Yonif TP Bantu Air Bersih ke Dusun Terpencil di Tambakrejo Pacitan
Pacitan (beritajatim.com) – Krisis air bersih di Kabupaten Pacitan terus meluas. Warga Dusun Klisat, Desa Tambakrejo, Kecamatan Pacitan, kini mengandalkan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Kondisi tersebut terjadi setelah sumber air yang selama ini digunakan warga mulai mengering. Sedikitnya 20 kepala keluarga (KK) di wilayah tersebut kesulitan mendapatkan air bersih, terutama selama musim kemarau.
Warga langsung menyiapkan jerigen, ember, dan berbagai wadah penampung ketika dua truk tangki bantuan air bersih tiba di dusun tersebut. Bantuan berasal dari Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 934/Satria Buana Yudha (SBY) dan UPT Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tamperan.
Komandan Yonif TP 934/SBY Mayor Infanteri Dian Nur Huda mengatakan, masing-masing truk tangki membawa 5.000 liter air bersih. Dengan demikian, total bantuan yang disalurkan mencapai 10.000 liter.
“Kita dapat bantuan dari tangki air UPT Pelabuhan Tamperan satu tangki berisi 5.000 liter, dan dari Yonif TP sendiri satu tangki juga berisi 5.000 liter. Jadi total ada dua truk tangki, masing-masing berisi 5.000 liter,” kata Dian, Kamis (10/9/2026).
Menurutnya, penyaluran air bersih tersebut menjadi penting karena debit sumber air di wilayah Desa Tambakrejo menurun selama musim kemarau.
“Di saat musim kemarau saat ini, dengan debit air yang kurang di wilayah Desa Tambakrejo, ini menjadi hal yang sangat penting dan sangat diperlukan,” lanjutnya.
Krisis air bersih bukan kali pertama dialami warga Dusun Klisat. Setiap musim kemarau, warga di wilayah yang berada di kawasan perbukitan tersebut kerap mengalami kesulitan mendapatkan air.
Saat musim penghujan, warga lebih banyak mengandalkan tampungan air hujan. Namun, ketika kemarau tiba dan persediaan air menipis, mereka harus mencari sumber air lain atau menunggu bantuan.
Salah seorang warga, Sunarti, mengatakan sumber mata air di wilayahnya berada cukup dalam sehingga sulit dimanfaatkan ketika musim kemarau. Kondisi itu membuat warga terkadang harus membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Air sebanyak 3.000 liter saya beli Rp225 ribu. Biasanya habis dalam dua minggu. Kalau sudah habis, ya mengandalkan tandon kalau ada bantuan,” kata Sunarti.
Upaya menyediakan sumber air permanen juga belum membuahkan hasil. Sumur bor yang sebelumnya dibuat pemerintah desa kini tidak mampu memenuhi kebutuhan warga karena debit airnya sangat terbatas.
“Pompa sumur bor kalau dihidupkan lima menit sudah habis airnya,” pungkasnya. (tri/ian)
Link informasi : Sumber