Diah Srikandi Bangkit dari Keterpurukan, Sulap Jantung Pisang Jadi Produk UMKM Kediri
Ringkasan Berita
- Diah Retno Srikandi bangkit setelah hampir menyerah akibat usahanya terdampak pandemi Covid-19.
- UMKM asal Desa Wonokerto, Kediri, ini mengembangkan dendeng dan sambal berbahan jantung pisang.
- Bahan baku jantung pisang semakin sulit diperoleh akibat musim panas dan keterbatasan pasokan.
Kediri (beritajatim.com) – Pandemi Covid-19 pernah membuat Diah Retno Srikandi hampir menyerah menjalankan usaha. Kini, pelaku UMKM asal Desa Wonokerto, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, itu perlahan kembali bangkit dengan mengandalkan inovasi olahan berbahan dasar jantung pisang.
Diah mengembangkan sejumlah produk, mulai dari dendeng jantung pisang, aneka sambal jantung pisang hingga produk bakery seperti pai brownies dan nastar.
Perjalanan tersebut tidak mudah. Pandemi membuat aktivitas pameran dan pemasaran ke luar daerah terhenti. Modal yang sebelumnya dikeluarkan untuk mengembangkan usaha ikut terdampak hingga membuat Diah kehilangan semangat.
“Mulai Covid itu wes mulai saya jatuh. Aduh, kalau saya ingat itu. Mulai bangkit lagi baru kemarin, belum nyampek setahun,” ujarnya.
Diah mengaku sempat benar-benar putus asa setelah modal usahanya banyak yang hilang.
“Waktu terakhir kena Covid itu banyak sekali modal saya hilang. Saya sudah putus asa,” kenangnya.
Ia kemudian memilih tidak lagi mengikuti berbagai pameran dan lebih fokus mengembangkan usaha bakery dari rumah.
Namun, keputusan itu perlahan berubah setelah seorang teman mengajaknya mengisi sebuah kafetaria. Awalnya Diah menolak karena ingin berkonsentrasi membuat roti. Setelah diyakinkan untuk mencoba, produknya justru mendapat sambutan cukup ramai.
Kesempatan tersebut menjadi titik balik. Semangat Diah mulai tumbuh kembali. Berbagai ide baru bermunculan hingga ia kembali serius mengembangkan produk UMKM miliknya.
Jantung Pisang Jadi Jalan Inovasi
Sebelum menekuni olahan jantung pisang, Diah sudah memproduksi roti dan kue sejak 1991. Setelah puluhan tahun berkutat dengan bakery, ia mulai merasa jenuh dan mencari produk baru yang memiliki karakter berbeda.
Sekitar 2013, ia mulai merintis usaha olahan jantung pisang. Dua tahun kemudian, produknya mulai berkembang dan dikenal hingga Surabaya serta Jakarta.
Menurut Diah, inovasi menjadi alasan utama dirinya memilih jantung pisang sebagai bahan dasar.
“Jadi, ya inovasi ini yang sekiranya orang enggak bisa bikin gitu loh. Saya kepenginnya seperti itu. Ternyata masyarakat itu banyak yang minat gitu loh. Apalagi kalau kita di luar kota, terutama Surabaya, Jakarta itu minatnya banyak sekali,” ujarnya.
Sebelum pandemi, pemasaran produknya bahkan hampir menjangkau berbagai wilayah di Indonesia. Hanya Papua dan Aceh yang belum tersentuh pasar produknya.
Dari berbagai produk yang dikembangkan, dendeng dan sambal jantung pisang menjadi andalan. Sambal bahkan cukup diminati ketika dipasarkan ke luar daerah.
Berburu Jantung Pisang hingga Pasar Pare
Di balik produk yang mulai kembali menemukan pasar, Diah menghadapi persoalan lain: bahan baku.
Jantung pisang tidak selalu mudah diperoleh. Musim panas yang berlangsung lebih panjang membuat tanaman pisang tidak banyak menghasilkan jantung. Selain itu, tidak semua jantung pisang bisa digunakan sebagai bahan produksi.
Untuk memenuhi kebutuhan, Diah biasanya mengandalkan pengepul yang sebelumnya sudah menjadi pemasok. Ketika pasokan menipis, ia harus mencari sendiri ke sejumlah pasar.
Tidak jarang, Diah membeli jantung pisang sedikit demi sedikit dari warga. Ia bahkan rela pergi ke Pasar Pare pada pukul 02.00 WIB demi mendapatkan bahan baku.
“Sekarang mahal harganya, kadang-kadang barang langka, enggak ada. Kita ke mana-mana sampai sampai beli satu-satu punya orang itu saya beli. Sampai segitu. Karena jantung pisang kan jarang di pasar juga ya. Kalau tertentu saja. Jantung pisang itu juga tertentu yang dipakai,” jelasnya.
Keterbatasan bahan baku membuat produksi tidak dapat dilakukan secara cepat. Pengolahan jantung pisang membutuhkan proses panjang dan ketelitian. Untuk memenuhi pesanan dalam jumlah besar, Diah bahkan membutuhkan waktu hingga sekitar 10 hari.
Produk Kembali Masuk Pusat Oleh-Oleh
Perlahan, produk Diah kembali menemukan pasar. Saat ini, produknya sudah masuk ke sekitar 10 outlet pusat oleh-oleh.
Peluang pasar juga mulai datang dari luar Jawa. Baru-baru ini, seorang pemilik usaha tertarik membawa produknya ke Balikpapan. Produk tersebut nantinya akan dikemas kembali menggunakan merek milik pembeli.
Bagi Diah, kerja sama tersebut menjadi salah satu cara memperluas pasar tanpa harus selalu mengandalkan mereknya sendiri.
Sebagian besar proses produksi masih dikerjakan Diah seorang diri. Ia menerapkan sistem produksi berdasarkan pesanan dari toko sehingga produk yang dibuat setiap hari bisa berbeda, menyesuaikan permintaan pasar.
Di tengah proses bangkit tersebut, Diah masih mempertahankan produk bakery yang selama ini menjadi bagian dari usahanya. Pai brownies, nastar dan berbagai produk lainnya tetap dibuat untuk memenuhi permintaan pelanggan.
Kini, target Diah tidak lagi sebatas mengembalikan usahanya seperti sebelum pandemi. Ia ingin produk UMKM dari Kediri tersebut kembali dikenal lebih luas sekaligus membuka peluang kerja sama baru.
Salah satu harapan yang tengah ia bidik adalah menjadikan produk UMKM miliknya sebagai bagian dari bingkisan jamaah haji pada 2027.
“Saya pengin, ya, boleh perkenalkan lebih luas. Tujuan saya kan seperti itu,” kata Diah.
Perjalanan Diah menunjukkan bahwa inovasi bisa lahir dari bahan yang sederhana. Jantung pisang yang selama ini kerap dipandang sebagai bahan pangan biasa, di tangannya berubah menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus menjadi jalan untuk membawa produk lokal Kediri kembali menjangkau pasar yang lebih luas. [nm/ian]
Link informasi : Sumber