Ahmad Doli Minta Pemerintah Awasi Konten Kekerasan di Media Sosial dan Gim Anak
Surabaya (beritajatim.com) – Anggota Komisi II DPR RI Ahmad Doli Kurnia Tandjung meminta pemerintah meningkatkan pengawasan terhadap paparan konten kekerasan di media sosial dan permainan digital yang dapat diakses anak-anak. Menurut dia paparan tersebut perlu menjadi perhatian serius karena berpotensi memengaruhi cara anak memandang dan merespons tindakan kekerasan.
Doli menyampaikan hal itu saat mengunjungi keluarga Zulkarnain, anak disabilitas berusia 10 tahun yang meninggal dunia dalam kasus dugaan perundungan di kawasan Tambak Medokan Ayu, Surabaya, Jumat (23/10/2026).
Menurutnya, pencegahan kekerasan terhadap anak tidak cukup hanya mengandalkan penegakan hukum, tetapi juga membutuhkan pengawasan terhadap lingkungan digital tempat anak berinteraksi.
“Ini sekarang juga banyak game-game yang ada di kita. Saya pernah lihat satu game yang mengajari bagaimana cara menggunakan pisau untuk membunuh orang. Mungkin bagi orang dewasa tidak ada pengaruhnya, tetapi bagi anak-anak mungkin itu berpengaruh,” ujar Doli.
Ia menilai konten digital yang menampilkan kekerasan perlu mendapat perhatian dari pemerintah, orang tua, dan pihak terkait. Pengawasan diperlukan agar anak tidak menganggap tindakan kekerasan sebagai sesuatu yang biasa dalam kehidupan sehari-hari.
Doli menegaskan, persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan oleh satu lembaga saja karena berkaitan dengan pendidikan, perlindungan anak, pembentukan karakter, dan pengawasan keluarga. Karena itu, ia mendorong koordinasi lintas sektor untuk memperkuat upaya pencegahan sejak dini.
“Ini masalah kompleks dan harus diselesaikan lintas sektoral. Manusia itu tidak cukup hanya dikasih makan saja, tetapi harus cerdas, harus berkarakter, jiwanya bersih, dan segala macam,” tegasnya.
Selain mendorong peran pemerintah, Doli mengingatkan orang tua agar lebih memperhatikan aktivitas dan pergaulan anak, termasuk ketika menggunakan media sosial maupun bermain gim. Menurutnya, pengawasan harus dilakukan untuk mencegah anak menjadi korban sekaligus menghindarkan mereka dari perilaku yang merugikan orang lain.
Ia menilai kesibukan orang tua dan kurangnya perhatian terhadap perubahan perilaku anak dapat membuat persoalan tidak terdeteksi sejak awal. Karena itu, keluarga perlu membangun komunikasi yang baik agar anak memiliki ruang untuk menyampaikan masalah yang dialami.
“Tolong jaga anak-anak kita. Jaganya dua, jaga supaya jangan jadi korban dan juga jaga supaya jangan jadi pelaku,” kata Doli.
Doli mengatakan telah berkomunikasi dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Ia juga menyebut perlunya keterlibatan anggota DPR yang membidangi pendidikan dan perlindungan sosial untuk membangun gerakan pencegahan kekerasan terhadap anak.
Menurutnya, pendidikan karakter harus berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan fisik dan pendidikan formal. Anak membutuhkan lingkungan yang aman, pendampingan, serta pengawasan yang memadai dalam proses tumbuh kembangnya.
“Anak-anak ini wajah masa depan Indonesia. Kalau anak-anak ini tidak kita bantu, tidak kita rawat, dan tidak kita jaga, kita tentu tidak mau masa depan Indonesia diwarnai semakin banyaknya tindakan kekerasan,” pungkasnya. [asg/ian]
Link informasi : Sumber