Tak Ingin Terjebak Saling Tuding, Bupati Jember Surati Pertamina
Jember (beritajatim.com) – Antrean panjang di stasiun-stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Jember, Jawa Timur, membuat Bupati Muhammad Fawait bertindak cepat. Tak hanya melayangkan protes resmi, dia juga memberikan saran kepada Pertamina.
“Semalam (Minggu malam, 6 September 2025) saya menyampaikan protes secara resmi kepada Pertamina yang diwakili SBM Jember dan Depo di Banyuwangi,” kata Fawait kepada wartawan, usai sidang paripurna Perubahan APBD 2026, di gedung DPRD Jember, Senin (7/9/2026).
Fawait mengingatkan bahwa Jember sudah tiga kali menghadapi persoalan antrean panjang ini. “Dan masalahnya hampir sama, yaitu masalah jalur distribusi. Seharusnya ini bisa dimitigasi lebih baik lagi,” katanya.
Namun Fawait tidak ingin menyalahkan, melainkan mencari solusi. “Semalam saya sampaikan, kalau memang hari ini masih ada antrean-antrian, maka nanti (Senin) malam saya ajak rapat lagi dan kita harus ambil langkah-langkah taktis, baik dari sisi Pertamina maupun dari sisi Pemerintah Kabupaten Jember,” katanya.
Antrean panjang pembelian bahan bakar minyak, khususnya Pertalite, di SPBU sudah terjadi sejak 31 Agustus 2026. Pemkab Jember kembali bersiap memberlakukan aturan bekerja dari rumah (work from home) dan pembelajaran siswa secara daring, jika antrean di SPBU masih panjang.
Namun berdasarkan laporan yang diterima Bupati Fawait, antrean kali ini tidak sepanjang dua fenomena antrean sebelumnya, yakni saat jalur Gumitir ditutup karena diperbaiki, dan saat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadia menyatakan stok Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional hanya tersisa untuk 20 hingga 21 hari pada awal Maret 2026.
“Saya dapat laporan ternyata tidak seperti yang beberapa kejadian yang lalu. Memang ada antrean tetapi tidak sangat crowded seperti dua kejadian sebelumnya,” kata Fawait.
Ada perbedaan fenomena antrean saat ini dnegan fenomena sebelumnya. “Kalau kejadian kemarin itu kan kombinasi. Bukan cuma masalah distribusi dari Jember ke pelabuhan di Banyuwangi, tapi juga ada dampak masalah perang Timur Tengah,” katanya.
Fawait percaya, antrean kali ini tak akan berkepanjangan. “Ini bukan kejadian nasional, tapi kejadian lokal di wilayah Tapal Kudam sehingga saya pikir dampak ekonominya bisa diminimalisir,” katanya.
Namun doktor ilmu ekonomi lulusan Universitas Airlangga Surabaya ini enggan meremehkan. “Akan saya evaluasi. Kalau memang masih ada antrean nanti malam (malam ini), kita akan undang kembali Pertamina ke Pemkab untuk mencari solusi bersama,” katanya.
Yang jelas, lanjut Fawait, stok BBM di Jember masih aman. “Semalam saya sampaikan ke Pertamina, ke depan harusnya ada solusi bahwa pengiriman untuk wilayah Tapal Kuda jangan cuma mengandalkan dari satu titik saja di Pelabuhan Banyuwangi, tetapi juga harus dari Surabaya dan Malang,” katanya.
Pertamina diharapkan jeli memantau situasi. “Seandainya sudah mulai ada tanda-tanda kemacetan di wilayah Pelabuhan Banyuwangi, harusnya Pertamina sudah bisa mengambil langkah melakukan pengiriman dari Malang dan Surabaya.” katanya.
Semua saran itu disampaikan Pemkab Jember ke Pertamina secara tertulis. “Ke depan tidak boleh lagi hanya mengandalkan satu titik saja yang kondisi jalannya rawan macet. Ada sedikit eh sesuatu terjadi, dia pasti macet dan panjang, sehingga itu akan mengganggu pendistribusian bukan cuma di Jember, tapi di beberapa kabupaten, khususnya di wilayah Tapal Kuda,” kata Bupari Fawait. [wir/ian]
Link informasi : Sumber