Tanam Sayur di Sekolah, Siswa Jatim Panen Cuan Jutaan Rupiah
Ringkasan Berita
- Siswa di Jawa Timur berhasil memanfaatkan lahan kosong sekolah untuk menanam sayuran dan beternak, kemudian menjual hasilnya di pameran ekonomi wilayah. Total transaksi mencapai Rp 5 juta dari 20 jenis produk, termasuk pisang, telur omega, ubi ungu, dan alpukat.
- Dinas Pendidikan Jatim memamerkan hasil Program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) dalam rapat tim pengendali inflasi.
- Keberhasilan siswa Jatim menarik perhatian pejabat dari Banten. Mereka berencana meniru model pengelolaan lahan kosong sekolah untuk menekan harga bahan pokok di wilayah masing-masing.
Surabaya (beritajatim.com) – Siswa sekolah di Jawa Timur (Jatim) berhasil mengubah lahan kosong menjadi sumber penghasilan. Mereka memanen sayuran hingga telur dan menjualnya di pameran ekonomi tingkat wilayah Jawa.
Pameran hasil panen ini berlangsung dalam rapat koordinasi tim pengendali inflasi di Hotel Westin Surabaya, Rabu (13/5/2026). Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim membawa aneka hasil bumi dari Program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP).
Stan SIKAP dipenuhi ragam produk olahan pelajar. Ada pisang Cavendish, telur omega, ubi ungu, alpukat aligator, hingga aneka sayur segar yang mengundang rasa penasaran para peserta rapat.
Karya para siswa ini mendapat sambutan manis. Sebanyak 20 jenis komoditas laku terjual dengan total nilai transaksi mencapai Rp 5 juta. Harganya sangat terjangkau, dibanderol mulai empat ribu sampai empat puluh ribu rupiah.
Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai, menyebut inovasi ini lahir dari gagasan Gubernur Khofifah Indar Parawansa. Para pelajar diajak terjun langsung ke lapangan mengelola lahan pertanian maupun peternakan.
“Program ini tidak hanya berorientasi pada hasil, namun juga menjadi bagian integral dari proses pembelajaran yang kontekstual dan bermakna,” papar Aries.
Aries memastikan proyek mandiri sekolah ini membuat siswa tidak jenuh menyerap teori. Mereka diajak langsung memadukan pelajaran kurikulum dengan realitas di lapangan.
“Kami berharap anak-anak bisa terkoneksi antara materi kurikulum dengan praktik di lapangan. Proses belajar menjadi lebih linier, anak-anak lebih bersemangat dan proaktif, karena mereka tidak hanya duduk di kelas,” jelasnya.
Ajang unjuk karya ini digerakkan oleh Cabang Dinas (Cabdin) Pendidikan wilayah Mojokerto, Tulungagung, Kediri, dan Gresik. SMA Negeri 1 Trawas dan SMK Negeri 1 Cerme menjadi contoh sekolah yang ikut memamerkan hasil bumi mereka.
Keterlibatan SMK Muhammadiyah 1, SMK Manbaul Ulum, hingga SMK Negeri 1 Plosoklaten Kediri turut meramaikan etalase. Seluruh sekolah membawa bukti nyata tentang kemandirian pangan dari halaman kelas.
Gebrakan pelajar Jatim ini langsung mencuri perhatian pejabat luar daerah. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Banten, Budi Santoso, turun langsung mengecek kualitas panen para siswa.
“Hasilnya luar biasa, dengan memanfaatkan lahan-lahan yang kosong di halaman sekolah, ditanami pisang, sayur-sayuran, ada cabai, terong, pare, kacang panjang, dan ini bisa menghasilkan,” puji Budi.
Melihat keberhasilan itu, Budi menilai langkah Dindik Jatim sangat relevan untuk menekan lonjakan harga bahan pokok. Ia berencana menduplikasi ide kreatif mengelola lahan ini ke daerahnya.
“Saya sangat mengapresiasi sekali dan ini akan kami jadikan contoh nanti kalau saya pulang ke Banten. Banyak di Banten lahan yang kosong yang belum kita manfaatkan,” pungkasnya. [ipl/suf]
Link informasi : Sumber