Soroti Pengelolaan KBS, Pakar UK Petra Gagas Experiential Tourism dan Membership Edukasi
Surabaya (beritajatim.com) — Peningkatan jumlah pengunjung tidak selalu menjadi jaminan keberhasilan sebuah destinasi wisata. Bagi Kebun Binatang Surabaya (KBS), tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana membuat setiap kunjungan terasa berbeda dan berkesan. Di tengah tren wisata berbasis pengalaman (experiential tourism), KBS dinilai memiliki peluang besar untuk bertransformasi menjadi destinasi edukasi modern yang tidak hanya mengandalkan penjualan tiket masuk.
Didirikan pada 31 Agustus 1916, KBS telah menjadi salah satu ikon wisata tertua di Indonesia. Selama puluhan tahun, kebun binatang ini menjadi tujuan favorit warga Surabaya maupun wisatawan dari berbagai daerah. Namun, di tengah semakin beragamnya pilihan destinasi wisata, inovasi menjadi kebutuhan agar daya tarik KBS tetap relevan.
Program Coordinator Creative Tourism Universitas Kristen Petra (UK Petra), Devi Destiani Andilas, S.E., MM.Par., menilai potensi KBS jauh lebih besar dibanding sekadar tempat melihat koleksi satwa. Menurutnya, kekuatan utama yang bisa dikembangkan adalah pengalaman wisata yang melibatkan pengunjung secara langsung.
“Kebun binatang konvensional memang selama ini mengandalkan tiket masuk dan atraksi sederhana. Padahal, kalau melihat konsep experiential tourism, masih banyak pengalaman yang bisa diciptakan sehingga pengunjung tidak merasa datang ke tempat yang sama dengan aktivitas yang sama,” ujarnya.

Salah satu gagasan yang ditawarkan adalah menghadirkan program behind the scene tour. Melalui konsep ini, pengunjung tidak hanya berjalan menyusuri kandang satwa, tetapi juga diajak mengenal bagaimana proses pengelolaan kebun binatang berlangsung di balik layar.
Devi mencontohkan konsep serupa yang diterapkan di Jakarta Aquarium, di mana pengunjung dapat melihat aktivitas staf dalam merawat satwa hingga proses pemberian pakan.
“Di KBS konsep seperti ini bisa dikembangkan menjadi edukasi profesi. Pengunjung dapat melihat bagaimana keeper bekerja, bagaimana satwa dirawat, hingga proses pemeriksaan kesehatannya. Pengalaman seperti ini akan jauh lebih memorable,” jelasnya.
Menurutnya, konsep interaksi dengan satwa juga perlu ditingkatkan. Selama ini kegiatan memberi makan satwa umumnya hanya sebatas melempar wortel atau sayuran. Padahal, pengalaman tersebut dapat dikembangkan menjadi aktivitas edukatif yang lebih mendalam.
Misalnya, pelajar dan mahasiswa dapat diajak melihat proses penyusunan nutrisi satwa, memahami kebutuhan gizi setiap spesies, hingga menyaksikan simulasi penyiapan pakan bersama petugas.
“Kalau pengunjung dilibatkan dalam prosesnya, mereka akan memperoleh pengalaman sekaligus pengetahuan. Ini tentu jauh lebih bernilai daripada sekadar memberi makan satwa,” katanya.
Tak hanya menghadirkan pengalaman baru, Devi juga melihat peluang besar pada segmen wisata edukasi melalui sistem membership berbasis kurikulum sekolah.
Berdasarkan pengamatannya, banyak sekolah di Surabaya dan sekitarnya yang rutin mengadakan kunjungan edukasi. Sayangnya, sebagian besar kunjungan masih bersifat satu kali tanpa kesinambungan materi pembelajaran.
Karena itu, ia menyarankan agar tim pemasaran KBS menyusun paket keanggotaan khusus sekolah yang disesuaikan dengan kurikulum pendidikan.
“Tim pemasaran perlu membedah kurikulum sekolah. Misalnya kelas dua SD sedang belajar metamorfosis, maka aktivitas di KBS disesuaikan dengan materi tersebut. Semester berikutnya bisa tentang rantai makanan atau reptil. Sekolah bisa membeli paket lima kali kunjungan dalam setahun dengan tema berbeda sehingga pembelajaran lebih berkelanjutan,” paparnya.
Selain memberi manfaat bagi siswa, sistem tersebut juga dinilai mampu menciptakan pendapatan yang lebih stabil karena sekolah memiliki jadwal kunjungan rutin sepanjang tahun.
Di sisi lain, Devi menilai KBS tidak harus menambah lahan baru untuk meningkatkan daya tarik wisata. Optimalisasi area yang sudah tersedia justru menjadi peluang besar untuk menghadirkan berbagai produk wisata baru.
Menurutnya, manajemen dapat menghadirkan acara tematik atau seasonal event secara berkala, seperti tur koleksi kerangka satwa, edukasi konservasi, hingga kisah pemakaman satwa yang dikemas secara menarik dan terbatas pada periode tertentu.
“Kalau ada program tematik yang berganti setiap beberapa bulan, masyarakat akan punya alasan untuk datang kembali. Mereka tidak merasa melihat hal yang sama setiap berkunjung,” ujarnya.
Area terbuka KBS yang luas juga dinilai berpotensi dikembangkan sebagai lokasi penyelenggaraan acara perusahaan, komunitas, maupun kegiatan keluarga. Pendapatan dari penyewaan area dapat menjadi sumber pemasukan tambahan di luar tiket masuk.
Devi menegaskan, inovasi produk wisata menjadi salah satu kunci agar destinasi mampu bertahan di tengah perubahan tren pariwisata. Wisatawan saat ini tidak hanya mencari tempat untuk dikunjungi, tetapi juga pengalaman yang memberikan kesan, pengetahuan, dan cerita untuk dibagikan.
Melalui pengemasan produk wisata yang lebih kreatif, penerapan konsep experiential tourism, serta pengembangan program membership edukasi, KBS dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata edukasi unggulan di Jawa Timur. (fyi/aje)
Link informasi : Sumber