Kuliner Nusantara Puaskan Lidah Jemaah Haji di Makkah, Pasokan Air Melimpah
RINGKASAN BERITA:
Jemaah haji Indonesia mengapresiasi kualitas katering reguler bercita rasa Nusantara selama di Makkah.
Paket makanan bergizi didistribusikan petugas tiga kali sehari langsung ke setiap kamar hotel pemondokan.
Dirjen Kemenhaj memastikan standardisasi menu katering dipantau rutin demi menjaga fisik jemaah.
Kehadiran warung makan khas Indonesia di hotel menjadi alternatif pengobat rindu kampung halaman.
Makkah (beritajatim.com) – Sejumlah jemaah haji Indonesia memuji kualitas layanan konsumsi reguler bercita rasa Nusantara yang disediakan pemerintah selama di Makkah karena dinilai lezat, bergizi seimbang, dan sangat cocok dengan lidah tanah air.
Kepastian mutu pangan dan pemenuhan nutrisi harian ini menjadi jaminan penting pelayanan prima yang sekaligus mengikis kekhawatiran pihak keluarga di tanah air.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, kepuasan jemaah terhadap katering harian ini menjadi indikator positif keberhasilan manajemen logistik.
Di tengah paparan suhu panas ekstrem Kota Makkah yang menyentuh angka 43 derajat Celsius, pasokan makanan segar dan ketersediaan air mineral yang melimpah menjadi kunci vital dalam menjaga kebugaran 173.928 jemaah nasional sebelum memasuki fase Armuzna.
Uswatun Hasanah, jemaah asal Embarkasi JKB 13 Pandeglang, Banten, mengaku sangat terbantu dengan kesesuaian menu harian yang diberikan. Perempuan yang akrab disapa Bu Guru Puput ini menilai hidangan yang disajikan sangat akrab dengan kebiasaan kuliner di rumah sehingga tidak menyulitkan proses adaptasi jemaah, khususnya kelompok lansia.
“Menu yang saya terima ada nasi putih, ayam, ikan, terong balado. Nasinya sama dengan yang kita makan waktu di rumah, pas rasanya dan masuk ke perut,” ujar Uswatun saat ditemui di Hotel Al-Hidayah, Aziziyah, Makkah, Jumat (15/5/2026).
Distribusi Tepat Waktu Langsung ke Kamar
Puput menceritakan bahwa paket makanan siap santap tersebut diantarkan tepat waktu oleh Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi langsung ke depan kamar jemaah sebanyak tiga kali sehari, yakni pagi, siang, dan sore. Sinergi yang baik dengan ketua rombongan membuat proses pembagian berjalan rapi dan cepat tanpa memicu penumpukan antrean.
Meskipun menu yang disajikan sudah memenuhi unsur gizi seimbang yang terdiri dari karbohidrat, lauk pauk, dan buah-buahan, Puput memberikan masukan konstruktif agar porsi buah segar bisa ditambah pada setiap sesi makan guna membantu hidrasi tubuh jemaah.
“Tapi jujur soal buah, saya sih usul agar bisa ditambah di setiap sesi. Soalnya sekarang tidak di setiap sesi makan ada buahnya,” katanya.
Selain kelayakan gizi katering, jemaah dibuat tenang dengan ketersediaan air mineral botol yang disuplai dalam jumlah yang sangat banyak di hotel. “Seer cai mah, nambah dei nambah dei (banyak sekali kalau air minum, nambah lagi, nambah lagi),” cetus Puput.
Kenyamanan senada diutarakan oleh Arisah, jemaah lansia asal Kadubumbang, Pandeglang. Dirinya mengaku sangat menikmati setiap jatah logistik harian dan tidak mengalami kendala pencernaan selama tinggal di hotel. “Alhamdulillah tidak semua makanannya masuk ke perut,” kata Nenek Arisah sambil tersenyum tipis.
Standardisasi rasa dan kandungan higienitas ini sejalan dengan hasil inspeksi mendadak yang dilakukan oleh Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU) Kemenhaj, Jaenal Effendi, di Sektor 10 Makkah. Langkah pengawasan berkala ini dilakukan untuk memastikan kepatuhan dapur katering mitra terhadap kontrak profesional yang telah disepakati.
“Ini menu malam hari dan sangat Indonesia sekali, karena ada tempe, teri, dan ikan. Pelaksanaan ibadah haji membutuhkan kondisi fisik yang prima, sehingga jamaah memerlukan asupan makanan yang baik agar tetap kuat menjalankan rangkaian ibadah,” ujar Jaenal saat memeriksa kualitas menu.
Selain menguji kelayakan katering berkala, Jaenal mengapresiasi pembukaan warung makan Nusantara di area komersial Hotel Al Hidayah. Fasilitas ini sengaja dihidupkan sebagai alternatif pengobat rindu jemaah terhadap masakan kampung halaman, sekaligus menggerakkan roda ekonomi bagi diaspora Indonesia di Arab Saudi.
“Ini bisa menjadi obat kangen jamaah terhadap masakan Indonesia. Mudah-mudahan juga memberi manfaat ekonomi dan multiplier effect bagi masyarakat Indonesia, termasuk diaspora yang ada di Arab Saudi,” katanya. [ian/MCH]
Link informasi : Sumber