Dari Sujud Syukur hingga Santunan, Shiddiqiyyah Jombang Hadirkan Makna Kemerdekaan yang Sesungguhnya
Ringkasan Berita:
- Shiddiqiyyah Jombang memaknai kemerdekaan melalui sujud syukur, doa, dan kepedulian sosial dengan memberikan santunan kepada 200 anak yatim serta tali asih kepada 30 veteran.
- Tasyakuran Kemerdekaan di Pesantren Majma’al Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman menjadi momentum memperkuat rasa syukur atas kemerdekaan Bangsa Indonesia dan berdirinya NKRI.
- Selain santunan, Shiddiqiyyah juga menegaskan komitmen sosial melalui program Rumah Syukur Kemerdekaan yang telah membangun ribuan rumah bagi masyarakat yang membutuhkan.
Jombang (beritajatim.com) — Kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan upacara bendera dan berbagai kegiatan seremonial. Bagi warga Shiddiqiyyah Jombang, kemerdekaan dimaknai sebagai nikmat besar yang harus disyukuri melalui doa, ibadah, serta kepedulian terhadap sesama.
Makna itu terasa kuat dalam acara ‘Tasyakuran Nikmat Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ke-81’ yang digelar di Pesantren Majma’al Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman, Desa Losari, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Rabu malam (19/8/2026).
Malam itu, suasana haru dan bahagia menyelimuti pesantren. Ratusan anak yatim dan fakir miskin tampak sumringah ketika menerima bingkisan santunan dari Ketua Umum Dhilaal Berkat Rohmat Alloh (DHIBRA) Shiddiqiyyah, Nyai Shofwatul Ummah.
Senyum bahagia terpancar dari wajah anak-anak tersebut. Mereka tak henti mengucapkan rasa syukur saat menerima bingkisan yang diberikan. Bagi mereka, pemberian itu bukan sekadar bantuan, melainkan bentuk kasih sayang dan perhatian yang memberikan kebahagiaan tersendiri.
Kebahagiaan serupa juga dirasakan oleh 30 veteran yang hadir dalam kegiatan tersebut. Para pejuang bangsa itu mendapatkan tali asih sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengabdian mereka dalam perjalanan sejarah Indonesia.
Sejak memasuki bulan Agustus, nuansa kemerdekaan memang telah terasa di lingkungan Pesantren Majma’al Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman. Malam itu, para tamu undangan datang secara bergelombang untuk mengikuti rangkaian acara. Bangunan pesantren dengan menara menjulang bernuansa Timur Tengah seolah menjadi penyambut bagi para jamaah yang hadir.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sujud syukur yang berlangsung di Masjid Raya Fatchan Mubina Chaadun ‘Adhim. Para jamaah mengikuti prosesi tersebut dengan penuh kekhusyukan. Dalam suasana hening dan khidmat, mereka menundukkan diri sebagai bentuk rasa terima kasih atas nikmat kemerdekaan yang telah diberikan kepada bangsa Indonesia.
Usai sujud syukur, kegiatan dilanjutkan dengan pemberian santunan dan tali asih yang berlangsung di serambi ndalem Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Kiai Muchammad Mukhtar Mu’thi.
Syukur Kemerdekaan Melalui Doa dan Kepedulian
Ketua Umum DHIBRA Shiddiqiyyah, Nyai Shofwatul Ummah, menjelaskan bahwa rangkaian tasyakuran kemerdekaan telah dimulai sejak 17 Agustus 2026 melalui wiridan dan doa bersama.
Menurutnya, Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah mengajarkan bahwa cara mensyukuri kemerdekaan tidak hanya dilakukan dengan mengenang sejarah, tetapi juga melalui ibadah dan kepedulian sosial.
“Mursyid mengajarkan cara mensyukuri kemerdekaan dengan berdoa, sujud syukur, kemudian dilanjutkan dengan santunan,” ujar Nyai Shofwatul.
Ia menjelaskan, pada kegiatan tersebut sebanyak 200 anak yatim dan fakir miskin mendapatkan santunan, sedangkan tali asih diberikan kepada 30 veteran.
“Malam ini sebanyak 200 anak yatim yang mendapat santunan, sedangkan tali asih diberikan kepada 30 veteran. Ini cara kita mensyukuri nikmat kemerdekaan,” katanya.
Nyai Shofwatul Ummah juga menegaskan bahwa terdapat dua momentum besar yang harus selalu diingat dan disyukuri oleh bangsa Indonesia. Yakni kemerdekaan Bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 dan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 18 Agustus 1945.
Menurutnya, kedua peristiwa tersebut merupakan bagian penting dalam perjalanan bangsa yang tidak dapat dipisahkan. “Ini dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dan kedua-duanya wajib disyukuri,” tegasnya.
Meluruskan Makna Sejarah Kemerdekaan

Ketua Umum DPP Orshid (Organisasi Shiddiqiyyah), Joko Herwanto, menyampaikan bahwa kegiatan tasyakuran kemerdekaan tersebut merupakan agenda rutin yang dilakukan setiap tahun oleh Shiddiqiyyah.
Ia menjelaskan, kegiatan itu memiliki dua tujuan utama. Pertama, sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas kemerdekaan bangsa Indonesia. Kedua, sebagai upaya menjaga pemahaman sejarah agar masyarakat memahami momentum penting dalam perjalanan bangsa.
Joko menyampaikan bahwa Shiddiqiyyah secara konsisten mengingatkan bahwa 17 Agustus merupakan momentum kemerdekaan Bangsa Indonesia sebagaimana tertuang dalam teks Proklamasi.
Sementara itu, 18 Agustus 1945 menjadi momentum berdirinya NKRI. Untuk menyambut kedua momentum tersebut, warga Shiddiqiyyah melaksanakan rangkaian ibadah ritual berupa wiridan dan sujud syukur selama tiga hari berturut-turut, yakni pada 17, 18, dan 19 Agustus.
Namun, menurut Joko, rasa syukur tidak cukup hanya diwujudkan melalui ibadah ritual. Syukur juga harus diwujudkan melalui kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan.
“Kita juga tidak melupakan pejuang bangsa. Itu terwujud dengan mengundang para veteran di Kabupaten Jombang. Semoga ini menjadikan kita sebagai bangsa yang pandai bersyukur,” ujarnya.
Rumah Syukur Kemerdekaan untuk Masyarakat
Selain santunan dan tali asih, Shiddiqiyyah juga memiliki program sosial berupa pembangunan Rumah Syukur Kemerdekaan.
Nyai Shofwatul Ummah menjelaskan, sebanyak 136 unit rumah syukur dibangun dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Rumah tersebut diberikan kepada masyarakat yang memenuhi kriteria tanpa membebani penerima biaya pembangunan.
Mulai dari pembangunan fondasi hingga menjadi rumah yang layak dihuni, seluruh proses ditanggung melalui program tersebut.
“Tentu yang menerima rumah syukur tersebut sesuai dengan kriteria. Bukan berdasarkan agama. Bahkan umat agama lain atau selain Islam juga ada yang mendapatkan program ini,” jelasnya.
Program ini telah berjalan selama 25 tahun. Dalam kurun waktu tersebut, sekitar 2.500 unit rumah syukur berhasil dibangun. Seluruh pembiayaan berasal dari kemandirian warga Shiddiqiyyah. Setiap satu rumah memiliki anggaran sekitar Rp100 juta.
Dari sujud syukur hingga santunan, Shiddiqiyyah Jombang menghadirkan pesan bahwa kemerdekaan bukan sekadar warisan sejarah, tetapi amanah untuk terus dijaga melalui kebaikan dan berbagi kepada sesama. [suf]
Link informasi : Sumber