Bupati Bondowoso Dorong Pesantren Mandiri, Wakaf Produktif Jadi Mesin Ekonomi Baru
Bondowoso (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Bondowoso mendorong pesantren untuk mengembangkan sumber pembiayaan yang lebih mandiri melalui pengelolaan wakaf produktif dan pengembangan berbagai unit usaha.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi pesantren di tengah tantangan pendidikan dan perubahan ekonomi yang terus berkembang.
Hal itu disampaikan Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid saat membuka Seminar Sinergi Membangun Ekosistem ZISWAF Produktif Pesantren yang Mandiri dan Berkelanjutan di Pendopo Kabupaten Bondowoso, Sabtu (20/6/2026).
Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Pemerintah Kabupaten Bondowoso bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember.
Dalam sambutannya, Ra Hamid menegaskan pesantren memiliki peran strategis dalam kehidupan masyarakat. Selain menjadi pusat pendidikan keagamaan, pesantren juga berfungsi sebagai pusat pembentukan karakter, dakwah, pemberdayaan masyarakat, serta benteng moral dan sosial.
Menurutnya, pesantren di Bondowoso telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, penguatan pesantren juga menjadi bagian dari upaya memperkuat pembangunan daerah secara menyeluruh.
Namun, Hamid mengakui pesantren saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kebutuhan peningkatan mutu pendidikan, pembangunan sarana dan prasarana, penguatan kompetensi santri, hingga tuntutan digitalisasi tata kelola.
“Pembiayaan bukan sekadar persoalan uang, melainkan instrumen strategis untuk membangun masa depan pesantren. Pesantren membutuhkan sistem pembiayaan yang berkelanjutan dan mandiri,” ujarnya.
Selama ini, sebagian besar pesantren masih mengandalkan iuran santri, donasi masyarakat, dan bantuan pemerintah. Menurut Hamid, pola tersebut tetap penting, namun perlu dilengkapi dengan model pembiayaan yang mampu menciptakan kemandirian ekonomi dalam jangka panjang.
Karena itu, Pemkab Bondowoso mendorong penguatan pembiayaan pesantren berbasis komunitas dengan melibatkan alumni, jamaah, pelaku usaha, lembaga keuangan syariah, akademisi, hingga komunitas sosial.
Dalam kesempatan itu, Bupati juga menyoroti besarnya potensi ZISWAF produktif sebagai instrumen ekonomi Islam yang dapat dimanfaatkan untuk membangun kemandirian pesantren.
“Tantangan kita hari ini bukan hanya bagaimana menghimpun ZISWAF, tetapi bagaimana mengelolanya secara produktif. Kita harus menggeser orientasi dari pola konsumtif menuju pola produktif,” katanya.
Ia menjelaskan, wakaf produktif dapat dikembangkan menjadi lahan pertanian, pusat perdagangan, rumah produksi, maupun unit usaha pesantren yang mampu menghasilkan pendapatan berkelanjutan. Sementara zakat, infak, dan sedekah dapat diarahkan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat serta peningkatan kapasitas santri.
Selain itu, Bupati Hamid mendorong pesantren untuk mengembangkan berbagai unit usaha produktif yang sesuai dengan potensi lokal. Mulai dari sektor pertanian, peternakan, perdagangan, industri kreatif, ekonomi digital, hingga pengembangan produk halal.
“Pesantren perlu didorong menjadi pusat kewirausahaan sosial yang mampu menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat,” ungkapnya.
Menurut Hamid, alumni pesantren juga merupakan aset besar yang dapat berperan dalam memperkuat kemandirian ekonomi pesantren melalui dukungan modal, jejaring usaha, transfer pengetahuan, hingga kemitraan strategis.
Di era digital, pesantren juga didorong memanfaatkan teknologi untuk memperkuat tata kelola keuangan. Pemanfaatan QRIS, platform donasi digital, sistem pembayaran digital, dan sistem informasi keuangan dinilai mampu meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana.
“Semakin transparan pengelolaan keuangan pesantren, semakin tinggi tingkat kepercayaan masyarakat. Semakin tinggi kepercayaan masyarakat, semakin besar pula partisipasi yang akan diberikan kepada pesantren,” jelasnya.
Hamid menegaskan penguatan pesantren bukan hanya agenda keagamaan, tetapi juga bagian dari strategi pembangunan daerah. Karena itu, pemerintah daerah akan terus memperkuat kolaborasi dengan Bank Indonesia, lembaga keuangan syariah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan lembaga amil zakat.
Ia optimistis pesantren yang mandiri secara ekonomi akan melahirkan santri yang mandiri, masyarakat yang berdaya, serta menjadi fondasi bagi terwujudnya Bondowoso yang maju, religius, sejahtera, dan berdaya saing. (awi/kun)
Link informasi : Sumber