Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu Pacitan Mengaku Kini Hanya “Kerja Bakti”
Ringkasan Berita:
- Harga kedelai impor di Pacitan naik menjadi Rp512 ribu per karung ukuran 50 kilogram.
- Perajin tahu mengaku keuntungan usaha terus menipis akibat kenaikan harga bahan baku.
- Kapasitas produksi turun dari dua kuintal menjadi satu kuintal setiap kali produksi.
- Program Makan Bergizi Gratis menjadi harapan baru untuk meningkatkan permintaan tahu lokal.
Pacitan (beritajatim.com) – Kenaikan harga kedelai sebagai bahan baku utama tahu dalam tiga bulan terakhir membuat para perajin tahu di Desa Jatigunung, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, semakin tertekan. Mereka mengaku keuntungan usaha terus menipis akibat harga bahan baku yang terus merangkak naik.
Salah satu perajin tahu di Dusun Krajan, Desa Jatigunung, Musiran, mengatakan kondisi usaha yang dijalankannya saat ini semakin berat karena harga kedelai terus mengalami kenaikan.
“Kalau sekarang ibaratnya cuma kerja bakti. Harga kedelai terus naik, tidak hanya naik, tapi juga sering berganti harga,” kata Musiran, Senin (8/6/2026).
Musiran menjelaskan, harga kedelai impor yang menjadi bahan baku produksinya kini mencapai Rp512 ribu per karung berisi 50 kilogram di tingkat grosir. Sementara harga eceran sudah menembus Rp12.500 per kilogram.
Padahal sebelumnya ia masih bisa membeli kedelai impor dengan harga sekitar Rp480 ribu per karung. Kenaikan harga tersebut membuat biaya produksi terus bertambah.
Meski harga bahan baku terus meningkat, Musiran mengaku belum berani menaikkan harga jual tahu kepada konsumen.
“Walaupun bahan baku naik, harga tahu tetap tidak kami naikkan. Masih sama seperti sebelumnya,” ujarnya.
Kenaikan harga kedelai berdampak langsung pada kapasitas produksi. Jika sebelumnya sekali produksi mampu mengolah dua kuintal kedelai, kini Musiran hanya menggunakan satu kuintal dalam sekali masak.
Menurutnya, penurunan produksi sebenarnya sudah terjadi sejak pandemi Covid-19. Sebelum pandemi, usahanya mampu mengolah hingga tiga kuintal kedelai setiap kali produksi. Namun kini jumlah tersebut terus menurun hingga tersisa sekitar satu kuintal saja.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Musiran masih memiliki harapan untuk mempertahankan usahanya. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai berjalan memberikan peluang baru bagi perajin tahu lokal.
Ia mengaku telah diminta untuk menyuplai produk tahu sebagai bahan makanan bagi dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berada di sekitar wilayahnya.
“Semoga dengan adanya program ini usaha tahu bisa kembali berkembang dan produksi meningkat,” harapnya. [tri/beq]
Link informasi : Sumber