Himagizi Universitas Jember Berdayakan Masyarakat Lereng Argopuro

0

Jember (beritajatim.com) – Tim Pelaksana Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Himpunan Mahasiswa Gizi (Himagizi) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember memberdayakan masyarakat lereng pegunungan Argopuro, di Desa Gunungsari, Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.

Mereka meluncurkan Sistem Pemberdayaan Terpadu Desa Hutan Berkelanjutan (Sipetran) yang mengintegrasikan konservasi lingkungan, pengelolaan sampah, pangan bergizi, kesehatan masyarakat, dan penguatan ekonomi lokal dalam satu ekosistem pemberdayaan desa.

Desa Gunungsari memiliki potensi hutan sekitar 57 hektare, yang meliputi komoditas kopi robusta, jagung dan padi. Produksi kopi robusta tercatat sekitar 30 ton per tahun dan jagung sekitar 13 ton per tahun. Namun, sebagian hasil pertanian masih dijual dalam bentuk mentah, sehingga nilai tambah ekonomi masyarakat belum optimal.

Sementara itu, masyarakat desa menghadapi persoalan lingkungan dan kesehatan berupa banyaknya sampah organik dan limbah peternakan yang belum dikelola optimal, keterbatasan daerah resapan air, serta risiko lingkungan di kawasan lereng.

Mahasiswa juga menemukan kasus anemia dan kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil. Tercatat kasus diare meningkat dari 41 kasus pada 2025 menjadi 48 kasus hingga Februari 2026.

Ketua Tim PPK Ormawa Himagizi Unej Oktavia Rahma Ramadhani mengatakan Sipetran dirancang untuk menjawab berbagai persoalan tersebut dengan menjadikan masyarakat sebagai aktor utama perubahan.

“Kami tidak ingin program ini hanya menghasilkan kegiatan, tetapi membangun sistem yang dapat terus dijalankan masyarakat,” katanya, sebagaimana dilansir Humas Unej, Kamis (20/8/2026).

Sipetran dikembangkan melalui konsep Desa Hutan Berkelanjutan 5.0 dengan dukungan aplikasi yang berfungsi sebagai media edukasi, dokumentasi, monitoring, sekaligus promosi produk lokal. Mahasiswa menyatukan potensi kopi, jagung, lingkungan, dan sumber daya manusia dengan edukasi gizi, pengelolaan lingkungan, teknologi, serta penguatan ekonomi. “Tujuannya agar masyarakat memiliki kemampuan untuk berkembang secara mandiri,” kata Oktavia.

Sejauh ini hasilnya positif. Program ini membuahkan sejumlah inovasi, antara lain pengolahan jagung menjadi nugget bermerek Sijago dan pengembangan kopi Siloka. “Nugget Sijago diarahkan sebagai pangan tambahan berbasis pangan lokal,” kata Oktavia.

Tim juga menyiapkan pengelolaan sampah dan limbah peternakan dengan teknologi tepat guna, reboisasi dan konservasi lahan, pengembangan daerah resapan air, Kebun Gizi, serta edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Oktavia berharap grand launching Sipetran menjadi titik awal perubahan, potensi hutan dijaga, sampah dikelola, pangan lokal diolah, gizi diperkuat, dan ekonomi masyarakat ditumbuhkan dalam satu gerakan desa berkelanjutan.

Melalui penguatan kelembagaan masyarakat, produk lokal, konservasi, kesehatan, pangan, dan teknologi, program ini diarahkan untuk mewujudkan Desa Mandhari, Desa Gunungsari yang asri, lestari, dan mandiri.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unej Fendi Setyawan mengapresiasi pemilihan Gunungsari sebagai lokasi program. “Gunungsari merupakan daerah pertanian dan kawasan hutan yang memiliki potensi. Karena itu, pemberdayaan komunitas perkebunan sangat penting,” katanya.

Menurut Fendi, program ini tidak hanya berbicara mengenai penghijauan, namun juga pemberdayaan masyarakat, UMKM dan ekonomi keluarga. “Kalau semuanya berjalan sinergis, sumber daya lingkungan dapat terjaga dan ekonomi kerakyatan juga tumbuh,” katanya.

Tentu saja, menurut Fendi, tantangan terbesarnya adalah memastikan keberlanjutan program. Unej akan mendorong evaluasi dan pemantauan pascaprogram agar inovasi yang telah dibangun tidak berhenti setelah kegiatan mahasiswa selesai.

“Kalau program berakhir kemudian kegiatan juga berakhir, tentu tidak akan membawa dampak atau manfaat. Harapan kami program ini sustain. Tetapi kuncinya ada pada masyarakat, bagaimana masyarakat menerima inovasi itu, mengembangkannya, dan merasa bahwa program tersebut menjadi kebutuhan mereka sendiri,” kata Fendi.

Solihin, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Kabupaten Bondowoso memuji program itu karena menyentuh aspek lingkungan, pendidikan, ekonomi, kebudayaan, dan pemberdayaan masyarakat. Pemkab Bondowoso berharap model seperti ini dapat diperluas ke desa-desa lainnya.

“Kami berharap masyarakat Gunungsari benar-benar menindaklanjuti dan mengembangkan program ini. Pemerintah Kabupaten Bondowoso siap bersinergi agar program yang berdampak langsung kepada masyarakat ini dapat terus berkembang,” katanya. [wir/kun]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.