Bank Jatim Cetak Laba Rp1,2 Triliun, Aset Konsolidasi Tembus Rp162 Triliun hingga Semester I 2026

0

Ringkasan Berita:

  • Bank Jatim mencatat laba bersih konsolidasi sekitar Rp1,2 triliun hingga Triwulan II 2026, tumbuh 53,4 persen secara tahunan.
  • Aset konsolidasi Bank Jatim mencapai Rp162 triliun atau tumbuh 37,16 persen yoy, dengan penyaluran kredit Rp111 triliun.
  • Bank Jatim memperkuat likuiditas, dana murah, transaksi digital, penyaluran kredit selektif, dan sinergi Kelompok Usaha Bank (KUB).
  • Memasuki Semester II 2026, Bank Jatim menargetkan pertumbuhan bisnis tetap berjalan dengan menjaga kualitas aset dan membuka sumber pertumbuhan baru.

Surabaya (beritajatim.com) – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk atau Bank Jatim terus memperkuat fundamental bisnis dan transformasi perusahaan di tengah dinamika perekonomian global dan nasional. Hingga Triwulan II 2026, kinerja konsolidasi Bank Jatim menunjukkan pertumbuhan solid dengan aset mencapai Rp162 triliun dan laba bersih sekitar Rp1,2 triliun.

Kinerja tersebut disampaikan dalam kegiatan Public Expose Bank Jatim Tahun 2026 yang digelar secara daring pada Rabu (9/9/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari keterbukaan dan pertanggungjawaban Bank Jatim kepada publik, investor, serta seluruh pemangku kepentingan.

Direktur Utama Bank Jatim Winardi Legowo mengatakan, Bank Jatim terus beradaptasi terhadap perkembangan bisnis dan kebutuhan masyarakat. Adaptasi tersebut dilakukan melalui penguatan tata kelola dan manajemen risiko, optimalisasi bisnis berbasis ekosistem, pengembangan sumber daya manusia (SDM), akselerasi teknologi dan digitalisasi, serta penguatan sinergi dalam Kelompok Usaha Bank (KUB).

“Transformasi Bank Jatim memang terus diarahkan untuk membangun organisasi yang semakin adaptif, sehat, dan berorientasi pada pertumbuhan berkelanjutan,” ujarnya.

Winardi mengatakan, kondisi perekonomian pada 2026 masih menghadapi sejumlah tantangan. Dari sisi global, tantangan tersebut meliputi ketegangan geopolitik, perang dagang, risiko pangan dan energi, serta dinamika nilai tukar dan harga komoditas.

Sementara di dalam negeri, tekanan berasal dari pengetatan likuiditas, daya beli masyarakat yang masih tertahan, maraknya pinjaman online ilegal dan judi online, serta meningkatnya kualitas aset bermasalah, terutama pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Meski menghadapi berbagai tekanan, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih memiliki daya tahan yang baik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia per Juni 2026 tercatat sebesar 5,29 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Sementara itu, ekonomi Jawa Timur tumbuh kumulatif sebesar 5,84 persen, dengan kontribusi 25,40 persen terhadap perekonomian Pulau Jawa dan 14,34 persen terhadap perekonomian Indonesia.

Di tengah kondisi tersebut, Bank Jatim menerapkan strategi terukur dengan fokus pada pengelolaan likuiditas, pertumbuhan kredit secara selektif, efisiensi, peningkatan transaksi digital, serta pengendalian kualitas aset sesuai risk appetite perusahaan.

Direktur Keuangan & Tresuri Bank Jatim Wahyukusumo Wisnubroto menuturkan, hingga Triwulan II 2026 total aset konsolidasi Bank Jatim mencapai Rp162 triliun. Angka tersebut tumbuh 37,16 persen yoy dan terutama ditopang peningkatan aset produktif.

Dari sisi penyaluran kredit, Bank Jatim mencatat kredit konsolidasi mencapai Rp111 triliun atau tumbuh 41,68 persen yoy. Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) konsolidasi mencapai Rp120 triliun, meningkat 31,47 persen yoy.

Pertumbuhan bisnis tersebut turut mendorong pendapatan bunga bersih Bank Jatim menjadi sekitar Rp4,6 triliun, tumbuh 39,5 persen yoy. Adapun laba bersih konsolidasi mencapai sekitar Rp1,2 triliun atau meningkat 53,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Pertumbuhan kinerja konsolidasi ini merupakan salah satu hasil dari implementasi aksi korporasi serta penguatan sinergi Bank Jatim bersama anggota KUB. Ke depan, kami akan terus mengoptimalkan sinergi tersebut untuk menciptakan sumber pertumbuhan baru,” jelas Wahyukusumo.

Penguatan sinergi KUB menjadi salah satu strategi Bank Jatim untuk mengembangkan bisnis dan layanan. Sinergi tersebut mencakup peningkatan transaksi internasional melalui bisnis remittance dan Trading Processing Agent, layanan safekeeping custodian untuk transaksi surat berharga, penyediaan Bank Notes, serta joint services untuk e-channel dan sistem pembayaran.

Sinergi juga dikembangkan dalam penyediaan layanan perbankan bagi nasabah dengan profil khusus serta pembiayaan kepada Aparatur Sipil Negara (ASN). Melalui berbagai kerja sama tersebut, Bank Jatim berupaya membangun ekosistem bisnis yang saling melengkapi dan memberikan nilai tambah bagi nasabah, pemegang saham, serta pemangku kepentingan.

Secara bank only, hingga Juli 2026 Bank Jatim mencatat total aset sebesar Rp98 triliun. Penyaluran kredit mencapai Rp66,4 triliun, sedangkan DPK berada di level Rp72,9 triliun.

Di tengah strategi rebalancing bisnis dan kondisi ekonomi yang menantang, Bank Jatim secara bank only masih mampu membukukan laba bersih Rp802 miliar atau tumbuh 1,76 persen yoy.

Wahyukusumo mengatakan, kontraksi DPK antara lain dipengaruhi berkurangnya Transfer ke Daerah. Untuk menghadapi kondisi tersebut, Bank Jatim terus memperkuat sumber dana murah dari masyarakat.

Strategi tersebut dilakukan melalui peningkatan transactional banking, ekspansi layanan digital JConnect Mobile, program pemasaran seasonal, serta pengembangan ekosistem bersama berbagai business partner. Bank Jatim juga memperluas akses layanan melalui pengembangan Agen Laku Pandai serta penambahan jaringan ATM dan CRM.

“Penguatan ekosistem digital menjadi salah satu strategi utama kami untuk meningkatkan utilitas layanan, memperluas akuisisi nasabah, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sumber dana tertentu. Kami ingin menjadikan ekosistem yang sudah kuat sebagai entry point untuk menangkap peluang pasar baru,” ungkap Winardi.

Dari sisi kredit, Direktur Ritel & Syariah Bank Jatim Tonny Prasetyo mengatakan kondisi daya beli dan permintaan kredit yang masih konservatif membuat perseroan menerapkan strategi penyaluran kredit secara lebih selektif dengan tetap mengutamakan kualitas aset.

Per Juli 2026, total kredit Bank Jatim secara bank only mencapai Rp66,4 triliun, terkontraksi 2,6 persen yoy. Meski demikian, segmen konsumtif, terutama kredit berbasis payroll, masih menunjukkan prospek pertumbuhan positif.

“Segmen konsumtif, khususnya kredit berbasis payroll, masih menunjukkan prospek pertumbuhan yang positif. Oleh karena itu, kami terus mengembangkan layanan yang dapat meningkatkan nilai tambah bagi nasabah sekaligus memperkuat pangsa pasar,” paparnya.

Pada segmen produktif, portofolio kredit Bank Jatim mencakup segmen mikro, ritel dan menengah, serta korporasi. Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi salah satu kontributor penting pada segmen mikro, sementara Jatim Ritel menjadi kontributor utama pada segmen ritel dan menengah.

Untuk menjaga kualitas kredit, Bank Jatim menerapkan langkah preventif dan kuratif. Upaya tersebut meliputi evaluasi kualitas kredit, penguatan fungsi account officer dan risk, restrukturisasi, pengelolaan kredit bermasalah, perbaikan proses bisnis, peningkatan kompetensi SDM, serta monitoring dan controlling secara berkala.

Selain memperkuat bisnis, Bank Jatim juga terus menjalankan komitmen terhadap prinsip keberlanjutan. Pada 2025, penyaluran kredit kepada usaha berwawasan lingkungan mencapai Rp5,40 triliun.

Komitmen keberlanjutan tersebut juga diwujudkan melalui berbagai program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR di bidang pendidikan, kesehatan, budaya, sosial, serta pelestarian lingkungan hidup.

Memasuki Semester II 2026, Bank Jatim akan terus memperkuat fundamental dengan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas aset. Fokus perusahaan mencakup optimalisasi likuiditas, peningkatan dana murah, penguatan transaksi digital, ekspansi bisnis berbasis ekosistem, penyaluran kredit secara selektif, pengendalian kualitas aset, serta penguatan sinergi bersama anggota KUB.

“Bank Jatim akan terus mengambil langkah yang tepat dan terukur untuk menjaga pertumbuhan bisnis dengan tetap mengedepankan kualitas aset. Kami optimistis berbagai strategi yang telah disiapkan dapat membuka peluang pertumbuhan baru dan membawa Bank Jatim mencapai kinerja yang melampaui target,” tutur Winardi.

Bank Jatim berkomitmen terus memberikan kinerja terbaik bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan. Perseroan juga memperkuat perannya sebagai mitra strategis pemerintah daerah sekaligus penggerak perekonomian Jawa Timur. [rea/beq]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.