Proyek Jembatan Candinegoro Deviasi 9 Persen, Bupati Sidoarjo Minta Pengerjaan Dikebut
Sidoarjo (beritajatim.com) – Proyek pembangunan Jembatan Candinegoro di Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo, mengalami ketertinggalan progres pengerjaan hingga sembilan persen.
Menanggapi temuan tersebut, Bupati Sidoarjo H Subandi meminta pihak pelaksana untuk memberlakukan sistem kerja minimal dua shift agar proyek infrastruktur senilai Rp 1,46 miliar itu dapat tuntas tepat waktu.
Sidak ke lokasi proyek jembatan sepanjang 16 meter dan lebar 4 meter tersebut dilakukan langsung oleh Bupati Subandi pada Selasa (6/10/2026).
Di hadapan para pelaksana dan pejabat terkait, Subandi menekankan pentingnya memaksimalkan sisa waktu sekitar dua setengah bulan agar pembangunan jembatan yang dimulai sejak Juli lalu rampung sesuai jadwal pada 16 Desember 2026. Ia menginstruksikan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) meningkatkan intensitas pengawasan di lapangan.
“Saya minta pihak kontraktor menerapkan minimal sistem dua shift kerja. Proyek harus selesai Desember 2026,” ucap Subandi pada Selasa (6/10/2026).
Subandi menegaskan bahwa kendala teknis seperti dinamika aliran air sungai maupun ketersediaan tenaga kerja dan material tidak semestinya menjadi alasan keterlambatan.
“Tidak bisa beralasan karena air. Sebelum bekerja kan sudah ada perencanaan. Karena itu, saya sampaikan kepada PPK dan konsultan pengawas agar pengawasan diperketat. Jika deviasi 9 persen ini bisa dikejar, saya yakin proyek selesai tepat waktu dan kualitas pekerjaan tetap terjaga,” tegas Subandi.
Sementara itu, Konsultan Pengawas Proyek, Umar, menjelaskan bahwa pengerjaan jembatan saat ini telah memasuki minggu ke-11. Berdasarkan evaluasi per Senin (5/10/2026), realisasi fisik baru mencapai 52,64 persen atau mengalami deviasi minus 9,94 persen dari target harian.
Umar memaparkan bahwa keterlambatan tersebut dipicu oleh kendala pengiriman material baja Wide Flange (WF) dari pabrik, masalah akses pengangkutan, serta tinggi intensitas air sungai saat penataan fondasi.
Guna mengejar ketertinggalan tersebut, pihak pelaksana menerapkan rencana percepatan (catch-up plan) dengan memberlakukan sistem kerja 24 jam non-stop yang dibagi dalam dua tim.
“Kami membagi pengerjaan menjadi dua tim dengan total 18 pekerja. Pengerjaan dilakukan secara maraton hingga Subuh untuk memaksimalkan tahapan pemasangan struktur baja, diafragma, dan gelagar WF,” terang Umar.
Pengecoran pile cap abutment atau fondasi bawah di sisi utara telah selesai dipasang dan kini memasuki tahapan perawatan beton (curing). Konsultan optimis proyek pembangunan jembatan akan selesai sesuai kesepakatan target kualitas dan waktu penyerahan. [isa/ian]
Link informasi : Sumber