Tutup Rakernas Kemenhaj, Wamenhaj Dahnil Tegaskan Jemaah Bukan Komoditas
Jakarta (beritajatim.com) – Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, menegaskan bahwa seluruh aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Kementerian Haji dan Umrah wajib menjaga integritas mutlak dengan menghentikan segala bentuk praktik rente. Komitmen ini diperlukan demi menghadirkan sistem pelayanan haji yang bersih dan bermartabat.
Pernyataan keras tersebut disampaikan saat dirinya menutup secara resmi agenda Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji 1447 H/2026 M sekaligus Retret Kemenhaj di Lapangan Makodau I, Jakarta, Minggu (6/7/2026).
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan, penutupan forum ini menjadi babak baru bagi kementerian untuk melakukan pembenahan internal secara radikal pada lini pelayanan domestik maupun internasional.
Dalam arahannya, Dahnil menyampaikan apresiasi tinggi kepada jajaran Kepala Kanwil, Kantor Kemenhaj Kabupaten/Kota, hingga pengelola asrama haji selaku garda terdepan kesuksesan operasional haji tahun ini. Namun, ia mengingatkan agar seluruh jajaran segera menyudahi euforia pujian.
“Terima kasih kepada seluruh Kepala Kanwil, Kepala Kantor Kemenhaj Kabupaten/Kota, dan Kepala Asrama haji. Saudara sekalian adalah ujung tombak kesuksesan penyelenggaraan haji tahun 2026. Banyak apresiasi yang telah kita terima. Namun sebagaimana disampaikan Bapak Menhaj, cukup sudah pujian dan apresiasi. Kini saatnya kita terus mengoreksi diri dan berbenah tanpa henti. Yang harus selalu menjadi fokus kita adalah bekerja sepenuhnya untuk jemaah haji Indonesia,” kata Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak.
Dahnil menjabarkan terdapat tiga amanah besar yang kini dipikul kolektif oleh Kemenhaj, yakni amanah dari Allah SWT, amanah dari rakyat Indonesia, serta amanah langsung dari Presiden Republik Indonesia. Guna mengejawantahkan amanah tersebut, kementerian mengusung visi “Tri Sukses Haji” sebagai kompas pembangunan haji nasional.
Aspek pertama adalah sukses ritual, yakni jaminan mitigasi agar jemaah dapat beribadah secara aman, nyaman, dan khusyuk dari hulu ke hilir. Kedua, sukses ekosistem ekonomi haji, yang berfokus pada pemanfaatan nilai perputaran ekonomi makro haji agar berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat di Tanah Air.
Aspek ketiga adalah sukses peradaban dan keadaban. Melalui momentum ibadah suci ini, ASN Kemenhaj diharapkan mampu mencontoh keteladanan integritas para tokoh bangsa terdahulu seperti H.O.S. Tjokroaminoto, Agus Salim, Ahmad Dahlan, dan Hasyim Asy’ari.
Lebih lanjut, Dahnil memperingatkan secara terbuka bahwa era kelembagaan Kemenhaj yang baru dibentuk ini harus menjadi penanda berakhirnya ekosistem koruptif. Ia menginstruksikan pembersihan ruang-ruang manipulasi birokrasi dan penyalahgunaan wewenang dalam bentuk apa pun.
“Kalau ada kementerian yang seharusnya benar-benar bersih dari praktik manipulasi dan praktik rente, maka kementerian itu adalah Kemenhaj. Mimpi terbesar mayoritas umat Islam Indonesia adalah bisa menunaikan ibadah haji. Jika amanah itu dikhianati, maka yang dikhianati bukan hanya rakyat, tetapi juga amanah Allah dan diri kita sendiri,” tegas Dahnil secara lugas.
Menurutnya, jemaah haji tidak boleh lagi ditempatkan sebagai objek bisnis komersial oleh oknum internal maupun eksternal, melainkan harus diposisikan sebagai subjek transformasi peradaban Islam.
“Jangan pernah menjadikan jemaah haji dan umrah sebagai komoditas. Mereka bukan objek untuk diperdagangkan atau dimanfaatkan. Mereka adalah subjek perubahan, subjek transformasi peradaban dan keadaban. Era Kemenhaj adalah era yang mengakhiri praktik menjadikan jemaah sebagai komoditas,” ujarnya.
Menutup pidatonya, Wamenhaj menyampaikan pesan khusus dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Kepala Negara menginginkan agar manajemen pengelolaan haji Indonesia mampu memproyeksikan citra positif umat Islam yang disiplin, modern, dan maju di mata internasional.
Dengan jumlah antrean jemaah haji reguler yang saat ini menembus angka lebih dari 5,7 juta orang, seluruh jajaran birokrat Kemenhaj dituntut untuk bertransformasi menjadi diplomat bangsa yang berintegritas tinggi melalui performa layanan yang berkualitas.
“Presiden ingin menyampaikan kepada dunia bahwa kiblat wajah Islam yang damai, disiplin, dan memajukan hadir dari Indonesia. Karena itu, saudara semua harus menjadi diplomat bangsa yang membawa kebaikan bagi umat melalui pelayanan haji yang berkualitas,” pungkasnya. [ian/MCH]
Link informasi : Sumber