Gambus Misri Kembali Bernyawa, Generasi Muda Jombang Hidupkan Warisan yang Hampir Terlupakan
Ringkasan Berita:
- Kesenian tradisional khas Jombang, Gambus Misri Bintang 9, kembali hadir melalui Festival Gambus Misri 2026 di Desa Kendalsari, Sumobito, setelah lama mengalami mati suri.
- Festival Gambus Misri mempertemukan maestro seni tradisi dengan generasi Z melalui kolaborasi pertunjukan, drama rakyat, musik Melayu, dan tarian bernuansa Islami.
- Selain menghidupkan kembali warisan budaya Jombang, Festival Gambus Misri 2026 juga melibatkan UMKM warga dan menjadi langkah menuju Desa Wisata Edukasi Gambus Misri.
Jombang (beritajatim.com) — Angin malam berembus pelan di Desa Kendalsari, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, Senin malam (10/8/2026). Di bawah gemerlap lampu panggung sederhana, ratusan pasang mata tertuju ke satu titik: panggung tempat sebuah warisan budaya yang pernah lama tertidur itu kembali menunjukkan denyut kehidupannya.
Malam itu, Gambus Misri seolah bangkit dari mati suri. Setelah hampir empat dekade vakum dan nyaris terlupakan, kesenian khas Jombang tersebut kembali menyapa masyarakat melalui Festival Gambus Misri 2026 yang berlangsung selama dua hari, 9–10 Agustus 2026.
Warga datang berbondong-bondong. Mereka tidak hanya ingin menonton sebuah pertunjukan, tetapi juga ingin menyaksikan sejarah yang kembali ditulis. Sebuah kesenian lama yang dulu menjadi hiburan rakyat, kini kembali berdiri di atas panggung dengan wajah baru: membawa semangat para maestro sekaligus energi generasi muda.
Dari Panggung Sederhana, Harapan Baru Dilahirkan
Lampu panggung mulai berkedip. Alunan musik melayu perlahan memenuhi udara malam. Melodi gitar terdengar mendayu-dayu, berpadu dengan hentakan gendang yang mengajak penonton larut dalam suasana.
Anak muda mengenakan jas hitam naik ke atas panggung. Mereka membuka pertunjukan dengan lagu ‘Selamat Datang’, sebuah lagu ikonik yang menjadi bagian dari perjalanan panjang Gambus Misri.
Mereka bukan seniman senior yang tumbuh di era kejayaan Gambus Misri. Mereka adalah generasi Z—anak-anak muda yang memilih untuk mengenal, belajar, dan meneruskan warisan budaya leluhur.
Pertunjukan malam diawali oleh Teater Dermaga dari SMK Unggulan NU Mojoagung. Para pelajar ini sebelumnya mengikuti Kemah Gambus Misri (Gambus Misri Camp 2026) pada awal Juli lalu bersama Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur.
Di kemah tersebut, mereka belajar langsung dari para maestro tentang berbagai unsur pertunjukan Gambus Misri, mulai dari teknik vokal, drama rakyat, hingga musik gambus. Ilmu yang diperoleh kemudian mereka bawa kembali ke sekolah dan diwujudkan dalam sebuah pementasan.
Setelah lagu pembuka, panggung berubah menjadi arena drama. Para pemain muda memainkan lakon yang telah diarahkan sang sutradara berjudul’ Bismillahi Tabisa Fir’aun’. Cerita mengalir dengan iringan musik Melayu yang menjadi ciri khas Gambus Misri.
Lima gadis muda kemudian tampil sebagai penari latar. Mengenakan busana bernuansa Timur Tengah, mereka bergerak mengikuti irama musik dengan sentuhan gerakan Zapin. Penonton menyambut dengan antusias. Beberapa bahkan ikut bergoyang mengikuti alunan lagu.
Malam itu, batas antara penonton dan pemain seakan menghilang. Gambus Misri bukan hanya ditonton, tetapi kembali dirasakan bersama.
Warisan Santri Tebuireng yang Menyatukan Seni dan Dakwah

Gambus Misri bukan sekadar pertunjukan hiburan. Kesenian ini memiliki akar sejarah yang kuat di Kabupaten Jombang.
Kesenian tersebut diciptakan oleh almarhum Asfandi, seorang santri Tebuireng yang notebene ayahanda dari pelawak Asmuni. Dalam perkembangannya, Gambus Misri mengadopsi struktur pertunjukan drama rakyat seperti ludruk, lalu memadukannya dengan berbagai unsur seni.
Ada musik gambus bernuansa Melayu, tarian yang terinspirasi gerakan Zapin, lagu-lagu Islami, lawakan khas rakyat, hingga cerita yang membawa pesan moral, sosial, dan dakwah Islam.
Perpaduan inilah yang membuat Gambus Misri memiliki karakter unik. Ia bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi tuntunan.
Namun perjalanan kesenian ini tidak selalu mudah. Gambus Misri sempat kehilangan panggung selama kurang lebih 40 tahun sebelum akhirnya mulai dihidupkan kembali oleh Yayasan Air Kita pada 2018.
Kini, melalui Festival Gambus Misri 2026, kesenian tersebut kembali mendapatkan ruang besar di tengah masyarakat.
Pertemuan Dua Generasi: Maestro dan Anak Muda
Malam semakin larut, namun panggung belum kehilangan pesonanya.
Setelah penampilan generasi muda, giliran Gambus Misri Bintang Sembilan tampil membawa pengalaman panjang para seniman senior. Kehadiran mereka menjadi pengingat bahwa sebuah warisan budaya tidak akan bertahan tanpa orang-orang yang menjaganya.
Pementasan semakin istimewa dengan hadirnya MC legendaris Gambus Misri era 1980-an, Aan Rosyadi dari Mawar Bersemi. Sosok yang pernah menjadi bagian dari kejayaan Gambus Misri itu kembali hadir menyapa masyarakat.
Di atas panggung tersebut, dua zaman bertemu. Para maestro membawa kenangan masa lalu, sementara generasi muda membawa harapan masa depan.
Kolaborasi itu menjadi simbol bahwa budaya tidak harus berhenti di masa lalu. Ia dapat tumbuh kembali ketika generasi baru diberi kesempatan untuk mengenalnya.
Festival yang Tidak Hanya Melestarikan, Tetapi Menghidupkan Ekonomi Warga

Festival Gambus Misri 2026 diselenggarakan oleh Komunitas Gambus Misri Bintang 9 dengan dukungan Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia serta Pemerintah Kabupaten Jombang.
Ketua Penyelenggara Gambus Misri Bintang 9, Anasrul Hakim, mengatakan festival ini menjadi ruang kolaborasi lintas sektor. Selain bertujuan menjaga keberlangsungan budaya, kegiatan tersebut juga melibatkan pelaku UMKM lokal agar masyarakat sekitar mendapatkan manfaat ekonomi.
“Harapan besar kami melalui kegiatan ini adalah menjadikan Desa Kendalsari sebagai salah satu Desa Wisata Edukasi Gambus Misri. Kami ingin kebudayaan ini tidak hanya lestari, tetapi juga memberikan dampak ekonomi nyata bagi warga,” ujar Anasrul.
Rangkaian festival berlangsung meriah sejak hari pertama, Minggu (9/8/2026). Kegiatan diawali dengan senam sehat bersama warga, lomba mewarnai yang diikuti 120 anak, pertunjukan seni antarsekolah, hingga penampilan Spectra Band yang membawakan lagu Gambus Misri ‘Selamat Datang’ dan ‘Berdoa’ dengan sentuhan musik modern.
Jombang Menjaga Ingatan, Generasi Muda Menjaga Masa Depan
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati Jombang Salmanudin atau Gus Wabup, yang hadir mewakili Bupati Jombang Warsubi, memberikan apresiasi terhadap kebangkitan Gambus Misri.
Gus Wabup mengenang bahwa dirinya telah mengenal Gambus Misri sejak usia 12 tahun. Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah memastikan generasi muda mengenal kesenian tersebut secara utuh.
“Gambus Misri memiliki karakter yang sangat khas. Tantangan kita saat ini adalah masih banyak generasi muda yang belum mengenalnya secara utuh. Pemerintah Kabupaten Jombang berkomitmen menyediakan ruang ekspresi agar regenerasi terus berjalan,’ tegasnya.
Hadir pula dalam acara tersebut Kepala Bakesbangpol Jombang Budi Winarno, Kepala Disdikbud Jombang Wor Windari, Kepala Disporapar Jombang Nur Evva Maylia, jajaran Forkopimcam Sumobito, budayawan senior Jombang Nasrul Ilahi, Mbah Saiman, serta tokoh agama dan masyarakat.
Festival Gambus Misri 2026 akhirnya menjadi lebih dari sekadar pertunjukan seni. Ia menjadi saksi bahwa sebuah budaya yang pernah hampir hilang masih memiliki kesempatan untuk hidup kembali.
Di Kendalsari malam itu, Gambus Misri tidak hanya kembali dipentaskan. Ia menemukan penontonnya, menemukan penerusnya, dan menemukan masa depannya. Sebab budaya tidak benar-benar mati selama masih ada generasi yang mau mengenangnya, mempelajarinya, dan meneruskannya. [suf]
Link informasi : Sumber