Inovasi Smart Tourism, Peneliti UM Rilis Tiga Video Storytelling Wisata Sastra Lokal

0

Batu (beritajatim.com) – Tim peneliti dari Universitas Negeri Malang (UM) meluncurkan inovasi berupa produksi tiga video storytelling pariwisata berbasis khazanah sastra lokal di Kota Batu. ​Riset terapan bertajuk “Pengembangan Video Storytelling Wisata Berbasis Sastra Lokal dalam Ekosistem Smart Tourism melalui Kemitraan Lintas Sektor di Kota Batu” tersebut diketuai oleh dosen UM, Dr. Karkono, S.S., M.A.

Dalam proyek ini, ia menggandeng akademisi lintas disiplin, yakni Prof. Aji Prasetya Wibawa, S.T., M.MT., Ph.D., Dr. Heny Kusdiyanti, S.Pd., M.M., serta Dr. Rully Aprilia Zandra, S.Pd., M.Pd., M.Sn. Mereka didukung oleh mahasiswa dan pembiayaan program Hibah Internal UM 2026.

​Tiga kawasan wisata legendaris di Kota Batu menjadi lokus garapan audiovisual ini, meliputi Taman Rekreasi Selecta, pemandian air panas alami Cangar, dan kawasan bersejarah Songgoriti. Ketiganya dikemas lewat peleburan estetika sinematik dengan narasi legenda, riwayat babad, serta folklor setempat.

​Ketua Tim Peneliti UM, Dr. Karkono menegaskan bahwa karya audiovisual yang mereka rampungkan berformat instrumen promosi pariwisata terpadu. Video ini memanfaatkan kedalaman teknik komunikasi bertutur.

​”Pendekatan storytelling ini memungkinkan substansi destinasi diserap secara lebih komunikatif, memikat, dan ringkas oleh publik digital,” ujar Dr. Karkono, Minggu (8/11/2026) saat memaparkan hasil karyanya.

​Ia menjelaskan, seluruh tahapan digarap secara baik mulai praproduksi, produksi di lapangan, hingga pasca produksi. Rangkaian tersebut mencakup perumusan sinopsis, penulisan storyline, perancangan storyboard, penyusunan naskah panduan narasi, perekaman video beresolusi tinggi, penyuntingan visual, penataan suara dan instrumen musik, hingga penyesuaian grading warna.

Foto BeritaJatim.com
Video storytelling wisata berbasis cerita lokal di Kota Batu. (Foto: Istimewa)

​”Video dirancang fleksibel menyesuaikan ekosistem platform digital kontemporer seperti YouTube, Instagram, dan TikTok agar menjangkau audiens generasi muda,” ungkap akademisi sastra tersebut.

​Penyusunan narasinya diambil dari rembuk terfokus Focus Group Discussion (FGD) yang menghimpun multi-pihak. Forum FGD menyepakati pentingnya menggeser paradigma materi promosi dari sekadar pamer panorama menjadi eksploitasi nilai historis yang kontekstual.

“​Salah satu bukti autentik termuat dalam video Songgoriti yang menelusuri jejak Mpu Supo. Menurut tradisi lisan, sang empu sakti diutus penguasa Medang Kamulan, Mpu Sendok, untuk merintis peristirahatan kerajaan di lereng gunung,” kata Karkono.

Mpu Supo lantas mendapati semburan mata air panas alami yang difungsikan guna menyucikan pusaka-pusaka keraton. Nilai historis serupa turut diurai pada destinasi Selecta, di mana audiens diajak menelisik riwayat Villa Bima Sakti yang tempo dulu bernama De Brandaris.

​Berdasarkan uji respons terhadap 60 pemirsa yang didominasi kalangan pelajar dan mahasiswa rentang usia 16–20 tahun (71,7%), penerimaan publik tergolong impresif. Sebanyak 58 responden atau 96,7 persen mengaku memperoleh transfer informasi wisata yang memadai usai menonton tayangan.

Dari parameter mutu tayangan, 95 persen responden melayangkan impresi positif, dengan rincian 78,3 persen menyebut sangat bagus dan 16,7 persen menilai bagus. ​Penerimaan khalayak di jagat maya juga sejalan dengan evaluasi kuesioner lanjutan. Di kanal YouTube, pemirsa memuji artikulasi konten yang disajikan.

“Jernih sekali, Pak, dan mudah dipahami,” tulis salah satu penonton di kolom tanggapan digital.

Ketua tim penelitian menyebut bahwa luaran tambahan berwujud artikel jurnal ilmiah dan pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

“Kami yakin kekuatan pariwisata masa kini terletak pada kemampuan destinasi dalam menarasikan memori kolektif serta identitas budayanya kepada generasi masa depan,” ungkap Karkono menutup keterangan. (dan/ian)


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.