berskala besar dari pemerintah, pasar telah merespons kebutuhan mobilitas ekonomi secara mandiri dan organik.

Namun, guna menyongsong penambahan hotel serta meningkatnya volume kendaraan niaga terutama dengan dilakukannya penyesuaian jam operasional kendaraan roda empat di Bendungan Lahor, Pemerintah Kabupaten Blitar dinilai perlu memberikan perhatian khusus.

Di antara kepulan asap knalpot truk distribusi dan riak tenang air Bendungan Lahor, Selorejo akan terus berdiri kokoh, bukan sekadar tempat menginap semalam, melainkan jantung transit yang menjaga urat nadi perekonomian dan distribusi barang di Jawa Timur tetap berdenyut lancar. [owi/suf]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.