Lulusan SMK Jatim Diburu Industri, Angka Pengangguran Tinggal Segini!
Surabaya (beritajatim.com) – Ribuan lulusan SMK di Jawa Timur (Jatim) kini makin gampang mencari kerja. Angka pengangguran dari jenjang pendidikan vokasi ini bahkan tersisa tidak sampai dua persen.
Para siswa ini sukses terserap pasar kerja berkat program Bekerja, Melanjutkan, dan Wirausaha (BMW). Kemendikdasmen RI mencatat tingkat partisipasi lulusan sekolah kejuruan menyentuh angka 91,46 persen.
Dari total 221.174 lulusan SMK di Jatim, sebanyak 195.429 orang sudah memiliki kesibukan yang jelas. Lebih dari separuhnya langsung terjun menjadi pekerja kantoran maupun lapangan.
Sisanya memilih merintis usaha mandiri hingga melangkah ke jenjang pendidikan tinggi. Kelompok yang belum mendapat pekerjaan atau menganggur kini tinggal 1,49 persen saja.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyebut tren positif ini bukan sebuah kebetulan belaka. Rentetan angka tersebut membuktikan kualitas lulusan vokasi di wilayahnya makin diakui oleh pasar.
“Kebutuhan kompetensi industri berkembang sangat cepat. Karena itu, sektor pendidikan vokasi harus adaptif dan responsif terhadap perubahan kebutuhan dunia kerja,” kata Khofifah, Senin (11/5/2026).
Keterserapan tinggi ini berjalan seiring dengan kecocokan kurikulum sekolah dan kebutuhan Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI). Rata-rata lulusan hanya butuh waktu tunggu tiga bulan sebelum akhirnya direkrut.
“Sektor industri progresif saat ini bergeser ke rekrutmen berbasis skill atau kemampuan nyata, bukan sekadar ijazah. Memperbanyak latihan dan sertifikasi akan membantu siswa SMK Jatim masuk ke DUDI,” tambahnya.
Kepala Dinas Pendidikan Jatim Aries Agung Paewai memiliki pandangan serupa terkait strategi tersebut. Pihaknya terus mencari jalan keluar agar lulusan vokasi langsung terserap ke pabrik atau perusahaan.
“Penguatan dilakukan melalui optimalisasi Teaching Factory, BLUD, uji sertifikasi kompetensi di masing-masing lembaga, hingga penguatan kerja sama sekolah dengan DUDI,” terang Aries.
Dinas Pendidikan kini menyiapkan ribuan siswa tingkat akhir untuk terbang dan magang di luar negeri. Ribuan lulusan lainnya juga masuk antrean keberangkatan sebagai pekerja migran profesional.
“Program-program tersebut merupakan upaya meningkatkan keterserapan lulusan sesuai kebutuhan industri, baik di dalam maupun luar negeri,” papar Aries.
Jika dibedah sesuai sebaran sektor, lulusan Kurikulum Merdeka terbanyak ditarik oleh bidang kemaritiman. Kelompok ini sukses merajai serapan tenaga kerja menggeser sektor energi dan pertambangan.
Meski demikian, tantangan serapan kerja masih menghantui beberapa bidang keahlian. Lulusan produksi film mencatat tingkat pengangguran paling tinggi disusul lulusan teknik pemboran minyak. [ipl/ted]
Link informasi : Sumber