Cak Eri Sulap THR Jadi Pusat Industri Kreatif
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berupaya menghidupkan kembali Hi-Tech Mall. Bangunan yang sebelumnya dikenal sebagai pusat perdagangan elektronik tersebut, sudah ditata kembali untuk pengembangan industri kreatif, pelaku UMKM, komunitas, serta generasi muda.
Wali Kota Eri Cahyadi mengatakan, tahap awal area yang dibuka meliputi ruang bawah tanah/rubanah (basement) dan lantai dasar. Menghadirkan penjual makanan, pelaku usaha custom motor dan mobil, serta berbagai komunitas kreatif lokal.
Pemkot juga tengah menuntaskan pembangunan gedung pertemuan 3.500 meter persegi, ditargetkan rampung Agustus. Fasilitas tersebut dirancang untuk pameran dan acara dalam ruangan. Termasuk acara pernikahan.
Pada tahap berikutnya, pengembangan lantai satu dan dua akan difokuskan untuk menarik lebih banyak investor dengan menghadirkan beragam fasilitas: area e-sport, simulator mobil e-sport, dan ruang kolaborasi kreatif.
Upaya Pemkot ini tentu perlu memperhatikan berbagai sisi, mulai dari strategi pemasaran hingga kenyamanan fisik. Salah satu kendala utama adalah citra mal yang dianggap sudah tutup. Perlu ada kampanye besar-besaran dari Pemkot bahwa THR Mall masih buka dan memiliki konsep baru.
Saat ini banyak stan kosong, terutama di sektor IT. Untuk mengatasinya, perlu ada strategi seperti memberikan insentif atau kebijakan sewa yang sangat menarik. Bahkan mungkin gratis sementara, untuk mengisi kekosongan. Khususnya gerai baru sesuai dengan konsep: pelaku kuliner, industri kreatif, dan komunitas.
Citra lama sebagai mal yang kotor, gelap, dan tak terawat harus dihilangkan. Perbaikan total pada fasad, pilar, serta fasilitas publik seperti lift dan eskalator adalah langkah awal untuk menciptakan kesan baru yang modern dan nyaman.
Konsep Science, Creative, and Technology Hub membutuhkan ekosistem yang kuat. Menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi, BRIN, dan berbagai komunitas kreatif akan sangat membantu dalam menciptakan kegiatan dan atraksi yang menarik bagi anak muda.
Mengubah Citra
Secara keseluruhan, kesuksesan revitalisasi ini bergantung pada komitmen untuk mengubah citra dan menciptakan ekosistem yang hidup. Bukan hanya renovasi fisik. Dengan pendekatan yang tepat, THR Mall berpotensi kembali menjadi destinasi kebanggaan warga Surabaya.
Ada pesimisme yang muncul atas upaya baik ini. Beralasan. Sebaiknya tetap menjadi perhatian penting. Kekhawatiran bahwa menghidupkan THR Mall justru bisa menguras energi dan sumber daya yang lebih dibutuhkan UMKM di luar sana bukan tanpa dasar. Ini terutama karena di dalam mall pun, nasib UMKM sedang tidak baik-baik saja.
Ada beberapa poin krusial yang mendasari kekhawatiran ini, sekaligus “pekerjaan rumah” besar bagi Pemkot. Pedagang di THR Mall mengeluhkan program revitalisasi yang hanya menjadi wacana tanpa realisasi nyata. Kondisi ini membuat mereka merasa “digantung” dan khawatir mal akan benar-benar mati.
Di dalam THR Mall, masalahnya kompleks. Mulai dari banyaknya stan kosong (hanya sekitar 60-80 dari total yang aktif), sepinya pengunjung hingga omzet yang turun drastis, serta citra negatif di masyarakat yang menganggap mal ini sudah tutup.
Pedagang menuntut terobosan lebih berani. Misalnya promosi resmi oleh Pemkot, insentif tambahan, atau bahkan kebijakan sewa gratis sementara untuk mengisi stan kosong. Jika fokus hanya pada fisik, paradoks “gedung ada, ekosistem tak terbangun” yang dikritik seniman bisa terulang.
Intinya, sebelum THR Mall bisa menjadi motor penggerak bagi UMKM lain, fondasi di dalamnya harus benar-benar kokoh dulu. Keberhasilan menghidupkan THR Mall akan menjadi bukti nyata komitmen dan strategi Pemkot dalam memberdayakan UMKM secara berkelanjutan.
Membangun Kepercayaan
Membangun ekosistem kreatif, bukan sekadar gedung. Ini kritik paling mendasar. Ada kekhawatiran yang diungkapkan oleh pelaku seni, jangan sampai revitalisasi hanya menghasilkan “gedung ada, ekosistem tak terbangun”.
Artinya, harus ada program dan komunitas yang mengisi. Strategi Pemkot untuk mengubahnya menjadi “Creative Hub” dengan menggandeng komunitas kreatif serta memindahkan ruang coworking dan perpustakaan ke dalam mall adalah langkah ke arah yang benar.
Fondasi lainnya adalah komitmen jangka panjang. Proyek ini harus berkelanjutan. Terbukti, program pendampingan serius untuk UMKM di Surabaya menargetkan 5.250 pelaku usaha per tahun dengan fokus pada legalitas, pemasaran, dan peningkatan omzet. THR Mall harus menjadi bagian dari ekosistem yang lebih besar ini.
Jadi, “fondasi” ini adalah tentang membangun kepercayaan (citra), komunitas (ekosistem), dan kepastian (program berkelanjutan).
Bukan Seremonial
Agar transformasi ini berjalan sukses dan tidak sekadar menjadi proyek seremonial, berikut adalah beberapa aspek krusial yang sebaiknya diperhatikan Pemkot Surabaya. Mengubah mal retail menjadi pusat kreativitas membutuhkan pendekatan yang berbeda total dari manajemen mal konvensional.
Mal kreatif hidup dari aktivitas. Harus ada agenda rutin yang jelas—seperti turnamen e-sport, pameran otomotif custom, lokakarya industri kreatif, hingga pertunjukan seni pelajar di lantai 3.
Manajemen gedung harus bertindak sebagai kurator yang memastikan perpaduan antara tenant komersial (F&B, brand lokal) dan komunitas kreatif berjalan selaras dan saling mendukung.
Ruang yang keren tidak akan bertahan jika pelaku usaha di dalamnya tidak menghasilkan profit. Untuk brand lokal baru, UMKM, atau komunitas seni, Pemkot sebaiknya menerapkan sistem bagi hasil atau subsidi silang pada tahap awal.
Pemkot perlu mengintegrasikan program ini dengan jejaring bisnis yang lebih luas, sehingga produk kerajinan, custom, maupun digital yang lahir dari sini bisa mendapatkan akses pasar nasional maupun internasional.
Karena mengusung tema teknologi, e-sport, dan sains di lantai 1 dan 2, infrastruktur fisik harus benar-benar andal.
Rencana pemanfaatan lantai 2 dan 3 untuk ruang seni budaya serta panggung pertunjukan diharapkan bisa menjembatani modernitas dan tradisi. Menampilkan seni tradisional dengan kemasan digital justru bisa menjadi daya tarik unik yang membedakan THR Mall dari pusat kreatif di kota lain.
Kunci keberhasilan proyek ini ada pada kolaborasi organik. Pemkot Surabaya sebaiknya bertindak sebagai fasilitator dan menyerahkan pengelolaan aktivitas harian atau aktivasi kreatif kepada pelaku komunitas profesional yang lebih memahami dinamika anak muda saat ini. (ted)
Link informasi : Sumber