Diksi Maharaya Festival, Bedah Makna Menghormati Tari
Sumenep (beritajatim.com) – Puluhan penari dan penata tari bertemu dan berbincang bersama tentang makna menghormati tari dan menjaga tari sebagai warisan budaya.
Diskusi Tari (Diksi) tersebut merupakan rangkaian dari ‘Maharaya Festival’ 2026 yang digelar di depan ‘Labang Mesem’ Keraton Sumenep.
Inisiator Maharaya Festival, Nur Khalis mengatakan, ‘Diksi’ ini diharapkan menjadi ruang untuk merumuskan kembali makna menghormati tari dalam konteks Indonesia hari ini.
Menurutnya, seni tari dalam beberapa tahun belakangan ini berkembang pesat melalui festival, industri kreatif, hingga media digital. Namun di saat yang sama, muncul berbagai tantangan seperti hilangnya konteks dalam penyajian, lemahnya perlindungan terhadap karya, hingga menurunnya ruang apresiasi yang berkualitas.
“Itu menunjukkan bahwa penghormatan terhadap tari tidak cukup dimaknai sebagai penghargaan kepada penari atau pertunjukan tari semata. Penghormatan harus ditempatkan sebagai strategi kebudayaan yang memastikan ekosistem tari tumbuh secara sehat,” ujarnya.
‘Diksi’ tersebut menghadirkan Magister Tari, Sri Cicik Handayani, kemudian Ketua Komite Tari Dewan Kesenian Jawa Timur, Sri Mulyani, dan Budayawan Sumenep, Ibnu Hajar.
“Diskusi ini tidak hanya membahas bagaimana menjaga tradisi tari, tetapi juga bagaimana membangun ekosistem yang memberi ruang hidup bagi seniman, dan mendorong inovasi yang berakar pada nilai budaya. Selain itu, menjadikan tari sebagai aset peradaban yang tetap relevan di tengah perubahan jaman,” ucapnya.
Maharaya Festival 2026 mengusung tema “Gelombang dari Pesisir”. Festival ini digelar pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Kabupaten Sumenep. Festival ini menjadi bagian dari Sumenep Calendar of Event 2026 dengan melibatkan praktisi dan akademisi tari, komunitas dan sanggar seni, pelaku UMKM, masyarakat, serta Pemerintah Kabupaten Sumenep. (tem/ian)
Link informasi : Sumber