Geosite Kedung Lantung Bojonegoro Diarahkan Jadi Wisata Edukasi Minyak Bumi
Ringkasan Berita:
- Geosite Kedung Lantung di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, dikembangkan sebagai destinasi geowisata berbasis edukasi dan konservasi.
- Kawasan ini memiliki fenomena rembesan minyak bumi alami dari celah bebatuan di sepanjang aliran Sungai Borik.
- Pembangunan fisik kawasan dilaporkan mencapai sekitar 70 persen saat peluncuran yang bertepatan dengan Festival Lantung 2026.
- Pengembangan melibatkan masyarakat, akademisi, komunitas sejarah, EMCL, dan SKK Migas untuk mendukung edukasi geologi serta ekonomi warga.
Bojonegoro (beritajatim.com) – Fenomena rembesan minyak bumi alami di sepanjang aliran Sungai Borik menjadi daya tarik utama Geosite Kedung Lantung di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro. Kawasan ini dikembangkan sebagai destinasi geowisata yang menggabungkan edukasi geologi, konservasi lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Geosite Kedung Lantung resmi diluncurkan oleh Asisten Administrasi Umum Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Mahmudin, yang mewakili Bupati Setyo Wahono. Peluncuran tersebut berlangsung bersamaan dengan pembukaan Festival Lantung 2026 pada Sabtu (17/10/2026).
Berada di kawasan Zona Kendeng, Kedung Lantung menjadi bagian dari potensi geologi Bojonegoro dengan tema Petroleum and Gas System on Land. Pengembangan kawasan ini diharapkan memperkaya pilihan wisata edukasi sekaligus mendukung upaya daerah menuju pengakuan UNESCO Global Geopark (UGGp).
Mahmudin mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam pengembangan Kedung Lantung. Hingga peluncuran, progres pembangunan fisik kawasan tersebut dilaporkan mencapai sekitar 70 persen.
Menurutnya, pengembangan geosite harus menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sebagai destinasi wisata, sarana pendidikan, dan pelestarian lingkungan. Pengelolaan kawasan tidak semata-mata berorientasi pada jumlah kunjungan, tetapi juga harus mempertahankan nilai ilmiah serta keberlanjutan warisan geologi.
“Peluncuran hari ini adalah langkah besar kita bersama menuju pengakuan dunia sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp). Kami berpesan agar kawasan ini dikelola dengan konsep geowisata yang pintar dan berkelanjutan, bukan wisata massal,” ujar Mahmudin.
Pemkab Bojonegoro mengarahkan pengembangan Kedung Lantung melalui tiga aspek utama, yakni edukasi, konservasi, dan peningkatan ekonomi masyarakat. Ketiganya menjadi dasar pengelolaan agar potensi geologi kawasan dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Dari sisi edukasi, Kedung Lantung diharapkan menjadi ruang belajar terbuka bagi pelajar dan generasi muda untuk mengenal fenomena geologi, termasuk rembesan minyak bumi alami dan proses terbentuknya energi. Keberadaan fenomena tersebut menjadi daya tarik sekaligus sarana untuk memperkenalkan potensi geologi yang dimiliki Bojonegoro.
Aspek konservasi diwujudkan melalui upaya mendorong masyarakat menjaga kebersihan sungai dan kelestarian lingkungan di sekitar kawasan. Pelestarian tersebut dinilai penting agar pengembangan wisata tidak mengurangi nilai alam yang menjadi daya tarik utama Kedung Lantung.
Sementara itu, dari aspek ekonomi, pengembangan geosite diharapkan membuka peluang usaha bagi warga setempat. Peluang tersebut mencakup usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), warung, homestay, serta pemberdayaan pemuda lokal sebagai pemandu geowisata.
Community Relations Supervisor ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Rifky Romadhon, menjelaskan bahwa pengembangan Kedung Lantung tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik. Fasilitas pendukung yang dibangun antara lain sarana mandi, cuci, kakus (MCK), pagar, dan menara pantau.
Selain fasilitas tersebut, penyediaan papan informasi sejarah juga menjadi perhatian agar pengunjung dapat memahami nilai ilmiah dan sejarah kawasan.
“Penyediaan papan informasi sejarah juga menjadi perhatian agar pengunjung dapat memahami nilai ilmiah dan sejarah kawasan,” katanya.
Sementara itu, Analis Senior SKK Migas Perwakilan Jabanusa, Erwin Andrianto Reddy, menyampaikan bahwa keterlibatan industri hulu minyak dan gas bumi tidak hanya berkaitan dengan dukungan terhadap ketahanan energi nasional. Sektor tersebut juga memiliki peluang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang berbasis pada potensi dan keterlibatan masyarakat.
Pengembangan Kedung Lantung melibatkan masyarakat Desa Drenges, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kedung Lantung, akademisi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bojonegoro (Unigoro), serta komunitas Bojonegoro History.
Program tersebut juga mendapat dukungan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan dan pemberdayaan masyarakat dari EMCL bersama SKK Migas Perwakilan Jabanusa. Kolaborasi berbagai pihak ini menjadi bagian dari upaya mengembangkan potensi geologi Kedung Lantung sekaligus membuka manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. [fif/beq]
Link informasi : Sumber