Guru Ngaji yang Menjemput Mimpi ke Baitullah dari Tabungan Rp200 Ribu
Makkah (beritajatim.com) – Nurhayati (59), seorang guru ngaji asal Ciputat, Tangerang Selatan, membuktikan bahwa niat suci sanggup meruntuhkan tembok keterbatasan ekonomi setelah berhasil menunaikan ibadah Haji 2026 melalui tabungan rutin yang ia mulai hanya dengan setoran awal sebesar Rp200 ribu.
Langkah kecil yang dimulai dua dekade silam itu kini membawanya berdiri tegak di jantung Kota Suci Makkah, menuntaskan rindu yang lama ia asuh dalam doa.
Di sebuah sudut hotel kawasan Aziziyah, Makkah, di tengah arus jemaah yang seolah tak pernah berujung, perempuan yang akrab disapa Nunung ini seringkali tertangkap mata sedang bersandar di tembok.
Kerudung hitamnya menjadi saksi bisu setiap butir air mata yang jatuh tatkala ia mengenang betapa panjang titian sabar yang harus ia lalui untuk sampai ke rumah Allah.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, bahwa kehadiran Nurhayati di tengah jemaah Embarkasi Jakarta-Banten (JKB) menjadi simbol keteguhan jiwa masyarakat kecil Indonesia yang tak pernah menyerah pada keadaan.
Perjalanan ini berawal pada tahun 2005. Sebagai pengajar Al-Qur’an bagi anak-anak, Nunung terbiasa mengantar kepergian teman-temannya ke Tanah Suci.
Setiap pelukan perpisahan dan lantunan talbiyah yang ia dengar diam-diam menumbuhkan benih keinginan di hatinya. “Dulu itu cuma sering nganterin teman berangkat haji,” tuturnya lirih pada Selasa (5/5/2026).
Sebuah kalimat dari seorang kawan menjadi pemantik keberaniannya: “Kalau nggak nabung, Allah nggak dengar doa ibu.” Kata-kata itu menghantam kesadarannya. Meski awalnya ragu karena penghasilannya sebagai guru ngaji dan mantan guru TK jauh dari kata mewah, Nunung memantapkan hati.
Bahkan, ia sempat mendapat pertanyaan menohok dari sang buah hati tentang ketersediaan dananya. Namun, keyakinannya telah bulat; ia akan menabung, sedikit demi sedikit, mulai dari Rp50 ribu hingga Rp100 ribu.
Keajaiban di Balik Meja Bank
Langkah pertama ia ayunkan menuju sebuah bank dengan membawa uang Rp200 ribu. Dengan suara bergetar, ia menceritakan niatnya kepada petugas bank. Respon sang petugas justru menjadi penguat jiwanya. “Nggak apa-apa, Ibu, nanti uangnya Allah yang nambahin,” kenang Nunung menirukan ucapan yang membuatnya merasa sangat dihargai sebagai manusia.
Sejak hari itu, rutinitasnya berubah. Setiap fajar menyingsing selepas salat Subuh, Nunung bergegas menabung. Uang kecil yang ia kumpulkan dari sisa nafkah itu ia setor dengan penuh harapan. Delapan tahun berselang, tepat pada 2013, angka di buku tabungannya menyentuh Rp23,5 juta—jumlah yang cukup untuk mengunci nomor porsi keberangkatan.
Masa tunggu 12 tahun tidak ia habiskan dengan berdiam diri. Ia terus memupuk tabungannya hingga akhirnya panggilan resmi itu datang pada musim haji tahun ini. “Alhamdulillah, bener-bener barokah bisa sampai sini,” ucapnya dengan suara yang bergetar hebat.
Di Tanah Haram, Nurhayati merasakan keajaiban yang ia sebut sebagai buah dari kesabarannya. Ia berkesempatan mencium Kabah dan Hajar Aswad dengan pengawalan yang menurutnya sangat dimudahkan oleh Allah.
Pun saat di Madinah, ia mendapatkan nikmat luar biasa dengan memasuki Raudhah hingga empat kali, sebuah kesempatan langka yang sangat ia syukuri.
Ujian fisik sempat menyapa saat kakinya terasa nyeri di tengah padatnya rangkaian ibadah. Namun, Nurhayati yang berangkat seorang diri ini hanya melangitkan satu doa: agar tidak merepotkan orang lain.
“Saya berdoa jangan nyusahin orang lain di sini, Alhamdulillah Allah dengar doa saya,” katanya dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
Kini, di depan Kabah yang agung, doa Nunung telah berganti tema. Ia tak lagi meminta untuk dirinya sendiri. Ia memohon agar kelak, suami dan anak-anaknya bisa merasakan langsung keajaiban tawaf dan sai, menikmati kedamaian di Makkah dan Madinah, serta bersujud di taman surga Raudhah bersamanya. [ian/MCH/but]
Link informasi : Sumber