Kemarau Bikin Waduk Dawuhan Madiun Menyusut

0

Madiun (beritajatim.com) – Musim kemarau mulai berdampak pada ketersediaan air untuk pertanian di Kabupaten Madiun. Volume air di Waduk Dawuhan, Desa Plumpungrejo, Kecamatan Wonoasri, kini menyusut drastis hingga tersisa sekitar 15 persen dari kapasitas normal.

Kondisi tersebut membuat pasokan air untuk lahan pertanian mulai terbatas. Terlebih, dalam beberapa waktu terakhir tidak ada lagi aliran air dari sungai yang masuk ke waduk, sementara cuaca panas membuat penguapan berlangsung lebih cepat.

Petugas Operasi Waduk Dawuhan, Agung Wirasat, menyebut volume air yang tersisa saat ini sekitar 520 ribu meter kubik. Padahal, kapasitas tampung maksimal waduk mencapai 3,9 juta meter kubik.

Menurutnya, penyusutan terjadi cukup cepat karena tidak ada lagi tambahan air dari hulu.

“Sekarang inflow dari atas sudah tidak ada. Jadi tidak ada air yang masuk ke waduk. Ditambah kondisi cuaca yang sangat panas, penguapannya juga cukup tinggi,” kata Agung, Rabu (9/9/2026).

Minimnya ketersediaan air membuat pengelola waduk harus mengatur ulang distribusi untuk irigasi. Saat ini, debit air yang dilepas dari Waduk Dawuhan hanya sekitar 0,1 meter kubik per detik.

Dengan debit tersebut, air hanya dapat dialirkan ke lima desa dengan cakupan lahan pertanian sekitar 600 hektare. Pasokan tersebut diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan tanaman padi pada awal Masa Tanam (MT) 3.

“Untuk saat ini memang kami batasi debitnya. Dengan kondisi volume yang tinggal sekitar 15 persen, air harus diatur supaya masih bisa digunakan untuk tanaman yang baru masuk awal masa tanam,” jelasnya.

Padahal dalam kondisi normal, Waduk Dawuhan menjadi salah satu sumber pengairan bagi lahan pertanian di sekitar 10 desa dengan luasan mencapai 12 ribu hektare.

Pengelola waduk memperkirakan distribusi air untuk irigasi hanya dapat bertahan sekitar 10 hari ke depan. Setelah itu, pintu air diperkirakan mulai ditutup ketika volume waduk berada di kisaran 300 ribu meter kubik.

Penutupan tersebut bukan berarti air di Waduk Dawuhan akan dikuras hingga habis. Sebagian volume justru sengaja dipertahankan untuk menjaga kondisi fisik bendungan.

Agung mengatakan, tubuh bendungan tidak boleh dibiarkan dalam kondisi terlalu kering. Sebab, perubahan kondisi tersebut berisiko memicu keretakan hingga kerusakan pada struktur bendungan.

“Sekitar 10 hari ke depan kami masih berupaya mengalirkan air, terutama untuk tanaman padi yang berada di awal masa tanam. Setelah volumenya mencapai sekitar 300 ribu meter kubik, pintu akan kami tutup,” ujarnya.

“Air itu tidak akan kami keluarkan sampai habis. Sebagian harus tetap disisakan untuk menjaga kondisi tubuh bendungan agar tidak terlalu kering dan tetap aman,” imbuh Agung.

Sementara itu, menyusutnya permukaan Waduk Dawuhan mulai dimanfaatkan sejumlah warga sekitar. Area waduk yang sebelumnya terendam kini mulai terbuka sehingga warga dapat mencari ikan di bagian yang mengering.

Tak hanya itu, sebagian lahan di sekitar waduk yang mulai mengering juga terlihat dimanfaatkan warga untuk menanam padi.

Meski volume air terus menyusut, pengelola memastikan Waduk Dawuhan tidak akan dikeringkan hingga titik nol. Penyisaan air tetap dilakukan sebagai langkah pemeliharaan sekaligus menjaga keamanan struktur bendungan di tengah kondisi cuaca yang panas dan minimnya pasokan air. (rbr/ian)


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.