Harga Pakan Naik, Telur Anjlok, Peternak Ayam Petelur di Ngawi Gulung Tikar

0

Ngawi (beritajatim.com) – Gelombang penutupan usaha mulai menghantui sentra peternakan ayam petelur di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Kenaikan harga pakan yang terus terjadi di tengah anjloknya harga jual telur membuat banyak peternak tak lagi mampu bertahan.

Sejumlah kandang kini dibiarkan kosong setelah pemiliknya memutuskan menghentikan usaha demi menghindari kerugian yang terus membesar.

Kondisi tersebut terlihat di Desa Ploso, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi, Rabu (1/7/2026). Deretan kandang ayam yang sebelumnya dipenuhi ribuan ayam petelur kini tampak lengang. Sebagian peternak memilih tidak lagi mengisi kandang karena biaya produksi dinilai jauh lebih tinggi dibandingkan pendapatan dari penjualan telur.

Lonjakan harga pakan menjadi penyebab utama. Harga pakan ayam petelur kini mencapai Rp455.500 per sak berisi 50 kilogram, naik dari sebelumnya Rp408 ribu per sak.

Pada saat bersamaan, harga telur di tingkat peternak justru turun menjadi sekitar Rp19 ribu per kilogram, dari sebelumnya berada di kisaran Rp23 ribu lebih per kilogram.

Situasi tersebut membuat margin keuntungan peternak tergerus. Bahkan, tidak sedikit yang mengaku mengalami kerugian setiap hari sehingga memilih menghentikan aktivitas peternakan.

Salah seorang peternak, Ratnawati (45), mengatakan keputusan mengosongkan kandang merupakan pilihan yang paling realistis setelah usahanya terus merugi. Menurutnya, kondisi serupa juga dialami banyak peternak lain di desanya dalam dua bulan terakhir.

Ratnawati mengatakan, “Harga pakan terus naik dan harga telur anjlok maka saya memilih untuk berhenti, kandang saya kosongkan daripada terus merugi.”

Ia menuturkan, banyak peternak di Desa Ploso akhirnya gulung tikar karena tidak lagi sanggup menutup biaya operasional. Sementara itu, sebagian peternak lainnya masih berusaha bertahan dengan mencari pasar baru agar telur yang diproduksi tidak menumpuk di gudang.

Salah satunya dilakukan Rokhim (59), peternak ayam petelur asal desa yang sama. Jika sebelumnya telur hanya dipasarkan di wilayah Sragen, Jawa Tengah, kini ia harus memperluas pemasaran hingga Kaliurang, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Namun, upaya tersebut belum mampu memperbaiki kondisi usaha. Selain harga jual yang tetap rendah, pembayaran dari pembeli juga tidak diterima secara langsung. Peternak harus menunggu hingga tiga hari untuk menerima hasil penjualan, sehingga arus kas usaha semakin terganggu.

Rokhim mengatakan, “Saya jual telur hingga ke Kaliurang, sebelumnya hanya di wilayah Sragen. Semakin berat, harga pakan naik, telur tak laku dijual. Sebagian bertahan tertatih-tatih, lainnya gulung tikar.”

Kondisi ini menjadi pukulan berat bagi peternak ayam petelur skala kecil maupun menengah. Ketika biaya pakan terus meningkat sementara harga telur tidak mampu mengikuti kenaikan biaya produksi, peternak kesulitan menjaga keberlangsungan usahanya. Di sisi lain, keterlambatan pembayaran dari pembeli turut memperburuk kemampuan peternak dalam membeli pakan maupun memenuhi kebutuhan operasional sehari-hari.

Desa Ploso sendiri dikenal sebagai salah satu sentra peternakan ayam petelur di Kecamatan Kendal. Tercatat terdapat sekitar 60 peternak ayam petelur di desa tersebut dengan populasi berkisar 2.000 hingga 10.000 ekor ayam per peternak. Namun, dalam beberapa bulan terakhir jumlah peternak yang menghentikan usaha terus bertambah akibat tekanan biaya produksi dan lemahnya harga telur di tingkat peternak.

Apabila kondisi ini terus berlangsung, bukan hanya keberlangsungan usaha peternak yang terancam, tetapi juga berpotensi memengaruhi pasokan telur dari sentra produksi lokal. Para peternak berharap harga pakan dapat kembali stabil dan harga telur di tingkat peternak membaik sehingga usaha yang masih bertahan tidak ikut menyusul gulung tikar. [fiq/ted]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.