Dua Pesan dari Catatan Se7arah Persebaya di Padang
Kemenangan telak Persebaya atas Semen Padang di Stadion Gelora Haji Agus Salim, Padang, Jumat (15/5/2026), mengirimkan dua pesan penting.
Pesan pertama tentu saja soal performa Persebaya yang semakin membaik. Tujuh gol tanpa balas ke gawang Semen Padang di hadapan 1.516 penonton pada pekan 33, membuat Persebaya menjadi tim paling produktif dengan pertahanan terkokoh di Super League 2025-26 dalam lima pekan terakhir.
Dengan empat kemenangan dan satu hasil imbang, Green Force mencatatkan 17 gol tanpa sekalipun kebobolan dalam lima pertandingan terakhir. Kontras dengan lima pertandingan awal musim ini yang mencatatkan dua kemenangan, dua kekalahan, dan satu hasil umbang, dengan tujuh gol memasukkan dan lima gol kemasukan.
Tujuh gol Persebaya ke gawang Semen Padang yang dikawal Iqbal Bachtiar dicetak Francisco Rivera pada menit 16, Arief Catur Pamungkas pada menit 19, Bruno Moreira pada menit 50, Mihaila Perovic pada menit 63, dan hat-trick Bruno Paraiba pada menit 68, 74, dan 90+3.
Franciso Rivera kembali menunjukkan posisinya sebagai pemain paling penting di Persebaya. Tidak hanya mencetak satu gol, dia memberikan dua assist untuk Catur dan Bruno Moreira. Hingga pekan 33, pria asal Meksiko itu adalah pemain paling produktif di Persebaya dengan 13 gol dan 9 assist. Pemain dengan catatan paling mendekatinya adalah Bruno Moreira, winger asal Brasil dengan 10 gol dan 7 assist.
Kombinasi 23 gol Rivera dan Moreira menyumbangkan 41 persen gol Persebaya musim ini, yang memastikan bahwa mereka benar-benar tulang punggung tim.
Hasil positif sejak pekan 29 menunjukkan bagaimana skema taktik Bruno Tavares semakin matang dan dipahami para pemain. Aliran bola yang cair, pergerakan pemain yang kompak, dan akurasi operan yang makin membaik membuat serangan Persebaya semakin tajam.
Saat melawan Semen Padang, dengan akurasi operan 85 persen, anak-anak Persebaya bisa mencatatkan 19 kali peluang, 10 di antaranya tembakan tepat sasaran yang berbuah tujuh gol. Sementara itu rapatnya pertahanan membuat tim tuan rumah hanya bisa mencatatkan satu tembakan tepat sasaran dari sebelas tembakan ke gawang Andhika Ramadhani.
Performa Bruno Paraiba yang musim ini sudah mencatatkan empat gol dan dua assist dalam sepuluh pertandingan membuat Bruno Tavares tersenyum senang. Musim depan dia punya opsi kran gol. Namun Paraiba punya pekerjaan rumah untuk meningkatkan stamina jika ingin bisa tampil 90 menit. Atau dia hanya akan diposisikan supersub oleh Tavares? Entahlah.
Pesan kedua yang dikirimkan dari Padang adalah tentang perlunya sebuah klub untuk mempelajari dan menghargai sejarah sendiri. Apalagi di sebuah klub seperti Persebaya yang sempat mengalami dualisme karena intervensi politik federasi.
Setelah wasit Mustafa Kamal meniupkan peluit panjang yang memastikan kemenangan 7-0 atas Semen Padang, akun media sosial resmi klub menyatakan, bahwa Persebaya harus menunggu sebelas tahun untuk bisa menang lagi di kandang Semen Padang.
Cuitan ini langsung dibantah Iwan Rachmadi, anggota Bonek Writers Forum. “Persebaya belum pernah menang atas Semen Padang di Padang,” katanya.
Iwan curiga Persebaya yang dimaksud dalam unggahan di media sosial itu adalah Persebaya versi PSSI yang mengalahkan Semen Padang 1-0 di Gelora Haji Agus Salim, dalam turnamen Piala SCM, Januari 2015. Gol tunggal kemenangan saat itu dicetak penyerang sayap Ilham Udin Armaiyn pada menit 35.
Ini bikin Iwan dongkol bukan kepalang. “Menyedihkan sekali melihat fakta bahwa akun resmi Persebaya justru diisi oleh orang-orang yang tidak sepenuhnya paham sejarah Persebaya, terutama di era dualisme dulu,” katanya.
Bonek tidak pernah mengakui Persebaya versi PSSI yang lahir setelah Persebaya menyeberang ke Liga Primer Indonesia, yang berstatus breakaway league, seusai Liga Super 2009-2010. Langkah ini juga dilakukan PSM Makassar, Persema Malang, Semen Padang, Semen Padang, dan Persibo Bojonegoro.
Rezim PSSI di bawah Nurdin Halid kemudian memutuskan untuk tidak mengakui Persebaya yang dinaungi PT Persebaya Indonesia tersebut. Mereka memilih mengakui Persebaya yang dinaungi PT Mitra Muda Inti Berlian (MMIB).
Bonek melakukan perlawanan dengan memboikot seluruh pertandingan Persebaya versi PSSI. Mereka memilih memadati pertandingan Persebaya (1927) di bawah naungan PT Persebaya Indonesia. Manajemen terpaksa menambahkan ‘1927’ di belakang nama Persebaya agar bisa mendapatkan izin bertanding dari kepolisian.
Unifikasi federasi yantg sempat terbelah antara Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) dalam Kongres Luar Biasa 17 Maret 2013, tidak mengakomodasi Persebaya 1927 dan lebih memilih Persebaya versi PT MMIB.
Sejak saat itu nasib Persebaya terkatung-katung. Bonek enggan hadir di stadion untuk menyaksikan Persebaya versi PSSI. Bahkan mereka memilih turun ke jalan untuk menuntut pengakuan kembali Persebaya (1927).
Dukungan untuk Persebaya (1927) juga mengalir dari suporter klub lain. Paling fenomenal adalah dukungan suporter Sleman dengan cara memboikot pertandingan tandang PSS melawan Persita Tangerang di Karawang pada 12 November 2016,
Daulisme ini sempat membuat Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi membekukan PSSI pada 17 April 2015. PSSI pun gagal menggelar kompetisi resmi dan hanya bisa menggelar turnamen biasa. Salah satumya yang diikuti Persebaya PT Mitra Muda Inti Berlian.
Konflik mulai terurai setelah PT Persebaya Indonesia memenaangi sengketa logo dan merek pada 2016. Persebaya (1927) kembai diakui dan mengakhiri masa absen dari kompetisi resmi sejak 2013 dengan menjuarai Liga 2 pada 2017.
Iwan Rachmadi berharap admin akun resmi Persebaya benar-benar memahami sejarah klub mereka sendiri. “Banyak sesat sejarah di sepak bola Indonesia,” katanya.
Sebenarnya bukan hanya manajemen Persebaya yang mengabaikan sejarah klub. Mayoritas manajemen klub di Indonesia (untuk tidak mengatakan semuanya) lebih memperhatikan aspek bisnis dan teknis di lapangan daripada repot-repot memgurusi sejarah sebagai aset klub.
Belum ada manajemen klub di Indonesia menerbitkan buku resmi sejarah mereka sendiri. Ini berbeda dengan klub-klub di Inggris yang punya tradisi menerbitkan buku sejarah sejak awal berdiri maupun catatan statistik setiap kompetisi yang diikuti.
Buku-buku sejarah klub di Indonesia justru lebih banyak ditulis oleh suporter, dan Persebaya beruntung memiliki suporter yang mau merawat sejarah dengan menerbitkan bnku secara independen.
Sebut saja Drama Mahkota Juara Persebaya 19975-1977 karya Eko Wardhana, Sejarah Klub Sepak Bola di Surabaya: Dari SIVB Menjadi Persebaya 1927-1978 karya Jemmy Husny Mubarak, Sepak Bola Gajah Paling Spektakuler: Persebaya Ngalah 0-12 Buat Persipura karya Slamet Oerip Prihadi dan Abdul Muis, The Champions: Persebaya Sang Juara karya Sidiq Prasetyo, dan SIVB: Pasang Surut Sepak Bola Bumiputera di Surabaya 1926-1942.
Azrul Ananda bertekad menjadikan momentum satu abad Persebaya pada 2027 untuk mengakhiri paceklik juara liga sejak 2004. Penampilan Persebaya yang makin membaik di bawah Bernardo Tavares mengirimkan pesan keseriusan.
Sementara itu belum ada pesan yang ditangkap dari manajemen untuk merawat sejarah Persebaya melalui penerbitan buku resmi. Satu-satunya komunitas yang jauh-jauh hari sudah bertekad menulis buku sejarah untuk merayakan seratus tahun Persebaya adalah Bonek Writers Forum. Mereka tak ingin merayakan seratus tahun dalam kesunyian.
Oryza A. Wirawan,
Jurnalis Senior dan Pemerhati Sepakbola
Link informasi : Sumber