Cyberbullying Intai Remaja Bojonegoro, Survei Ungkap 52,5 Persen Siswa Pernah Menyaksikannya
Ringkasan Berita:
- Survei PDPM Bojonegoro terhadap 1.282 siswa menunjukkan 52,5 persen pernah menyaksikan cyberbullying.
- Sebanyak 25 persen responden masuk kategori berisiko tinggi akibat minimnya pemahaman penanganan dan pemulihan.
- Mayoritas siswa juga memiliki kebiasaan penggunaan gawai berlebihan, termasuk berselancar hingga larut malam.
- PDPM, Dinas Kominfo Bojonegoro, dan ExxonMobil Cepu Limited memperkuat program literasi digital bagi siswa dan guru.
Bojonegoro (beritajatim.com) – Ancaman perundungan siber (cyberbullying) masih menjadi persoalan serius yang membayangi remaja di Kabupaten Bojonegoro. Survei yang dilakukan Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Bojonegoro terhadap 1.282 siswa SMA dan SMK menunjukkan lebih dari separuh responden pernah menyaksikan langsung praktik cyberbullying di ruang digital.
Hasil survei mengungkap sebanyak 52,5 persen responden mengaku pernah melihat aksi perundungan siber. Dari jumlah tersebut, sekitar 25 persen masuk dalam kategori berisiko tinggi karena minimnya pemahaman mengenai penanganan maupun proses pemulihan korban.
Temuan tersebut juga memperlihatkan tingginya intensitas penggunaan perangkat digital di kalangan pelajar. Sebanyak 83,5 persen siswa terbiasa menggunakan gawai hingga larut malam, sementara lebih dari separuh responden menghabiskan waktu di depan layar lebih dari empat jam setiap hari.
Melihat kondisi tersebut, PDPM Bojonegoro menggandeng berbagai pihak untuk memperkuat literasi digital di kalangan pelajar dengan dukungan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), SKK Migas, dan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.
Ketua PDPM Bojonegoro, M. Imam Akbar Al Haromein, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari pelibatan dan pengembangan masyarakat yang didukung EMCL dan SKK Migas. Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan lagi akses terhadap internet, melainkan membangun budaya digital yang sehat.
“Data ini mengonfirmasi bahwa tantangan utama remaja kita bukan lagi masalah akses internet, melainkan bagaimana membentuk perilaku digital yang sehat, aman, dan etis,” kata Ketua PDPM Bojonegoro, M. Imam Akbar Al Haromein, Kamis (6/8/2026).
Sebagai tindak lanjut, pada 4–5 Agustus 2026 PDPM Bojonegoro menggelar Kampanye Praktik Baik Siswa dan Pendampingan Guru. Kegiatan tersebut melibatkan lebih dari 600 siswa dan guru perwakilan dari 20 SMA dan SMK yang berasal dari wilayah barat, tengah, dan timur Kabupaten Bojonegoro.
Dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Bojonegoro, Arif Afandy, memberikan pembekalan mengenai pentingnya kesiapan generasi muda menghadapi perkembangan teknologi digital.
“Kita harus punya bekal untuk bisa menjadi pemenang dalam kemajuan teknologi ini, jangan mau jadi objek,” ujar Arif.
Menurutnya, pelajar saat ini merupakan generasi digital native yang tumbuh bersama perkembangan teknologi. Karena itu, teknologi informasi tidak bisa dihindari, melainkan harus dimanfaatkan secara bijak.
“Masyarakat tidak perlu menghindari teknologi informasi dan dunia digital. Tetapi, orang tua dan guru harus membekali anak-anak dengan pengetahuan, pemahaman, serta mentalitas untuk memenangkan persaingan di dalamnya,” tegasnya.
Hal senada disampaikan perwakilan EMCL, Almaliki Ukay Sukaya Subqy. Praktisi komunikasi yang akrab disapa Malik itu menilai literasi digital menjadi fondasi penting dalam membangun generasi yang mampu menghadapi tantangan era digital.
Menurutnya, dukungan EMCL terhadap Program Literasi Digital Cerdas dan Sehat untuk Remaja 2026 merupakan bentuk komitmen industri hulu migas dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia di Bojonegoro.
“Ini adalah komitmen industri hulu migas dalam dunia pendidikan untuk menciptakan program yang memberi manfaat berkelanjutan bagi masyarakat Bojonegoro,” tuturnya.
Malik menjelaskan program tersebut telah berjalan sejak April 2026 dengan fokus melatih dan mendampingi guru maupun siswa di 20 sekolah. Para peserta nantinya diproyeksikan menjadi agen literasi digital di sekolah masing-masing sehingga dampaknya dapat terus berlanjut.
“Peserta yang terpilih akan menjadi agen literasi digital bagi sekolah masing-masing dan tidak berhenti pada murid, namun juga guru yang akan terus mendampingi siswa dari tahun ke tahun,” tambahnya.
Salah seorang peserta, Devons Defaniel Waruwu, siswa kelas XI SMA Katolik Ignatius Slamet Riyadi Bojonegoro, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru selama mengikuti pelatihan.
Menurut Devons, materi mengenai literasi digital dan keamanan bermedia sosial disampaikan dengan cara yang mudah dipahami sehingga mendorong peserta lebih sadar terhadap risiko dunia digital, termasuk ancaman cyberbullying.
“Di sini saya melihat komitmen dan kepedulian ExxonMobil yang tidak hanya berfokus pada industri energi, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kualitas SDM melalui literasi digital,” tutup Devons. [dya/beq]
Link informasi : Sumber