Lika-Liku Penataan Pasar Tanjung Jember: Mulai dari Toilet hingga Arus Lalin
Jember (beritajatim.com) – Penataan Pasar Tanjung di Kabupaten Jember, Jawa Timur, tak ubahnya jalan berliku. Sejumlah persoalan yang menumpuk membutuhkan penyelesaian yang akhirnya disepakati bersama antara pedagang dan pemerintah daerah, dalam rapat di aula Dinas Pendidikan Jember, Jumat (2/10;/2026).
Konflik antara pedagang dalam Pasar Tanjung dan warga setempat dengan pedagang sayur-mayur di jalan kawasan pasar sempat meruncing. Pedagang di dalam Pasar Tanjung merasa dirugikan oleh kehadiran pedagang yang berjualan di tepi Jalan Samanhudi dan Jalan Untung Suropati dengan menggunakan kendaraan bak terbuka. Hal ini dikarenakan konsumen akhirnya lebih memilih membeli di jalanan daripada masuk ke dalam pasar.
Sementara itu warga sekitar merasa dirugikan dengan kehadiran pedagang kaki lima tersebut, karena memunculkan persoalan sampah dan bau tak sedap setiap hari yang mengganggu lingkungan.
Dalam rapat yang dipimpin langsuing oleh Bupati Muhammad Fawait itu, semua pihak akhirnya sepakat penataan Pasar Tanjung dilaksanakan secara bertahap, dialogis dan berkelanjutan dengan memperhatikan aspirasi pedagang, warga, pengguna jalan, dan kepentingan umum.
“Kita harus bertahap pelan-pelan, cari solusi jangka panjang termasuk urusan revitalisasi pasar,” kata Fawait.
Menurut Fawait, pemerintah tidak bisa sewenang-wenang. “Kasihan juga masyarakat yang terkorbankan. Maka bertahap,” katanya.
Rekayasa lalu lintas juga disepakati untuk disesuaikan mulai 5 Oktober 2026 berdasarkan evaluasi Dinas Perhubungan Jember dan dievaluasi kembali selama satu minggu. Kepala Dinas Perhubungan Jember Gatot Triono mengatakan, uji coba perubahan arus lalu lintas di Jalan Samanhudi sudah dilaksanakan sejak 28 September 2026.
Uji coba tersebut udah dianalisi dan dievaluasi. “Sebelum perubahan lalu lintas, kondisi ruas jalan terutama di Jalan Samanhudi, hanya 554 kendaraan per jam Setelah perubahan naik menjadi 665 per jam. Lalu di Jalan Ahmad Yani dari 3.004 kendaraam per jam naik menjadi 4.779 kendaraan Ini yang bebannya sangat berat,” kata Gatot.
Peningkatan beban jalan juga meningkat di Jalan Trunojoyo, dari 1.900 meningkat menjadi 3.186 kendaraan per jam. “Jadi volume per kapasitasnya naik dari C menjadi D, sehingga turun kinerjanya,” kata Gatot.
Dishub akan melakukan rekayasa lalu lintas lagi pada 5 Oktober 2026. “Kami akan mempersiapkan prasarana lalu lintas berupa rambu-rambu dan petunjuk, serta kami akan mengaktifkan warning light di Simpang Tiga Semar,” kata Gatot.
Jam operasional pedagang jalanan yang menggunakan mobil bak terbuka dan pedagang bajongan di Jalan Samanhudi dan Jalan Untung Suropati disepakati mulau pukul 20.30 WIB dengan toleransi 15 menit. Sementara itu jam operasi pedagang di Jalan Wahidin dimulai pada pukul 16.00 WIB hingga 06.00 WIB.
Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perdagangan Jember juga segera melakukan inventarisasi dan validasi pedagang serta pengelompokan berdasarkan lokasi dan komoditas sebagai dasar penataan. Ini sesuai dengan usulan Ketua DPRD Jember Ahmad Halim.
“Pemerintah harus sudah mulai menginventarisasi di dalam Pasar Tanjung, siapa yang punya SIM (Surat Izin Memiliki lapak), siapa yang sudah menjual lapaknya, dan berapa orang yang punya kios,” kata Halim.
Semua pihak juga sepakat membentuk satuan tugas penataan Pasar Tanjung untuk berkoordinasi, melakukan pengawasan, dan evaluasi. “Tugas satgas di Pasar Tanjung adalah menyusun rencana aksi, jadwal dan skema zonasi pembangunan, pembagian waktu operasional shifting bagi pedagang di luar gedung Pasar Tanjung,” kata Koordinator Satgas Cinta Pasar Tanjung Danang Andri Asmara.
Satgas juga melaksanakan sosialisasi rekayasa lalu lintas, penataan ruang parkir di ruas Jalan Samanhudi, Jalan Untung Suropati, Jalan Wahidin, dan Jalan Pitaloka.
“Ketiga, melakukan pengawasan, pengendalian secara persuasif dan humanis selama 24 jam, dengan sistem dua shift terhadap ketertiban dan keamanan pasar,” kata Danang.
Terakhir, satgas melakukan evaluasi dan melaporkan hasil pelaksanaan, serta membuat rekomendasi penataan berkala setiap minggu kepada Bupati Fawait melalui Sekretaris Daerah.
Satgas tersebut terdiri atas Tim Pengarah yang diketuai Bupati Jember, dengan anggota Kapolres Jember, Dandim 0824, Kepala Kejaksaan Negeri Jember, Ketua DPRD Jember, dan Sekretaris Daerah Kabupaten Jember.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum diserahi tugas sebagai penanggung jawab tim pelaksana lapangan. Posisi Ketua I dijabat Kepala Dinas Koperasi UMKM dan Perdagangan, Ketua II dijabat satu tokoh masyarakat, satu perwakilan pedagang Jalan Samanhudi, satu perwakilan pedagang Jalan Untung Suropati, satu perwakilan pedagang Jalan dr. Wahidin, dan satu perwakilan pedagang Jalan Pitaloka.
Anggota tim terdiri atas Tim Pengarah Percepatan Pembangunan Daerah (TP3D), Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Kepala Badan Pendapatan Daerah, Kepala Bakesbangpol, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja sekaligus koordinator lapangan.
Anggota lainnya adalah Kepala Dinas Perhubungan, Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup, Kepala Dinas Sosial, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Camat Kaliwates, Lurah Jember Kidul, Lurah Kepatihan, unsur Resor Kepolisian Resor Jember, unsur Komando Distrk Militer, unsur Polsek Kaliwates, unsur Koramil, unsur perwakilan pedagang, dan unsur dari warga RW 9, RW 10, dan RW 11 Kelurahan Jember Kidul.
Bupati Fawait mengatakan jumlah keanggotaan tim masih bisa bertambah sesuai dengan hasil musyawarah. “Hanya garis besarnya seperti ini. Kenapa ada unsur tokoh dan ada unsur masyarakat termasuk pedagang? Karena sekali lagi kalau hanya pemerintah, tidak akan optimal,” katanya.
Dengan dilibatkannya tokoh, pedagang, masyarakat, semua akan merasa memiliki Pasar Tanjung. “Sehingga harapan saya ‘fa inna ma’al-‘usri yusrā, inna ma’al-‘usri yusrā’. Setiap ada kesulitan akan datang kemudahan. Mudah-mudahan dengan proses hari ini, ada dinamika seperti ini, akan membuat Pasar Tanjung menjadi percontohan buat pasar-pasar tradisional lainnya di Kabupaten Jember,” kata Fawait.
Penataan jangka pendek di Pasar Tanjung diarahkan untuk mengembalikan fungsi jalan dan fasilitas umum, menjaga kebersihan, ketertiban, serta mengurangi potensi konflik. Bupati Fawait memilih untuk menghindati gesekan horisontal.
“Apapun rencana kita, yang penting tidak sampai ada korban jiwa. Dan insyaallah ini akan menjadi percontohan untuk seluruh pasar tradisional yang ada di Kabupaten Jember,” katanya.
Salah satu keluhan warga setempat adalah bau menyengat dari sejumlah sudut jalan di sekitar Pasar Tanjung, karena pedagang kaki lima buang air sembarangan. Maka, sebagaimana usulan Wakil Ketua DPRD Jember Widarto, pemerintah menyediakan toilet portabel bagi pedagang yang berada di luar Pasar Tanjung untuk menjaga kebersihan.
“Mungkin selama enam bulan ini pemerintah daerah bisa menempatkan toilet portabel di sana, sampai proses revitalisasi selesai,” kata Widarto.
Pemkab Jember juga membersihkan sampah di gorong-gorong di Jalan Trunojoyo dan Jalan Samanhudi. Dari pembersihan awal ditemukan timbunan sampah. “Tidak hanya sampah milik pedagang, tapi juga ada sampah dari rumah tangga, mulai dari kasur sampai dengan eh pampers,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Sumber Daya Air Danang Andri Asmara.
Ketua DPRD Jember Ahmad Halim mengusulkan pembangunan terminal bongkar muat barang dalam revitalisasi Pasar Tanjung. Dia mengingatkan bahwa revitalisasi Pasar Tanjung menjadi tujuan jangka panjang. Pemerintah Kabupaten Jember akan terus mengupayakan dukungan anggaran serta tahapan persiapannya.
Widarto mengatakan solusi ideal baru bisa dicari dan dilaksanakan setelah revitalisasi dilakukan. “Semuanya itu akan bisa dipenuhi ketika revitalisasi. Lapak sudah cukup sesuai jumlah pedagang. Data pedagang harus divalidkan, tidak ada tambah-tambah lagi, lalu fasilitas publik seperti MCK dan lain-lain juga sudah terpenuhi,” katanya.
“Ketika pasar sudah direvitalisasi, maka enggak ada keluhan soal kencing, soal sampah, soal macet dan lain sebagainya, karena semua pedagang sudah naik (masuk ke Pasar Tanjung,” kata Widarto. [wir/ian]
Link informasi : Sumber