Gus Ulib Jombang Kecewa Mubes-Konbes NU 2026 di Kediri: Muncul Kesan Kubu-Kubuan

0

Ringkasan Berita:

  • Gus Zainul Ibad As’ad (Gus Ulib) menyampaikan kekecewaan terhadap pelaksanaan Mubes dan Konbes Nahdlatul Ulama di Kediri.
  • Ia menilai tidak ada sikap terbuka dari pimpinan PBNU terkait dinamika internal yang terjadi.
  • Atmosfer sidang disebut penuh kecurigaan, terkotak-kotak, hingga muncul kesan kuat adanya kubu-kubu di dalam forum organisasi.

Jombang (beritajatim.com) – Pengasuh PPDU (Pondok Pesantren Darul Ulum) Rejoso, Peterongan, Jombang, KH Zainul Ibad As’ad atau yang akrab disapa Gus Ulib, menyampaikan kekecewaan mendalam terhadap pelaksanaan Musyawarah Besar (Mubes) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) di Ponpes Al Falah Ploso Kediri beberapa waktu lalu.

Menurutnya, forum besar yang semestinya menjadi ruang refleksi dan konsolidasi organisasi justru tidak mencerminkan harapan warga nahdliyin di akar rumput. Ia menilai ada jarak yang cukup lebar antara harapan jemaah dengan apa yang ditampilkan dalam forum tersebut.

Gus Ulib mengungkapkan bahwa banyak warga Nahdliyin berharap adanya pernyataan menyejukkan dari para petinggi PBNU, terutama berupa permintaan maaf terbuka atas dinamika dan kegaduhan internal yang terjadi selama satu periode terakhir. Namun, harapan itu tidak terwujud.

“Sepertinya (kegaduhan itu) tidak dirasakan oleh para petinggi NU. Tidak ada satupun pernyataan atau kalimat permintaan maaf. Mereka seakan terkesan tidak merasa bersalah atas ketidaknyamanan yang dirasakan seluruh jam’iyah selama satu periode ini,” ungkap Gus Ulib, Minggu (28/6/2026).

Ia menilai sikap tersebut memunculkan kekecewaan di kalangan warga NU, karena tidak ada ruang klarifikasi atau penyejuk suasana yang diharapkan mampu meredam ketegangan internal organisasi.

Kritik juga diarahkan pada pidato sambutan Rais Aam sebagai tuan rumah kegiatan yang disampaikan sepenuhnya dalam bahasa Arab. Menurut Gus Ulib, hal itu kurang tepat karena forum tersebut juga dihadiri tamu dari berbagai instansi di luar struktur NU yang tidak semuanya memahami bahasa tersebut.

Lebih jauh, ia menyoroti suasana persidangan yang dinilainya tidak kondusif. Atmosfer forum disebut kaku, dipenuhi rasa saling curiga, serta mengarah pada pengelompokan kepentingan di antara peserta.

Puncak keprihatinannya muncul saat pembahasan penentuan lokasi Muktamar, ketika ia melihat adanya perilaku peserta yang dianggap tidak mencerminkan etika organisasi. Hal itu memperkuat kesan adanya fragmentasi internal di dalam forum.

Gus Ulib berharap situasi serupa tidak kembali terjadi pada agenda-agenda besar NU berikutnya. Ia menekankan pentingnya menjaga marwah organisasi, terutama bagi generasi muda nahdliyin agar tidak kehilangan teladan moral dari para pemimpinnya. [suf]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.