Cahyo Harjo: Fatayat NU Punya Peran Strategis dalam Kaderisasi Perempuan Muda
Surabaya (beritajatim.com) – Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur sekaligus Ketua DPC Gerindra Kota Surabaya, Cahyo Harjo Prakoso, menyebut Fatayat NU memiliki posisi strategis sebagai ruang kaderisasi perempuan muda yang berlandaskan nilai keislaman dan kebangsaan. Menurut dia, peran tersebut juga dapat diperluas untuk menjawab berbagai persoalan perempuan di Surabaya.
Cahyo menyampaikan hal itu saat menghadiri Gema Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus pelantikan Pengurus Cabang Fatayat NU Kota Surabaya periode 2025-2030. Dia menilai kaderisasi perempuan muda perlu berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas dan kepedulian terhadap persoalan sosial.
“Fatayat NU memiliki posisi yang strategis sebagai ruang kaderisasi perempuan muda, terutama dalam membangun generasi yang memiliki nilai keislaman sekaligus wawasan kebangsaan,” ujar Cahyo, Sabtu (26/9/2026).
Cahyo menyampaikan, Fatayat memiliki ruang pengabdian yang luas, mulai dari perlindungan perempuan hingga peningkatan akses pendidikan dan kesehatan. Peran tersebut juga dapat diperkuat melalui pemberdayaan ekonomi agar perempuan muda memiliki kemandirian dan daya tawar di tengah masyarakat.
“Peran Fatayat sangat luas, termasuk dalam memperjuangkan perlindungan perempuan, akses pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi,” kata pria yang juga Sekretaris Fraksi Gerindra DPRD Jatim ini.
Cahyo juga mengajak Fatayat NU mengambil bagian dalam pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan tindak pidana perdagangan perempuan. Penguatan perlindungan, kata dia, perlu berjalan bersama dengan peningkatan keberdayaan perempuan muda agar mereka memiliki kemampuan menghadapi persoalan di lingkungan sekitarnya.
“Kita ingin perempuan muda tidak hanya menjadi objek perlindungan, tetapi juga punya kapasitas untuk melindungi dirinya, keluarganya, dan lingkungannya,” ujar politisi muda ini.
Ruang partisipasi perempuan muda dalam kepemimpinan publik juga perlu diperbesar. Kaderisasi di organisasi, lanjut Cahyo, dapat menjadi salah satu jalur untuk menyiapkan perempuan yang memiliki kemampuan sekaligus keberanian mengambil peran di ruang publik.
“Kepemimpinan perempuan harus terus diperkuat. Kader-kader muda Fatayat harus punya kesempatan untuk tampil dan berkontribusi dalam berbagai bidang,” kata dia.
Cahyo menyebut pembangunan perempuan muda perlu mencakup aspek spiritual, pendidikan, kesehatan, dan kemandirian ekonomi. Keempat aspek tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk perempuan yang memiliki fondasi kuat dan kapasitas untuk berkembang.
“Kita ingin perempuan muda yang kuat secara spiritual, berpendidikan, sehat, mandiri, dan memiliki kapasitas kepemimpinan,” kata alumnus Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya ini.
Upaya tersebut membutuhkan kerja bersama antara organisasi perempuan, pemerintah, legislatif, dan masyarakat. Kolaborasi yang terintegrasi dan berkelanjutan diperlukan agar program pemberdayaan memberikan dampak nyata bagi perempuan muda.
“Membangun perempuan muda seperti itu tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi yang terintegrasi dan berkelanjutan dari kita semua,” katanya.
Cahyo juga menyampaikan selamat kepada pengurus baru PC Fatayat NU Kota Surabaya periode 2025-2030. Dia berharap kepengurusan tersebut semakin dekat dengan kebutuhan perempuan muda dan mampu memperkuat peran Fatayat di tengah masyarakat Surabaya.
“Selamat dan sukses untuk PC Fatayat NU Kota Surabaya. Mari bersama mewujudkan perempuan muda Nahdlatul Ulama yang berdaya dan berakhlaqul karimah,” pungkas Cahyo. [asg/kun]
Link informasi : Sumber