68 SPPG Bondowoso Kantongi SLHS, Pengawasan Tetap Berjalan

0

Bondowoso (beritajatim.com) – Sebanyak 68 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Bondowoso telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Namun, kepemilikan sertifikat tersebut tidak membuat pengawasan terhadap dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berhenti.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso memastikan seluruh SPPG yang telah mendapatkan SLHS tetap berada dalam pengawasan melalui inspeksi kesehatan lingkungan (IKL) secara berkala.

Kepala Dinkes Bondowoso, dr. Mohammad Jasin, mengatakan pengawasan berkelanjutan diperlukan untuk memastikan standar kebersihan dan keamanan pangan yang menjadi dasar penerbitan SLHS tetap diterapkan setelah sertifikat diterbitkan.

“Selama ini Dinas Kesehatan dilibatkan dalam tiga hal, yaitu penerbitan SLHS, inspeksi kesehatan lingkungannya, dan melihat dampaknya terhadap penerima manfaat atau siswa. Yang kami lakukan sebenarnya sekaligus menjadi bentuk pengawasan sebelum sertifikat diterbitkan,” ujar Jasin.

Menurutnya, sebelum memperoleh SLHS, setiap SPPG harus memenuhi sedikitnya 12 persyaratan. Di antaranya kelengkapan administrasi, pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan, serta hasil inspeksi kesehatan lingkungan.

Namun, setelah sertifikat terbit, pengelola SPPG tetap dituntut mempertahankan standar tersebut.

“Kami berharap kepada mitra maupun penanggung jawab SPPG agar tetap mempertahankan hasil pembinaan dan rekomendasi yang telah diberikan. Jangan sampai setelah sertifikat terbit, standar kebersihan dan keamanan pangannya justru menurun,” tegasnya.

Dinkes bersama petugas sanitasi lingkungan di masing-masing puskesmas akan melakukan pengawasan secara rutin maupun mendadak. Inspeksi kesehatan lingkungan ulang juga dijadwalkan setiap enam bulan.

“Setelah sertifikat terbit bukan berarti selesai. Kami tetap melakukan pengawasan, baik rutin maupun mendadak. Bahkan setiap enam bulan akan dilakukan inspeksi kesehatan lingkungan ulang agar kualitas layanan dan keamanan makanan bagi siswa tetap terjaga,” pungkas Jasin.

Titik Rawan Ada di Proses Produksi

Penerapan standar higiene setelah SLHS terbit juga menjadi perhatian di tingkat dapur SPPG. Salah satunya SPPG Bondowoso Badean 2.

Kepala SPPG Bondowoso Badean 2, Yulia Linda Lestari, mengatakan setelah memperoleh SLHS, pengelolaan dapur semakin ditata melalui pencatatan dan dokumentasi setiap proses kerja.

“Pengawasan dan pengelolaan SPPG semakin tertata karena ada dokumentasi berupa pencatatan dan foto,” kata Yulia.

Namun, menurutnya, tantangan terbesar bukan sekadar memenuhi persyaratan ketika pemeriksaan berlangsung. Tantangannya adalah menjaga agar standar tersebut tetap dijalankan oleh seluruh relawan setiap hari.

Karena itu, briefing dilakukan sebelum tim mulai bekerja. Setiap bagian diingatkan mengenai tanggung jawab menjaga kebersihan ruangan. Setelah pekerjaan berlangsung, terdapat tim kebersihan yang kembali memastikan kondisi ruangan tetap bersih.

Sejumlah aturan juga diberlakukan kepada relawan. Mereka diwajibkan menjaga kebersihan rambut dan kuku, mencuci tangan sebelum masuk ruang produksi, serta tidak menggunakan telepon seluler di area produksi.

Relawan yang bekerja di ruang produksi juga diwajibkan menggunakan alat pelindung diri (APD), seperti masker, celemek, dan hairnet.

Pengawasan terhadap aktivitas relawan dilakukan langsung oleh pengelola. Yulia mengatakan dirinya berkeliling memeriksa proses kerja sekitar setiap 30 menit hingga satu jam.

“Setiap hari selalu dicek proses produksi dari penerimaan bahan hingga distribusi,” ujarnya.

Suhu Makanan hingga Kontaminasi Silang

SPPG Badean 2 juga memiliki pemeriksaan internal sebelum makanan didistribusikan. Salah satunya melalui formulir pemeriksaan suhu masakan.

Selain suhu, makanan diperiksa secara organoleptik dengan melihat rasa, warna, dan bau.

Bahan makanan yang datang juga diperiksa secara fisik. Bahan yang dinilai tidak segar atau kualitasnya meragukan akan dipisahkan dan diminta untuk diganti kepada pemasok.

Menurut Yulia, terdapat sejumlah tahapan yang menjadi titik rawan dalam produksi makanan MBG. Di antaranya proses memasak, pendinginan, penggunaan peralatan, hingga distribusi.

Makanan harus dipastikan matang sempurna. Pada tahap pendinginan, makanan harus ditangani dengan benar karena berpotensi menjadi tempat berkembangnya bakteri.

Pemisahan alat yang digunakan untuk bahan mentah dan makanan matang juga menjadi perhatian untuk mencegah kontaminasi silang.

“Saat pengolahan pastikan bahan matang sempurna, saat pendinginan makanan rawan bakteri, alat mentah dan matang jangan sampai tertukar. Suhu makanan saat distribusi juga diperhatikan,” jelasnya.

Untuk menjaga makanan tetap aman hingga diterima siswa, waktu antara proses pengolahan dan distribusi diupayakan tidak terlalu lama. Wadah makanan juga harus tertutup rapat.

SOP Tak Hanya Saat Ada Pemeriksaan

Yulia mengatakan kedisiplinan relawan menjadi salah satu tantangan dalam mempertahankan standar higiene. Karena itu, SOP ditempel di sejumlah titik agar mudah dibaca dan diingat.

Jika ada relawan yang tidak menjalankan prosedur, pengelola memberikan teguran dan edukasi. Dalam kondisi tertentu, surat peringatan dapat diberikan.

“Memberikan contoh kepada relawan menggunakan APD dengan baik dan membuat surat peringatan apabila relawan tidak mematuhi,” katanya.

Ia mengaku pernah menemukan proses kerja yang belum sesuai SOP. Tindakan yang dilakukan adalah memberikan teguran langsung sekaligus edukasi kepada relawan.

Pengawasan dilakukan setiap hari, mulai dari bahan diterima hingga makanan selesai didistribusikan. Dengan pola tersebut, Yulia menyatakan SPPG Badean 2 siap jika sewaktu-waktu dilakukan inspeksi mendadak.

“Siap karena setiap hari SOP kami jalankan,” ujarnya.

Bagi Yulia, SLHS bukan sekadar sertifikat yang diterima setelah memenuhi persyaratan. Standar yang menjadi dasar penerbitan sertifikat tersebut harus menjadi prosedur kerja sehari-hari.

“SLHS bukan hanya sebagai piagam tetapi prosedur yang harus kami lakukan dan pertahankan setiap hari,” tegasnya.

Keluhan dari penerima manfaat juga menjadi bagian dari evaluasi. Jika terdapat laporan terkait makanan melalui grup sekolah, pihak SPPG akan menindaklanjutinya dengan evaluasi dan perbaikan SOP.

Yulia mengatakan pihaknya berkomitmen menjaga tiga hal utama, yakni keamanan bahan makanan, kedisiplinan relawan, dan kelengkapan dokumentasi.

“Kami memasak tidak asal-asalan. Kami menggunakan prinsip aman, gizi, dan halal. Kalau ada masukan silakan langsung sampaikan kepada kami,” pungkasnya. (awi/ian)


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.