Wabup As’ad: Kopi Bondowoso Harus Naik Kelas, Jangan Dijual Mentah

0

Bondowoso (beritajatim.com) – Wakil Bupati Bondowoso As’ad Yahya Safi’i mendorong komoditas kopi arabika Ijen-Raung tidak berhenti sebagai produk bahan mentah. Menurutnya, kopi Bondowoso harus diolah menjadi produk bernilai tambah agar mampu menembus pasar nasional hingga internasional.

Hal itu disampaikan As’ad saat menutup Festival Kopi Nusantara dan Tembakau (FKNT) IX 2026, Jumat (4/9/2026) malam.

As’ad mengatakan, kopi arabika Ijen-Raung dan tembakau merupakan komoditas unggulan yang memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan ekonomi daerah.

Namun, potensi tersebut harus diikuti dengan keberanian melakukan hilirisasi. Dengan begitu, nilai ekonomi yang dihasilkan tidak berhenti pada penjualan komoditas dalam bentuk bahan mentah.

“Kopi Bondowoso harus diproses untuk menghasilkan produk inovatif, beragam, dan bernilai tambah tinggi yang dapat dipasarkan di tingkat nasional dan internasional,” kata As’ad.

Menurutnya, hilirisasi kopi membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah, petani, pelaku UMKM, akademisi dan generasi muda harus duduk bersama menciptakan inovasi serta memperluas pasar produk kopi Bondowoso.

As’ad berharap pengembangan kopi dan tembakau tidak hanya meningkatkan daya saing produk daerah. Lebih jauh, sektor tersebut harus mampu meningkatkan kesejahteraan petani, mendorong pertumbuhan ekonomi dan memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Di sisi lain, As’ad mengajak generasi muda mengambil peran lebih besar dalam kebangkitan “Bondowoso Republik Kopi”.

Ia menilai kreativitas anak muda Bondowoso semakin berkembang. Hal itu salah satunya terlihat dari berbagai kegiatan positif dan inovatif yang mengisi ruang publik selama pelaksanaan FKNT IX.

“Festival ini menjadi bukti kesiapan daerah untuk maju di tengah semarak pembangunan dan bangkitnya semangat anak-anak muda Bondowoso yang kini semakin kreatif meramaikan ruang publik dengan inovasi dan kegiatan positif,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi seluruh peserta dan pemenang lomba dalam rangkaian FKNT IX dan Tembakau 2026.

“Saya ucapkan selamat kepada seluruh pemenang lomba festival ini. Kemenangan ini harus mendorong Anda untuk terus bekerja dan mengangkat nama Bondowoso,” katanya.

As’ad kemudian mengajak pelajar dan masyarakat untuk ikut mencintai dan menggunakan produk lokal. Menurutnya, keberpihakan masyarakat terhadap produk daerah menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ekonomi lokal.

“Melalui penutupan festival ini, saya mengajak anak-anakku para siswa dan seluruh warga Bondowoso untuk terus bangga dan mencintai produk lokal kita,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Bondowoso Mulyadi mengatakan pelaksanaan FKNT IX berlangsung sukses. Salah satu kegiatan yang menarik perhatian adalah kompetisi inovasi berbasis kulit kopi.

Kompetisi tersebut diikuti peserta dari berbagai latar belakang, termasuk kalangan akademisi. Bahkan, peserta tidak hanya berasal dari Bondowoso maupun Pulau Jawa.

“Peserta ada dari delapan kompetensi inovasi kulit kopi. Banyak yang berasal dari akademisi. Tahun berikutnya, semoga bisa menambah kompetensi, mengingat banyak peserta yang datang dari luar Jawa,” kata Mulyadi.

Menurutnya, pemanfaatan kulit kopi menjadi salah satu bagian penting dalam mendorong hilirisasi komoditas kopi. Limbah yang selama ini berpotensi menjadi sampah dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Inovasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan kopi tidak hanya berkutat pada biji kopi. Bagian lain dari tanaman maupun proses produksi juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.

Selain kopi dan tembakau, FKNT IX juga menggabungkan promosi komoditas unggulan daerah dengan seni dan budaya.

Mulyadi mengatakan, penampilan seni pada malam penutupan merupakan hasil seleksi dari lomba yang digelar selama rangkaian festival.

Dengan konsep tersebut, FKNT IX tidak hanya menjadi ruang promosi kopi dan tembakau, tetapi juga menjadi wadah kreativitas masyarakat, akademisi dan generasi muda untuk melahirkan inovasi yang dapat memperkuat posisi Bondowoso sebagai daerah penghasil kopi. (awi/ian)


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.