Sourdough, Roti Fermentasi Alami yang Kini Digemari Banyak Orang

0

Surabaya (beritajatim.com)- Di tengah banyaknya roti modern yang dibuat secara instan, sourdough justru semakin populer. Roti dengan tekstur khas dan rasa sedikit asam ini seolah membawa kembali tradisi kuliner zaman dulu. Berbeda dari roti biasa yang memakai ragi pabrikan, sourdough dibuat lewat proses fermentasi alami menggunakan ragi liar dan bakteri asam laktat. Bahannya pun sederhana, hanya tepung, air, dan garam, tetapi di baliknya tersimpan cerita yang menarik.

Lahir dari Ketidaksengajaan di Mesir Kuno

Dalam sejarah, sourdough dikenal sebagai salah satu roti beragi tertua di dunia. Roti ini diperkirakan sudah ada sejak masa Mesir Kuno, sekitar 1500 hingga 2000 tahun sebelum Masehi. Awalnya, adonan tepung dan air yang dibiarkan di udara terbuka tanpa sengaja terkena mikroba alami di sekitar.
Bukannya rusak, adonan tersebut malah mengembang dan menghasilkan roti yang lebih empuk serta harum setelah dipanggang. Menariknya, para peneliti modern bahkan pernah menghidupkan kembali mikroba ragi berusia ribuan tahun yang ditemukan pada bejana kuno Mesir untuk membuat ulang roti kuno yang masih aman dimakan.

Pernah Menjadi Andalan Para Penambang Emas

Pada abad ke-19, sourdough menjadi makanan penting saat masa perburuan emas (Gold Rush) di California dan Alaska. Bagi para penambang, starter sourdough sangat berharga karena bisa menghasilkan makanan yang murah dan tahan lama di cuaca dingin.

Karena suhu malam yang sangat rendah bisa membunuh mikroba di dalam starter, para penambang punya kebiasaan unik. Mereka tidur sambil memeluk wadah starter di dalam kantong tidur agar tetap hangat dan mikroba di dalamnya tetap hidup hingga pagi.

Starter Sourdough Kini Jadi Hobi Banyak Orang

Saat ini, merawat starter sourdough sudah menjadi hobi bagi banyak orang. Karena starter merupakan mikroorganisme hidup yang harus rutin diberi makan dengan tepung dan air, banyak pembuat roti memperlakukannya seperti hewan peliharaan. Tidak sedikit juga yang memberi nama unik pada starter mereka.

Di negara dengan budaya baking kuat seperti Swedia dan Denmark, bahkan ada “hotel ragi”. Tempat ini menjadi tempat penitipan khusus starter sourdough agar tetap dirawat saat pemiliknya pergi berlibur. Banyak orang percaya semakin tua usia starter, maka kualitas rotinya semakin bagus. Namun secara ilmiah, kualitas roti lebih dipengaruhi oleh cara perawatan dan kondisi mikroba saat ini, bukan sekadar usia starter.

Lebih Ramah bagi Pencernaan

Popularitas sourdough juga didukung oleh manfaat kesehatannya. Proses fermentasi yang panjang membantu memecah gula dan pati pada tepung sehingga roti ini memiliki Indeks Glikemik (GI) yang lebih rendah dibanding roti biasa. Karena itu, sourdough tidak terlalu cepat menaikkan gula darah setelah dikonsumsi.

Selain itu, fermentasi juga membantu mengurai sebagian gluten sehingga lebih mudah dicerna, terutama bagi orang dengan sensitivitas gluten non-celiac. Keunggulan lainnya, bakteri dalam sourdough dapat membantu memecah asam fitat pada gandum. Hal ini membuat tubuh lebih mudah menyerap mineral penting seperti zat besi dan kalsium. Kandungan prebiotik alaminya juga baik untuk menjaga kesehatan pencernaan.

Bisa Diolah Menjadi Berbagai Makanan

Meski identik dengan roti bulat berkulit renyah, starter sourdough sebenarnya bisa digunakan untuk banyak jenis makanan. Sisa starter yang tidak terpakai (discard) sering dimanfaatkan menjadi berbagai hidangan lain. Mulai dari pancake, waffle, adonan pizza, hingga muffin dan kue cokelat bisa dibuat menggunakan starter sourdough. Rasa asam khas dari fermentasi alami membuat makanan terasa lebih unik dan kaya rasa. [Meychel Salsabyla]

 


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.