Terisolasi Lahar Semeru, Siswa di Lumajang Harus Digendong Berangkat ke Sekolah

0

Lumajang (beritajatim.com) – Dusun Sumberlangsep di Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, terus-menerus menghadapi ancaman terisolasi setiap kali banjir lahar hujan Gunung Semeru menerjang kawasan Sungai Regoyo.

Dampaknya, anak-anak di wilayah setempat kerap terpaksa meliburkan diri atau bertaruh nyawa lantaran akses transportasi melumpuh akibat tingginya debit air dan material lahar saat hujan deras mengguyur puncak Semeru.

Bahkan ketika genangan banjir lahar mulai surut, perjuangan para pelajar untuk tetap mengenyam pendidikan harus menempuh lintasan berbahaya di sepanjang aliran Sungai Regoyo. Orang tua siswa terpaksa menggendong buah hati mereka guna melintasi derasnya sisa arus lahar.

Foto BeritaJatim.com
Siswa harus digendong saat menyeberang di aliran lahar Semeru untuk berangkat ke sekolah.

Kondisi riskan tersebut dipicu oleh hancurnya sarana jembatan penghubung utama yang terputus diterjang banjir lahar dingin sejak beberapa waktu lalu dan belum terbangun kembali secara permanen.

Melihat fakta di lapangan, Anggota Komisi X DPR RI, Muhammad Purnamasidi, mengaku prihatin atas ancaman keselamatan yang saban hari membayangi para siswa di Dusun Sumberlangsep.

Legislator yang akrab disapa Bang Pur ini menyaksikan secara langsung momen para orang tua berjuang menggendong anaknya menyeberangi sungai saat melakukan kunjungan kerja di lokasi terdampak.

“Ini sangat memprihatinkan. Para siswa harus digendong orang tuanya menyeberangi aliran lahar dingin hanya demi bisa sampai ke sekolah,” ujar Purnamasidi di tepi aliran Sungai Regoyo, Rabu (4/11/2026).

Foto BeritaJatim.com
Bang Pur saat melihat para siswa asal Dusun Sumberlangsep menyeberang di aliran lahar Semeru untuk berangkat ke sekolah.

Dorong Kebijakan Pendidikan Berbasis Kesiapsiagaan Bencana

Purnamasidi menilai semangat belajar para murid di pelosok Lumajang tersebut patut mendapat apresiasi tinggi. Oleh sebab itu, negara wajib hadir untuk menjamin hak-hak dasar anak dalam memperoleh akses pendidikan yang aman dan layak.

“Pelayanan pendidikan tidak boleh terhenti. Apalagi anak-anak kita memiliki semangat belajar yang amat luar biasa di tengah keterbatasan,” tegasnya.

Bang Pur mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk merumuskan formulasi serta strategi penanganan khusus mengingat fenomena bencana lahar dingin ini merupakan ancaman tahunan yang polanya relatif berulang.

Secara khusus, ia meminta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memberikan atensi serius terhadap penataan infrastruktur dan skema pembelajaran di wilayah rawan bencana.

“Pola dan waktu ancaman bencana yang berulang ini harus dijadikan basis utama dalam perumusan kebijakan pendidikan berbasis kesiapsiagaan bencana, sehingga keselamatan siswa tetap terpelihara tanpa mengorbankan hak belajar mereka,” pungkasnya. [has/but]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.