Sambangi Pabrik PT BMI di Surabaya, Wamenperin Dorong Industri Perikanan Nasional Dobrak Pasar Global

0

Ringkasan Berita

* Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mendorong PT Bumi Menara Internusa (BMI) memperluas penetrasi ekspor hasil olahan laut saat meninjau fasilitas produksi di Surabaya.

* Meskipun produk perikanan Indonesia berdaya saing tinggi di pasar global, Indonesia masih menghadapi tantangan ketat dari produsen utama seperti Ekuador dan India, terutama pada sektor budidaya udang.

* PT BMI menyatakan kesiapannya melipatgandakan kapasitas produksi hingga 100 persen untuk menopang permintaan pasar internasional, khususnya Amerika Serikat yang menyerap 80 persen total ekspor perusahaan.

————————————————————————

Surabaya (beritajatim.com) — Kementerian Perindustrian terus memacu daya saing industri pengolahan hasil perikanan nasional agar lebih agresif mendominasi pasar internasional. Wakil Menteri Perindustrian RI, Faisol Riza, menegaskan komitmen pemerintah tersebut saat meninjau langsung fasilitas produksi PT Bumi Menara Internusa (BMI) di Kawasan Pergudangan Margomulyo, Surabaya, Kamis (27/8/2026).

Dalam kunjungan kerja ke pabrik berorientasi ekspor tersebut, Wamenperin mengapresiasi langkah PT BMI yang konsisten menerapkan standar mutu internasional, sistem keterlacakan (traceability), prinsip keberlanjutan, hingga pemanfaatan teknologi cold chain serta pengemasan hemat energi.

“Kami sudah meninjau langsung proses pengolahannya. BMI terbukti memenuhi standar internasional, sekaligus membantu pemerintah memperluas lapangan kerja dan meningkatkan devisa negara melalui ekspor,” ujar Faisol di sela-sela peninjauan dari lini penerimaan bahan baku hingga pengemasan frozen food.

Meski demikian, Faisol menyoroti tantangan besar yang masih dihadapi Indonesia di komoditas udang. Saat ini, posisi Indonesia masih berada di bawah Ekuador dan India dari sisi volume produksi budidaya.

“Tantangan utama kita ada pada integrasi dari hulu ke hilir (inline). Sektor budidaya di hulu harus diperbaiki bersama-sama agar pasokan bahan baku yang melimpah dapat diserap dan diproses secara cepat,” tegasnya.

Foto BeritaJatim.com

Menanggapi arahan tersebut, Direktur PT BMI, Aris Utama, menyambut positif komitmen pemerintah dalam menghadirkan kebijakan yang mendukung iklim ekspor. Ia optimistis PT BMI siap melipatgandakan volume produksinya demi memenuhi permintaan global.

“Saat ini kapasitas produksi kami mencapai 35 ribu ton per tahun dari tujuh pabrik di seluruh Indonesia dengan 15 ribu tenaga kerja. Angka tersebut baru dari skema satu shift. Dengan iklim yang kondusif, kami sangat siap meningkatkan produksi hingga 100 persen,” ungkap Aris.

Untuk menjaga kestabilan pasokan, PT BMI menyerap hingga 150 ton udang setiap hari dari para petambak mitra yang tersebar di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatra, hingga Sulawesi. Selain itu, perusahaan menjalin kemitraan budidaya rajungan di berbagai daerah, seperti Cirebon, guna memberdayakan ekonomi lokal.

Guna memenuhi preferensi konsumen global, PT BMI juga mengombinasikan pasokan tangkapan laut nasional dari Papua, Medan, dan Makassar dengan impor bahan baku tertentu—seperti ikan asal Alaska—untuk diolah menjadi produk olahan siap saji berkualitas tinggi.

Saat ini, seluruh hasil produksi PT BMI (100 persen) dialokasikan untuk pasar mancanegara, dengan porsi terbesar dikirim ke Amerika Serikat (80 persen), disusul Jepang, Eropa, dan Tiongkok. Komoditas udang mendominasi portofolio ekspor perusahaan hingga 70 persen, disusul gurita, ikan, dan rajungan.[rea]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.