Gelar BCIC 2026, FISIP Universitas Brawijaya Soroti Kedaulatan Komunikasi Digital Asia Tenggara
Malang (beritajatim.com) – Perhelatan konferensi internasional bergengsi, The 6th Brawijaya Communication International Conference (BCIC) 2026, yang diinisiasi oleh Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) sukses memasuki hari kedua. Forum akademik yang diselenggarakan secara daring via platform Zoom tersebut rampung digelar pada Minggu (1/11/2026).
Rangkaian hari kedua diisi dengan sesi presentasi paralel yang memfasilitasi forum diskusi strategis antarakademisi, peneliti, hingga mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi kancah internasional. Agenda utama perhelatan ini membedah kedaulatan komunikasi di era digital, khususnya di kawasan Asia.
Ketua Panitia BCIC 2026, Dr. Bambang Dwi Prasetyo, S.Sos., M.Si., menyoroti urgensi tema ‘Communicative Sovereignty in the Digital Landscape’ bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Menurutnya, kedaulatan publik saat ini cukup rentan akibat ketergantungan penuh pada ekosistem digital milik pihak asing.
“Hari ini sebagian besar ruang publik kita berjalan di atas platform yang tidak kita miliki dan algoritma yang tidak kita lihat,” ungkap Bambang.
Melalui forum BCIC ini, ia berharap kajian ilmu komunikasi dari Asia Tenggara tidak lagi sekadar menjadi objek pasif, melainkan mengambil peran sebagai penentu arah kebijakan dan wacana global.

“Kami ingin kajian komunikasi dari kawasan ini ikut menentukan siapa yang boleh bersuara, pengetahuan siapa yang diakui, dan cerita siapa yang diceritakan,” tegas akademisi UB tersebut.
Kolaborasi Internasional Sinergi UB dan UPM Malaysia
Pada penyelenggaraan tahun ini, BCIC membawa terobosan anyar dengan berkolaborasi sebagai co-host track dalam ajang Southeast Asia Futures Conference on Social Sciences (SEA FUTURES) 2026. Sinergi ini terjalin erat bersama Faculty of Modern Languages and Communication, Universiti Putra Malaysia (UPM).
Agenda hari kedua dibuka oleh pemaparan dua pakar global, yakni Prof. Agata Wiktoria Zietek dari Maria Curie-Skłodowska University, Polandia, serta Prof. Dr. Muhammad Shujaat Mubarik dari Heriot-Watt University, Skotlandia.
Bambang menegaskan bahwa kemitraan lintas negara ini merupakan lompatan strategis bagi perluasan jejaring akademik FISIP UB di panggung internasional.
“Kerja sama ini bukan sekadar menyelenggarakan konferensi bersama. Kami ingin BCIC menjadi ekosistem berkelanjutan yang melahirkan riset serta publikasi bersama lintas negara,” jelasnya.
Sesi paralel hari kedua membedah beragam isu komunikasi kontemporer secara komprehensif. Topik riset yang dipaparkan mencakup logika media sosial pada konten TikTok lingkungan, literasi anti-hoaks generasi muda, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) pada ranah public relations, hingga penyempitan ruang protes media daring di Indonesia.
Selain itu, dibahas pula kampanye audiovisual anti-perundungan, komunikasi inklusif tenaga kesehatan, relasi gender organisasi kemahasiswaan, hingga kearifan ekologis perempuan dalam tata kelola kebakaran lahan gambut di Riau.
Sebelumnya, rangkaian hari pertama BCIC 2026 dilangsungkan secara hibrida (hybrid) bertitik pusat di kampus Universiti Putra Malaysia, Selangor, Malaysia, Sabtu (31/10/2026). [dan/but]
Link informasi : Sumber