Populasi Sapi di Jember Susut 80 Ribu Ekor, Butuh 10 Tahun untuk Kembali

0

Jember (beritajatim.com) – Populasi sapi potong di Kabupaten Jember, Jawa Timur, saat ini berkurang sedikitnya 29 persen. Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan, dan Perikanan Jember memperkirakan butuh waktu setidaknya sepuluh tahun untuk mengembalikan jumlah populasi itu.

Semula populasi sapi potong di Jember mencapai 275 ribu ekor. Namun, penyakit mulut dan kuku yang mewabah pada 2022 dan 2023 menyebabkan jumlahnya berkurang menjadi 195 ribu ekor. Penyusutan terbanyak terjadi pada 2023.

“Saat terjadi wabah, kesiapan kita untuk segera menangani masih lemah. Kemudian ada panic selling di masyarakat. Saat ada yang kena penyakit, pemilik sapi lain buru-buru menjual karena takut tertular. Kalau sudah kena PMK, harga sapi memang drop, akhirnya segera dijual,” kata Kepala Dinas KPPP Jember Sugiyarto, Sabtu (15/8/2026).

Berkurangnya populasi ini membuat harga sapi potong di Jember naik. “Bagi masyarakat Jember sapi itu rojo koyo. Kalau tidak butuh dana untuk kebutuhan pribadi, mereka tidak akan menjual kendati harganya bagus. Akhirnya hukum pasar berlaku, dan harga naik,” kata Sugiyarto.

Mengembalikan jumlah populasi sapi potong, menurut Sugiyarto, tidak mudah. “Itu harus diawali dengan pengembalian semangat masyarakat untuk beternak lagi, karena kemarin saat rugi semangat atau etos untuk beternak mulai berkurang,” kata Sugiyarto.

Sementara itu, harga sapi saat ini sangat mahal, sehingga tidak terjangkau oleh peternak-peternak kecil yang ingin kembali berusaha. Apalagi, menurut Sugiyarto, masih ada beberapa kasus penyakit sporadis yang memengaruhi animo masyarakat untuk beternak kembali.

Keberadaan 13 pusat kesehatan hewan (puskeswan) di Jember memegang peranan penting untuk melakukan komunikasi dan memberikan informasi, serta edukasi kepada masyarakat agar gairah masyarakat untuk beternak tumbuh kembali.

“Kita juga memberikan informasi tentang pelayanan-pelayanan yang ada, misalnya vaksinasi, gratis kepada masyarakat. Jadi, enggak apa-apa mereka beli sapi atau ternak. Silakan beli, nanti segera dilaporkan sehingga kita bisa beri vaksinasi,” kata Sugiyarto.

Tak ingin pasokan daging di Jember berkurang, Dinas KPPP membuat terobosan dengan tidak lagi hanya mengandalkan jumlah sapi.

“Kami ingin ada intervensi terhadap mutu genetik ternak. Kami sekarang berupaya bagaimana pertumbuhan atau produktivitas ternak bagus, seperti berat ternak yang berusia enam bulan sama dengan ternak yang berumur satu tahun,” kata Sugiyarto. [wir/kun]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.