Fase Puncak Haji Sukses, Irjen Kemenhaj Ingatkan Petugas Jangan Cepat Berpuas Diri
RINGKASAN BERITA:
- Inspektur Jenderal Kemenhaj Mayjen TNI (Purn) Dendi Suryadi menyatakan operasional puncak haji di Armuzna secara umum berjalan lancar.
- Manajemen pergerakan massal dari hotel Makkah menuju Arafah, Muzdalifah, hingga evakuasi Mina berhasil dikendalikan dengan baik.
- Sisa jemaah pengambil pilihan Nafar Tsani dijadwalkan rampung diangkut keluar dari Mina menuju Makkah pada Sabtu siang ini.
- Irjen Kemenhaj menegaskan misi perlindungan negara baru benar-benar selesai setelah kloter terakhir mendarat di tanah air pada 2 Juli.
Makkah (beritajatim.com) – Inspektur Jenderal Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia, Mayjen TNI (Purn) Dendi Suryadi, memberikan penilaian bahwa pelaksanaan fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) tahun ini secara umum berjalan lancar dan sukses. Kendati mencatatkan rekor kepuasan yang tinggi, lini pengawasan internal negara meminta seluruh korps petugas tidak cepat berpuas diri.
Kelancaran sirkulasi dan rekayasa pergerakan massal ratusan ribu jemaah antar-kawasan suci menjadi indikator utama keberhasilan operasional terpadu di bawah kendali kementerian mandiri ini. Ketepatan waktu evakuasi dinilai berhasil meminimalkan risiko kelelahan fisik jemaah di tengah ancaman fluktuasi cuaca panas Arab Saudi.
“Secara umum, walaupun ada hambatan-hambatan sedikit, kita sudah bisa melaksanakan pelayanan ibadah ritual dengan baik, khususnya pergeseran jemaah dari hotel-hotel di Makkah menuju Arafah, kemudian ke Muzdalifah dan Mina,” ujar Dendi Suryadi saat memberikan keterangan pers di kawasan Jamarat, Mina.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, Sabtu (30/5/2026) siang, suasana di area perkemahan Mina kini memasuki fase pembersihan akhir. Setelah gelombang raksasa Nafar Awal berhasil dievakuasi masuk ke hotel Makkah kemarin, konsentrasi petugas siang ini beralih sepenuhnya pada pemulangan sisa jemaah yang mengambil pilihan Nafar Tsani.
Dendi menjelaskan, dinamika di lapangan menunjukkan bahwa mayoritas jemaah Indonesia musim ini lebih memilih mengambil opsi Nafar Awal untuk mempercepat durasi istirahat di hotel. Faktor tersebut secara signifikan mengurangi beban kepadatan volume kendaraan pada jalur keluar Mina pada hari terakhir Tasyrik.
Otoritas pengawasan transportasi Kemenhaj menargetkan seluruh jemaah Nafar Tsani yang baru saja merampungkan lontaran ula, wustha, dan aqabah, sudah bersih terangkut meninggalkan Mina selepas waktu dzuhur. Skenario pengosongan maktab ini dipantau ketat secara digital agar tidak ada jemaah mandiri yang tercecer dari rombongan kloter.
“Besok (hari ini, red), kami harapkan setelah dzuhur semua sudah terangkut karena ternyata hari ini (kemarin, red) lebih banyak yang melakukan nafar awal,” kata purnawirawan jenderal bintang dua tersebut menegaskan target pembersihan wilayah.
Transparansi Keluhan Jemaah
Menyikapi adanya riak-riak di lapangan, mantan perwira tinggi militer tersebut secara transparan mengakui masih ditemukannya sejumlah keluhan dari jemaah haji reguler. Namun, berdasarkan audit klinis tim inspektorat, seluruh kendala yang muncul di lapangan murni bersifat minor dan sama sekali tidak mengganggu arsitektur penyelenggaraan ibadah secara makro.
Kelancaran operasional berskala masif ini diklaim sebagai buah dari solidnya kolaborasi bilateral. Apresiasi tinggi dilayangkan kepada korps petugas adhoc PPIH, komisi pengawas DPR, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh, hingga jajaran Kementerian Haji lokal Kerajaan Arab Saudi yang sangat responsif di jalur Jamarat.
“Kami banyak dibantu oleh berbagai pihak sehingga tugas-tugas pelayanan kepada jemaah dapat berjalan dengan baik,” ucap Dendi melayangkan terima kasih kepada seluruh elemen pendukung.
Kendati demikian, Irjen Kemenhaj melemparkan peringatan keras agar atmosfer keberhasilan ini tidak membuat jajaran petugas terlena dan menurunkan tensi kesiapsiagaan. Tantangan operasional berikutnya justru terletak pada fase hilir, yakni manajemen pemulangan jemaah gelombang pertama dan penataan tawaf wadah.
Negara menegaskan bahwa indikator kesuksesan sejati tidak diukur dari lembaran piagam penghargaan di Arab Saudi, melainkan dari keselamatan jemaah hingga kembali ke pelukan keluarga. Lini perlindungan jamaah harus tetap dikunci dalam posisi siaga satu sampai penerbangan terakhir mendarat selamat di tanah air.
“Saya minta teman-teman jangan berpuas hati dan berpuas diri. Tugas kita selesai ketika kloter terakhir atau kloter 527 mendarat di Indonesia yang dijadwalkan pada 2 Juli mendatang,” pungkas Dendi mengunci cetak biru target penutupan misi haji era Presiden Prabowo Subianto. [ian/MCH]
Link informasi : Sumber