Kirab Agung Budaya Dorok 2026, Tradisi Suro di Candi Dorok Kediri Perkuat Toleransi dan Lestarikan Warisan Leluhur

0

Ringkasan Berita

  • Dusun Dorok, Desa Manggis, Kabupaten Kediri kembali menggelar Kirab Agung Budaya Dorok di kawasan Candi Dorok sebagai puncak tradisi Bulan Suro 2026.
  • Kirab tahun kelima ini menghadirkan delapan gunungan hasil bumi, doa lintas agama, dan arak-arakan budaya sebagai simbol persatuan serta rasa syukur masyarakat.
  • Seluruh warga dari 16 RT bergotong royong menyukseskan kegiatan yang sepenuhnya didukung melalui swadaya masyarakat dan para donatur.
  • Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri mengapresiasi Kirab Agung Budaya Dorok sebagai upaya nyata melestarikan sejarah, budaya lokal, dan memperkuat toleransi antarumat beragama.

Kediri (beritajatim.com) – Semangat gotong royong, pelestarian budaya, dan kerukunan antarumat beragama kembali mewarnai Kirab Agung Budaya Dorok yang digelar di kawasan Candi Dorok, Dusun Dorok, Desa Manggis, Kabupaten Kediri, pada Minggu (12/7/2026).

Memasuki penyelenggaraan kelima, kirab budaya ini menjadi puncak rangkaian tradisi Bulan Suro yang setiap tahun dilaksanakan masyarakat sebagai bentuk rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap warisan budaya leluhur.

Ratusan warga tampak antusias mengikuti arak-arakan gunungan hasil bumi yang menjadi ikon utama kegiatan. Tradisi tersebut sekaligus menjadi bukti kuat bahwa budaya mampu menjadi perekat persatuan di tengah keberagaman masyarakat.

Kirab Budaya Menjadi Simbol Persatuan Warga

Anggota Pusaka Paguyuban Masyarakat Dhaha Kediri, Nila Yusia, mengatakan Kirab Agung Budaya Dorok terus berkembang sejak pertama kali digelar lima tahun lalu.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga mampu memperkuat kekompakan masyarakat meski terdapat berbagai perbedaan.

“Alhamdulillah kita bisa mewujudkan Kirab Budaya Agung itu sendiri dengan kekompakan, dengan guyub. Terlepas dari adanya pro dan kontra, kami bersyukur karena kirab ini mampu menyatukan berbagai perbedaan, memperkuat toleransi, serta merekatkan kerukunan antarumat beragama,” ujarnya.

Selain arak-arakan hasil bumi yang kemudian dibagikan kepada masyarakat, kegiatan juga diisi dengan doa bersama yang melibatkan tokoh dari berbagai agama di kawasan Candi Dorok.

Prosesi tersebut menjadi simbol nyata bahwa keberagaman dapat hidup berdampingan melalui budaya dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Candi Dorok Menjadi Ruang Bersama Semua Kalangan

Nila menjelaskan Candi Dorok memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar situs bersejarah.

Menurutnya, candi tersebut menjadi simbol persatuan yang tidak dimiliki oleh golongan maupun agama tertentu, melainkan menjadi ruang bersama seluruh masyarakat.

“Kami memaknai bahwa Candi Dorok merupakan simbol yang dapat merekatkan dan mempersatukan berbagai perbedaan,” terangnya.

Karena itu, masyarakat memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga, merawat, dan melestarikan warisan budaya tersebut agar tetap dikenal oleh generasi mendatang.

Delapan Gunungan Hasil Bumi Diarak Warga

Sementara itu, Kepala Dusun Dorok, Nardiono, mengungkapkan seluruh warga dari 16 RT turut terlibat dalam penyelenggaraan Kirab Agung Budaya tahun ini.

Jumlah gunungan hasil bumi yang diarak juga mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Total gunungan delapan. Ada peningkatan setiap tahun. Kemarin empat, sekarang sudah delapan. Kalau seluruh RT semakin guyub, ke depan bisa lebih banyak lagi,” katanya.

Seluruh biaya penyelenggaraan berasal dari swadaya masyarakat dengan dukungan para donatur, peternak, serta sejumlah instansi.

Menurut Nardiono, semangat utama kegiatan tersebut adalah menjaga warisan budaya leluhur agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

“Tujuannya melestarikan budaya. Kita hidup di tanah Dusun Dorok tidak lepas dari leluhur kita. Kalau bukan kita yang nguri-uri budaya ini, siapa lagi?” tegasnya.

Penutup Tradisi Bulan Suro di Dusun Dorok

Kirab Agung Budaya menjadi penutup rangkaian tradisi Bulan Suro di Dusun Dorok.

Sebelumnya, masyarakat telah menggelar Nyadran di Punden Ringin Agung pada 1 Suro sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus doa bersama untuk keselamatan masyarakat.

Rangkaian tradisi tersebut menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Dusun Dorok yang terus dipertahankan hingga sekarang.

Disbudpar Apresiasi Kepedulian Masyarakat

Tradisi tahunan tersebut mendapat apresiasi dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri.

Staf Bidang Sejarah dan Purbakala, Achmad Khudori, yang mewakili Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri menilai Kirab Agung Budaya Dorok menjadi contoh nyata kepedulian masyarakat dalam menjaga sejarah sekaligus memperkuat persatuan.

“Kegiatan ini merupakan bukti nyata kepedulian masyarakat dalam menjaga sejarah sekaligus mempererat kerukunan warga. Semoga Kirab Agung Budaya Candi Dorok terus lestari dan menginspirasi generasi muda untuk semakin mencintai budaya lokal,” katanya.

Ia berharap tradisi tersebut terus berkembang sehingga mampu menjadi daya tarik wisata budaya sekaligus media edukasi bagi generasi muda mengenai pentingnya menjaga sejarah, gotong royong, dan toleransi.

Dengan semangat kebersamaan yang terus terjaga, Kirab Agung Budaya Dorok kini tidak hanya menjadi tradisi tahunan masyarakat Dusun Dorok, tetapi juga menjadi simbol bahwa keberagaman dapat dirawat melalui budaya, penghormatan terhadap leluhur, dan kerja sama seluruh elemen masyarakat. [nm/aje]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.