Bromo dalam Status Waspada, Wisatawan Dihadapkan Dua Ancaman: Erupsi dan Karhutla

0

Probolinggo (beritajatim.com) – Aktivitas Gunung Bromo hingga saat ini masih berada pada Level II (Waspada). Meski belum menunjukkan tanda-tanda erupsi, masyarakat dan wisatawan diminta tidak lengah karena potensi letusan freatik dapat terjadi secara tiba-tiba tanpa didahului gejala vulkanik yang jelas.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Pos Pantau Bromo sekaligus Pengamat Gunungapi Bromo, Wahyu Wijayanto, mengatakan kondisi Gunung Bromo saat ini masih dalam status Waspada dan belum mengalami erupsi. “Masih Waspada kalau Bromo. Belum erupsi,” ujar Wahyu.

Berdasarkan laporan aktivitas Gunung Bromo periode pengamatan 24 jam pada Kamis (10/9/2026) pukul 00.00 hingga 24.00 WIB, secara visual gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut dengan tingkat 0-III.

Dari kawah utama masih teramati asap berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal. Ketinggian asap berkisar antara 50 hingga 400 meter dari puncak.

Sementara kondisi cuaca di kawasan Bromo dilaporkan cerah hingga berawan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur laut, selatan, dan barat daya, dengan suhu udara berkisar 7 hingga 22 derajat Celsius.

Dari sisi kegempaan, Pos Pengamatan Gunungapi Bromo mencatat enam kali gempa Low Frequency dengan amplitudo 1 milimeter dan durasi 22-33 detik. Selain itu, tercatat satu kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 4 milimeter, S-P 3 detik, dan durasi 32 detik.

Aktivitas kegempaan lainnya berupa dua kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 3-7 milimeter, S-P 15-17 detik, dan durasi 82-129 detik. Pos pantau juga mencatat satu kali gempa Tremor Menerus dengan amplitudo 0,5-1 milimeter, dengan amplitudo dominan 0,5 milimeter.

Meski kondisi Bromo belum menunjukkan erupsi, PVMBG tetap mempertahankan status aktivitas Gunung Bromo pada Level II atau Waspada.

Dalam status tersebut, masyarakat maupun wisatawan diminta mematuhi batas aman yang telah ditetapkan. Pengunjung tidak diperbolehkan memasuki kawasan dalam radius 1 kilometer dari kawah aktif Gunung Bromo.

Peringatan tersebut tidak hanya ditujukan kepada wisatawan dan pendaki, tetapi juga masyarakat sekitar, pedagang, serta pengelola wisata.

Pasalnya, salah satu potensi yang harus diwaspadai adalah letusan freatik. Jenis letusan ini dapat terjadi secara mendadak dan tidak selalu didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

“Untuk masyarakat di sekitar Bromo, pedagang, wisatawan, pendaki dan pengelola wisata agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba-tiba dan tanpa didahului gejala-gejala vulkanik yang jelas,” demikian rekomendasi PVMBG.

Gunung Bromo sendiri memiliki ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut dan berada di kawasan Kabupaten/Kota Probolinggo, Jawa Timur. Secara geografis, Bromo berada pada koordinat Latitude -7,942° dan Longitude 112,95° BT.

Di tengah status Bromo yang masih Waspada tersebut, wisatawan juga menghadapi persoalan lain. Akses menuju kawasan wisata Gunung Bromo dari Kabupaten Malang saat ini ditutup hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Penutupan bukan disebabkan peningkatan aktivitas vulkanik Bromo, melainkan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali melanda kawasan konservasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Kebakaran tersebut mulai terjadi pada Kamis (10/9/2026) dan membuat pengelola harus melakukan pembatasan akses demi keselamatan pengunjung serta mendukung proses penanganan kebakaran.

Dengan demikian, kondisi Gunung Bromo dan situasi kawasan wisatanya saat ini memiliki dua persoalan berbeda. Dari sisi vulkanologi, Bromo masih Level II Waspada dan belum erupsi. Namun, dari sisi keselamatan kawasan, akses wisata dari Malang ditutup akibat karhutla.

Wisatawan yang berencana berkunjung pun diimbau tidak hanya memperhatikan status aktivitas vulkanik, tetapi juga perkembangan informasi resmi mengenai pembukaan maupun penutupan jalur wisata di kawasan TNBTS. (ada/kun)


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.